Strategi dan Taktik Kreatif Memakai Instagram Terbaru

Perbaiki content dan strategi memakai Instagram, baru cari follower. Ini dia trik memakai Instragram lebih kreatif, berdasarkan algoritma terbaru.

Orang mengalami ketergantungan pada media sosial, karena menanggapi pemicu-tindakan, dan perulangan-tanpa henti. Dari sinilah perubahan-perilaku berasal dan follower datang. 
Banyak artikel berbicara tentang perilaku pemakai media sosial yang berubah. Pandangan negatif mengatakan, media sosial bisa membuat orang meluangkan waktu terlalu lama, mereka menawarkan antidote, namun sering melupakan penyebab-efektif dari kebergantungan terhadap media sosial.

Tidak Ada Tindakan Follow tanpa Pemicu-Tindakan

Tidak ada perilaku tanpa pemicu tindakan. Perilaku orang berubah jika ada ajakan-bertindak, terutama yang dimasukkan ke dalam desain. Semua media sosial memiliki trigger (pemicu) yang tertanam dalam desain. Tanpa pemicu, orang tidak mau bertindak. Jika pemicu ini tertanam tanpa terlihat jelas, orang tidak menyadarinya dan masuk ke dalam loop (pengulangan) tanpa-henti.

HOOK, PERULANGAN TANPA-SADAR. Orang bertindak dan perilakunya berubah, bukan karena paksaan, tetapi karena ketersediaan pemicu untuk bertindak yang selalu berulang-ulang. (Credit: Nir Eyal)

Nir Eyal memperkenalkan “hook”. Media sosial, termasuk game dan email, selalu memakai desain yang menjebak konsumen, membawa orang kepada lingkaran 4-tahap: trigger (pemicu), action (tindakan), reward (hadiah, balasan), dan investment.

Seperti apakah bentuk pemicu ini? Notifikasi (pemberitahuan) di aplikasi, lampu berkedip, pemberitahuan ada Like dan Comment baru, itulah pemicunya. Scroll ke bawah tanpa henti, jika mencapai kejenuhan orang akan diseret pada 2 kemungkinan: menggunakan Search dan Explore, atau upload content. Sebagaimana penerapan “loop” (pengulangan) dan jebakan agar betah bermain game, media sosial juga punya sistem “reward” seperti dalam game: kawanmu menyukai postinganmu, kawanmu “juga” upload content serupa, kamu ditandai dalam foto, lihat siapa saja kawanmu yang pernah singgah di restoran ini. Kabarkan kepada Teman Dekat dan keluarga.

Pemicu, kemudian mengarahkan pemakai kepada perintah, seperti dalam penggunaan: “call-to-action” (CTA, “beli sekarang”), button (tombol, “kirim pesan”), atau swap (usap, pada galeri foto).

Pemicu memerintahkan apa yang perlu kamu lakukan “setelah ini”. Kaitkan dengan informasi singkat, tidak terlalu detail, dan mendorong orang untuk mengikuti ada apa setelah ini. Ini disebut pemicu-luar (external triggers).

Trigger eksternal dibuat berdasarkan trigger internal yang ada di dalam pikiran, atau dengan kata lain, kita perlu tahu kecenderungan pemakai dalam menanggapi ajakan. Tempat, situasi, orang, rutinitas, dan “emosi” adalah trigger internal.

Yang terkuat, bukan sembarang emosi. Trigger terkuat adalah “emosi negatif”.

Jika bisa memainkan itu, maka orang cenderung akan mengikuti. Emosi negatif bukan berarti berisi hal-hal negatif. Menyediakan informasi untuk mengatasi pertanyaan negatif, itu juga termasuk disukai oleh emosi negatif.

Orang yang jenuh, bosan, takut, tidak pasti (ragu-ragu dalam menilai berita), takut ketinggalan update (mencari apa yang terbaru), kesepian, akan cenderung mencari. Mereka ini justru siap untuk dimasuki apa saja. Mereka ini berada dalam “emosi negatif” dan pikirannya menunggu diaktivasi dengan content yang sesuai, agar kemudian bertindak.


Tindakan (Action) mengarah pada tingkah-laku sederhana: “Reward” (Hadiah). “Saya dapat apa jika melakukan ini?”.

Menurut penjelasan Nir Eyal, tingkah-laku terbentuk dari 3 faktor: motivasi, kemampuan, dan kehadiran trigger. Orang tidak mau follow jika content kamu buruk, tidak mudah diakses, dan tanpa pemicu.

Motivasi itu seberapa besar keinginan melakukan, sedangkan kemampuan (ability) itu seberapa mudah melakukannya. Online shop punya jurus sakti: klik untuk membeli. Meskipun sebenarnya orang memilih selisih 500 rupiah harga barang, ternyata mereka pilih selisih 27.000 rupiah (untuk membayar ongkir) karena alasan kemudahan. Jadi, semudah apa tawaranmu ini dilakukan?

Motivasi tinggi jika bergabung dengan kemudahan mengakses, akan berhasil memicu pemakai.
Dalam internal trigger (yang ada dalam pikiran manusia), terdapat banyak keinginan, seperti yang bisa kita lihat dalam perilaku berinternet: selera pada produk baru, junk food, shopping, pemakaian gadget import, kecantikan, dan film terbaru.

Pertanyaannya, “Bagaimana membangkitkan hasrat pada produk dan kebaruan ini?”.

Pikiran manusia paling aktif ketika mengantisipasi “reward”. Pemicunya adalah memberikan “misteri”, caranya dengan menyajikan hubungan: “Kamu ingin tahu apa?”. Yang tidak-diketahui itu sangat menarik. Skinner menemukan “variable ratio of reinforcement”.

Reward ada 3 tipe: tribe, hunt, dan self-reward.

Reward tribe terjadi ketika manusia merasa dalam-hubungan, implikasi (aksi-reaksi), kerja-sama dengan orang lain, kompetisi, partnership, dll.

Setiap membuat “permainan” yang melibatkan orang lain, ingatlah selalu bagaimana setiap tingkah laku selalu berdasarkan motivasi, kemudahan melakukan, dan kehadiran trigger. Tanpa itu, tidak ada pembentukan tingkah-laku.

Trigger tribe berhasil jika kamu membuat ikatan dan orang senang memiliki kesamaan denganmu.
Ukuran trigger tribe pada media sosial, dinyatakan dalam bentuk “statistik”: kamu sudah dapat berapa Like, apa foto terbaru kawanmu, dll. Dan pemicu ini membuat orang ingin mendapatkan yang lebih dan lebih.

Reward juga bisa terjadi karena orang “berburu” (hunt) untuk mendapatkan sumber daya lebih. Mereka mencari di mana? Mereka mencari melalui feed (Beranda) dan explore (Search) dengan mengetikkan “keyword”, #hashtag, atau berdasarkan lokasi. Terlepas dari apa yang mereka cari, sebenarnya mereka hanya butuh “terlihat”.

Pada Instagram, untuk mencapai “reward of hunt” (hadiah berburu), ini bisa dengan memperhatikan: kapan sebaiknya kamu posting, frekuensi upload, pemakaian hashtag, bikin foto dan video menarik, dll. Siapa yang tampak di feed dan berhasil “disarankan” Instagram, yang akan memenenangkan “perburuan”. Mereka yang berhasil mencari, merasa mendapatkan reward.

Sama halnya dengan berjudi, orang merasa “beruntung” bukan karena besar kecilnya uang yang ia dapatkan, tetapi, karena kesempatan singkat yang ia pakai untuk bertaruh, berhasil memenangkan taruhan. Semakin cepat mencari dan menemukan, semakin orang merasa beruntung.

Beranda Google dan media sosial selalu begini: yang teratas adalah iklan, berikutnya yang dianggap paling relevan (inilah salah satu fungsi algortima di media sosial), baru kemudian postingan temanmu. Jika tidak ada yang menarik, orang akan scroll, terus ke bawah. Jika tidak ada, mereka pakai Explore atau kotak Search. Ini adalah “black design”, sama seperti website Amazon yang sangat besar itu, yang selalu mengarahkan orang untuk memakai kotak pencarian.

Reward untuk diri (self-reward) terjadi ketika seseorang merasa mencapai prestasi yang tidak ia dapatkan dari tribe dan hunt. Kalau kamu suka main game, pasti puas ketika dinyatakan “berhasil menyelesaikan level 21” atau mencapai “skor tertinggi”. Sekalipun tidak dibandingkan dengan prestasi orang lain, orang suka jika bisa melewati level. Jika tidak suka bermain game, ada hal lain yang kamu sukai, mirip bermain game, yang sering kamu temui.

Pada media sosial, ini terjadi ketika kamu mendapatkan notifikasi berkedip, ada DM (direct message) baru. Pertanyaan dalam pikiran, seputar ini: “Jangan-jangan, ada yang penting”, “Saya tidak mau melewatkan, apa salahnya saya periksa sebentar”, atau “Aha! pasti ini balasan yang saya tunggu.”. Yang perlu kamu terapkan pada Instagram, sebagai permainan pikiran, bisa juga demikian: rajin membalas komentar, berikan penjelasan khusus melalui DM (direct message), dan memberikan reaksi positif. Orang senang jika ada notifikasi dan inbox baru. Spoiler: Instagram menghitung keterlibatan, dari berkomentar dan membalas komentar, jika kurang dari 1 jam. Jangan melewatkan lebih dari 1 jam (baru menjawab).


Berikutnya, yang terpenting adalah “investment”. Setelah membuat pemicu, yang mengarah kepada tindakan dan reward, langkah berikutnya adalah “investment”. Apa bentuknya? Menyimpan yang berharga. Tujuannya, agar orang mau kembali kepada pemicu. Begitu terus, berputar, tanpa-henti, sehingga orang selalu melihat, suka, terlibat, dan mengikuti postingan kamu.

Apa yang bisa dilakukan untuk “menyimpan nilai” di Instagram? Semakin bagus content, semakin orang akan menyukai. Content berbentuk Story, Live, foto, dan video, hanya bisa semakin baik jika kamu memperbaiki kualitasnya. Mau tahu cara bikin story keren, tentu dengan belajar prinsip-prinsip desain dan teknik membujuk. Mau tahu cara bikin live report yang bagus, tentu belajar bagaimana memproduksi siaran berdurasi 2 menit namun berkesan bagi penonton. Memotret tanpa belajar prinsip-prinsip fotografi, tentu kurang optimal. Semakin bagus content, semakin terbuka peluang mendapatkan follower. Semakin banyak follower, Instagram akan memberikan perlakuan istimewa.

Menerapkan Teori “Hook” pada Instagram

Instagram menyediakan fasilitas ini, dengan menyediakan beberapa tool yang sejalan dengan teori “hook” yang akan menjebak pemakai untuk terus menerus mengikuti content Instagram kamu.

  1. Buatlah pemakai merasa memiliki kemampuan (ability) untuk sangat mudah mengakses Instagram kamu.
    Ini bisa dilakukan dengan memperbaiki biodata, menghubungkan website dan contact agar bisa diakses dengan sekali klik, serta merawat pemakaian hashtag.
  2. Terapkan “pemicu eksternal” (external trigger) pada content kamu.
    Skenario yang bisa diterapkan dalam Story atau Photo Gallery adalah membuat “proses” dan “menyingkap” rasa ingin tahu.
    Misalnya, begini: kita ingin memberitahukan sedang berada di Kota Lama Semarang, melalui story. Buat misalnya 3 story. Story 1 berisi countdown timer, sedang otw. Story 2, tepat setelah timer habis, berisi foto yang tak utuh, dengan pertanyaan: “coba tebak, saya sedang di mana?”. Story 3 menyingkap foto utuh, di mana kamu sedang tersenyum di depan Gereja Blenduk, Kota Lama, Semarang.
  3. Pancing “emosi negatif” pemakai dan sediakan solusinya.
    Tidak ada brand tanpa produk atau layanan, dan setiap produk atau layanan adalah solusi atas suatu masalah. Kalau misalnya produk yang kamu punya adalah “informasi” atau website berita. Cari, bagaimana perilaku pembacamu.
    Pada kasus yang pernah dikerjakan Metro Jateng, terdapat temuan untuk menjelaskan “apa itu bis trans Jateng dan bagaimana caranya naik bis itu?”. Ini adalah “emosi negatif”, keingintahuan, dan perlu diatasi dengan sajian informasi yang singkat. Lalu dibuatlah video di Instagram sebagai jawaban atas pertanyaan pembaca.
  4. Berikan Reward.
    Bisa dengan cara “regram” (repost) content milik pembaca, atas seijin mereka, di akun Instagram. Yang dibutuhkan hanya ijin dan tool (aplikasi) untuk repost, dengan menyertakan credit mereka di caption. Ada banyak aplikasi regram yang gratisan ataupun berbayar yang bisa kamu pakai. Ini lebih ampuh daripada mengadakan lomba yang mewajibkan follow dan tag.
    Gunakan reward tribe, dalam bentuk “pertanyaan terbuka” di Instagram, atau menandai berdasarkan lokasi (yang pernah dikunjungi orang lain di situ), atau live report acara yang sedang berlangsung melalui Story dan IGTV. Orang suka jika ia memiliki sinergi dan kesamaan dengan orang lain. Entah dalam bentuk trending, kesamaan hobi, spot serupa.
    Self-reward bisa diaktivasi dengan rajin melakukan interaksi, berupa Comment, Reply, dan DM (direct message).
  5. Countdown timer (pewaktu hitung-mundur) di Instagram, bisa dipakai untuk menyingkap “ada apa setelah ini” dan ajakan tersembunyi untuk “menebak” atau “merayakan bersama”.
    Heart Face, kamu tersenyum aku senang dan membalasnya dengan senyuman. Focus, agar background blur untuk bermain “tahukah kamu, saya sekarang berada di mana?”. Masih ada juga quiz dan smile indicator.
  6. Story bisa untuk memasang link yang clickable.
  7. Pastikan kamu memiliki content strategy dan perbaikan kualitas terus-menerus. Ini merupakan investasi yang akan mengajak orang untuk kembali ke pemicu awal, beralih ke action, reward, dan investasi lagi.

Kurang dari 550 Foto/Video, Bisa Dapat 16.8K Follower

Akun metrojatengcom buktinya. Namun, tidak ada cara mudah. Keberhasilan ini didukung banyak faktor, terutama pada optimasi content di Instagram, website, dan bagaimana beradaptasi dengan teknologi terbaru. Story Instagram semakin canggih, bisa menaikkan traffic di website.

 

 

Prinsip “Hook” juga diterapkan pada content Instagram Metro Jateng.

  • Buat biodata yang mencantumkan tagline dari brand kamu.
    Tambahkan hashtag perjuangan. Pastikan ada alamat kontak dan website. Alamat website ini clickable, satu-satunya yang boleh di Instagram. Kecuali kamu memakai aplikasi pihak-ketiga seperti Instagram+ atau gbInsta. Jika ada akun terkait, masukkan saja: channel YouTube, Facebook, dan email.
  • Berikan “ability” (kemampuan) yang sangat mudah bagi follower untuk “Call” atau kirim “email” dengan sekali klik.
    Orang bisa ngasih kabar jika ada berita baru, ngiklan, atau komplain.
  • Rajin bikin Story, masukkan ke dalam highlite agar mudah diakses.
    Dari Story, bisa kamu highlite, kamu kelompokkan menjadi beberapa rubrik. Dalam hal ini, Instagram Metro Jateng menggunakannya untuk mengelompokkan rubrik unggulan (saat ini) berupa: Peristiwa, Hukum dan Kriminal, Olahraga, dan Pemilu 2019.
  • Kalau ada link berita top, masukkan ke Story.
    Instagram Story punya kemampuan swipe (usap) dan bisa memuat link yang clickable, langsung ke berita.
  • Berikan solusi untuk “emosi negatif”.
    Misalnya, pada postingan video bis Trans-Jateng. Video ini “mudah”. Orang tidak perlu membaca deskripsi berkepanjangan.

Video ini untuk menjawab pertanyaan, “Apa itu bis Trans Jateng dan bagaimana caranya saya naik?”. Faktor keingintahuan ini tidak mudah dijawab. Perlu naik bis, merekam, lalu mengerjakan post-production (editing video dan penambahan teks informasi). Walaupun sebentar, tetapi orang bisa mendapatkan informasi yang diinginkan.

Tantangan 23 Bentuk, Setiap Hari

Instagram tempat yang asyik. Yang suka berwajah muram, kekerasan, politik kotor, bahkan bully, harus berpikir 100 kali sebelum posting di Instagram. Ini tempatnya orang berlomba bikin foto yang menarik dan menikmati hidup. Instagram mendapatkan 5 juta pengiklan, tanpa membuat pemakainya terganggu. Tidak ada perintah membikin content bagus, tetapi melihat foto lain, orang ingin posting content bagus.

Tidak semua orang tertantang untuk memposting foto atau video. Salah satu alasannya, tidak tahu apa yang mau diposting. Tidak jarang, brand seperti media online, tidak tahu mau posting apa, karena mereka tidak punya content strategy.

Berikut ini, 23 bentuk dan tantangan yang bisa memicu gagasan untuk posting:

  1. Running News. Cobalah berlatih melakukan “running”, mengabarkan perkembangan secara berkelanjutan. Ketika mengikuti suatu acara, tidak ada salahnya kamu kabarkan perkembangan acara sepanjang kamu mengikutinya: sekarang pembukaan, berikutnya sajian musik, 2 jam kemudian istirahat, dst. Posting dalam bentuk video atau foto, bagus pula jika kamu muat di Story dan masukkan ke highlite. Masukkan jam, countdown timer, lokasi, dan mention orang lain seperlunya. Eksperimen dengan cara seperti ini dan lihat bagaimana hasilnya.
  2. Live atau IGTV. Live Kalau sudah mantap dan terancang dengan baik, cobalah lakukan Live atau IGTV.
  3. Off-Topic. Jangan posting yang itu-itu saja, kecuali kamu adalah akun hub. Sesekali, cobalah off-topic. Keluar dari postingan yang biasanya. Misalnya, jika kamu bekerja di media online, coba posting yang bukan-berita.
  4. Behind the Scene (BTS). Bisa posting suasana di kantor, mereka yang sedang rapat, wajah orang-orang yang di balik berita, dll.
  5. Buat endorsement, sebagai “experimental project”. Atau jika ada sponsor, tawarkan dalam bentuk foto atau video Instagram.
  6. Produksi. Tampilkan pengerjaan produksi, sesuatu yang belum launching, untuk melihat bagaimana reaksi orang.
  7. Biasakan posting dengan pola 3-3. Sebaris (berisi 3 foto atau video) dengan kesamaan tematik atau kesamaan visual, secara bersamaan, lebih berpeluang tampil di feed daripada 1 foto.
  8. Regram (repost) postingan orang lain. Ini bagus. Pilih yang profile-nya jelas dan konsisten.
  9. Style. Gunakan foto dengan tonal warna atau filter yang sama.
  10. Perbaikan caption. Buat eksperimen caption. Coba posting foto yang kurang menarik (secara visual), namun memakai caption kuat.
    Ada sebuah foto di Instagram, bergambar sebuah tenda di atas batu dan nggak keren sama sekali. Di balik tenda itu, tampak blur, sebuah gunung yang kurang jelas. Yang menarik adalah caption foto ini.
    Sang Fotografer menjelaskan bahwa ia tidak mau berkemah di gunung yang jauh itu, karena di sana sedang terjadi pembentukan lapisan batuan. Ia tidak ingin merusak proses itu, sekaligus memberikan warning kepada para penjelajah agar tidak ke sana dulu, sampai proses alami itu selesai. Foto ini mendapatkan banyak Like dan Komentar.
    Cobalah bereksperimen dengan caption semacam ini. Tujuannya adalah mengukur seberapa suka orang pada caption yang kamu buat.
  11. Visual Storytelling. Gunakan Instagram sebagai piranti bercerita. Buatlah foto-foto yang “bercerita”. Misalnya, di balik berita sepak bola, mungkin kamu menemukan salah seorang pemain yang punya hobi di luar bola tetapi menarik perhatian. Buffer punya “formula” untuk membuat cerita melalui foto atau video. https://buffer.com/library/storytelling-formulas
  12. Buat Tutorial tentang “Bagaimana Cara..”. Photo gallery bisa kamu pakai. Step 1-7, misalnya, bisa disampaikan menjadi 7 foto. Usap ke kanan, sampai selesai.
  13. Promosikan link atau URL postingan kamu (dari blog atau web) melalui Story. Bisa dibikin clickable dan langsung mengarahkan orang ke postingan kamu. Ini bagus untuk menaikkan traffic kunjungan.
  14. Infografis. Gunakan sesekali untuk menampilkan infografis, atau data statistik yang mengejutkan.
  15. Promosi berbatas waktu.
  16. Ajakan mengikuti acara. Pengumuman, berita, dan update.
  17. Quote untuk inspirasi, sesekali saja. Jangan quote yang sudah “common sense”. Lebih baik quote yang kontroversial atau yang lucu.
  18. Product review. Begitu banyak produk di sekitar kita. Bukan hanya gadget, tidak harus yang sudah terkenal. Tujuan review adalah memberikan pertimbangan untuk keputusan-memilih, menyingkap baik-buruk suatu produk. Bisa sebagai metode promosi, bisa untuk menciptakan tren.
  19. Tips Singkat. Berikan tips agar orang merasa waktunya lebih bermanfaat. Misalnya, tentang cara bikin Story yang keren, atau cara “location scouting” di Kota Lama, Semarang.
    Saya sedang di sini. Nggak ada habisnya. Ini sapaan untuk semua orang yang pernah ke sini. Jangan lupa aktifkan GPS.
  20. Rutinitas. Berangkat, makan, bekerja, di tempat ini, pengulangan, perputaran, dari Senin sampai Minggu, seperti itulah rutinitas.
  21. Eksperimen Video. Coba lakukan aktivitas atau perjalanan, rekam sebagai video, kemudian tampilkan dalam bentuk hyperlapse. Atau rewind. Atau stop motion. Instagram bisa lakukan semua itu, tanpa aplikasi tambahan.
  22. Perkenalkan brand kamu. Bagaimana kalau saya hanya “seseorang”, bukan sebuah brand? Tidak perlu mentarget follower. Main-main saja di Instagram. Buku Business Model: You  bercerita bagaimana cara mem-branding “kamu” sebagai model bisnis.
  23. Tunjukkan karyamu. Buat sesuatu, tunjukkan. Tidak harus jadi. Yang penting, kamu membuat sesuatu.

Masih banyak ide lain yang bisa dijalankan setiap hari. Yang penting: rencanakan, lakukan dengan kualitas yang semakin meningkat, dan jangan “blank” untuk hari ini. Lebih baik sering memotret dan merekam video, lalu simpan. Bisa dipakai nanti, dimasukkan dalam jadwal posting.


Selingan, Beberapa Ide Foto Cepat (Just for Fun)

Sebelum Shoot, Jalankan Location Scouting

Lakukan “location scouting”, kenali lokasi lebih lekat dan dekat, sebelum memotret atau bikin video. Asal shoot, akibatnya sering mengecewakan. Bagaimana caranya “location scouting”?

Coba buka akun kamu di Instagram atau search di Google, cari informasi apa yang tersedia tentang tempat itu. Misalnya, sedang di Kota Lama Semarang, ketik saja di search Instagram: “kota lama semarang”. Ada foto yang top, recent (terbaru), dan bisa dilihat mana yang paling banyak dapat Like dan Comment. “Engagement” (keterlibatan), lebih tinggi nilainya daripada Like, artinya: kalau ada komentar dan regram, itu lebih keren daripada sekadar Like.

Beruntunglah jika belum ada di peta, tetapi perlu waspada kalau tempat itu sudah ngehit. Belum ada di peta, berarti bisa kamu awali dengan mengklaim tempat itu (lakukan dari Google Map, lalu populerkan). Sudah ngehit berarti banyak pesaing. Besar kemungkinan, banyak orang sudah ambil gambar di situ.

“Location scouting” itu semacam riset pendahuluan. Jangan sampai kamu memotret tetapi ternyata sudah ada foto “semacam itu”, dari sisi pengambilan dan caption. Aktifkan GPS (secara default, ini selalu aktif) kemudian temukan nama tempat kamu berada sekarang, di Instagram. Kalau ada #hashtag, cari berdasarkan hashtag. Lihat, foto apa saja yang ada di situ. Tujuannya, agar fotomu tidak sama dan bisa mencari sudut-pandang berbeda.

 

 

“Location scouting” juga berfungsi untuk memperkuat ide foto.

Untuk apa saya [harus] memotret di sini? Foto ini mau menampilkan apa? Dalam perfilman dan live report (siaran langsung), mengenal tempat juga bisa mengantisipasi kemungkinan buruk, “keluar dari teks”, atau menghitung kebutuhan selama di lapangan.

Setelah mengintai apa yang sudah ada di Instagram dan Google, coba pandangi sekeliling, adakah yang lebih keren?

Seperti apa, warna, tekstur, dan backgroud yang ada di situ?

  • Warna biasanya berkaitan dengan: tonal desaturasi, pastel, monokromatis, dan aksen terang.
  • Tekstur biasanya berkaitan dengan: beton atau tembok, karat, ivy, dan kayu. Coba zoom, atau naikkan exposure di camera. Apakah keren kalau nanti close-up? Lakukan eksperimen awal.
  • Lighting, berkaitan dengan: bayangan, waktu, tempat, dan gerak. Biarpun ada lighting alami, gunakan bantuan tambahan. Banyak sekali tutorial tentang pencahayaan dari kelas studio sampai “paket hemat”.
    Aplikasi seperti PlanIt! for Photographers bisa membantu mendapatkan informasi pencahayaan natural kapanpun dan di manapun. Bisa juga menggunakan Ephemeris yang bisa jalan di Apple, Android, versi Desktop, dan Web.
  • Background. Nah, ini termasuk masalah rumit.

Instagram Menyukai Background

Orang datang ke tempat wisata, misalnya, untuk mendapatkan background foto yang bagus. Instagram dapat mendeteksi keterkaitan fotomu dengan keyword. Begitu kamu upload foto ke Instagram, bisa langsung terdeteksi: fotomu berkaitan dengan [keyword] apa saja. Facebook juga demikian.

Aktifkan fitur bokeh atau Instagram Focus (tidak semua kamera, bisa aktif) hanya jika kamu benar-benar tahu apa akibatnya. Background kabur berarti menghapus keyword. Background kabur hanya cocok untuk selfie, namun itu berarti kurang “menjual”, kecuali kamu adalah Selena Gomez atau Kim Kardashian.

Tempat yang jungkies, terbengkalai, dan kuno, kalau pintar mengolah, bisa menjadi beberapa foto menarik. Misalnya: puing-puing atau texture tembok lama, dipadukan dengan baju terang, bisa memperlihatkan kontras. Obyek lebih tampil. Berkas cahaya yang masuk, disajikan dalam bentuk “black and white” bisa menampilkan kontras paling tinggi.

Jangan langsung memotret. Pastikan kamu berinteraksi dengan tempat itu dan bagaimana melihat orang-orang mengalami tempat itu.

Interaktivitas juga menjadi faktor pembentukan “emosi” dalam fotografi. Lihat, jalan-jalan, dan alami tempat itu. Bagaimana foto bisa “bercerita”. Interaktivitas itu bagaimana seseorang “mengalami” tempat. Seakrab apa ia di sana, bagaimana caranya “hidup” di tempat itu. Hampir semua acara festival atau live show, menghasilkan foto bagus, kalau penonton menyukai acaranya. Atau orang lokal yang sudah terbiasa di tempat itu. Sebelum foto, usahakan menyatu dengan tempatnya dulu.

Parahnya, kebanyakan foto Instagram menampilkan seseorang yang terasing di tempatnya. Banyak traveler yang datang sebagai orang yang piknik. Mereka jarang melakukan percakapan, hanya menunjukkan “view” dan “spot” yang keren. Miskin informasi, tanpa percakapan. Berapa prosentase “street photography” dan “human interest” yang ada di Beranda Instagram? Berapa momen spontan dan memperkenalkan manusia lain, dikenalkan kawanmu melalui fotografi? Jika sangat sedikit, itu karena satu faktor: kurangnya interaktivitas.

Kampung Pelangi kumuh tersembunyi disulap menjadi spot yang instagrammable, hanyalah 1 contoh bagaimana fotografer kurang mempedulikan ada apa sebenarnya di balik Kampung Pelangi.

Perhatikan pula, peraturan setempat. Pernah lihat foto orang sedang snorkeling sambil memegang terumbu karang? Itu sama dengan membunuh terumbu karang yang butuh proses pembentukan lama. Ini terjadi karena orang tidak tahu “peraturan”. Atau pernah melihat Kota Lama Semarang dicat warna-warni demi menyulap bangunan bersejarah menjadi spot foto yang instagrammable?


Memakai #Hashtag Bukan Soal Mudah

Bahkan jika kamu menggunakan bot. Instagram sangat ketat dalam menyikat para pemakai curang.

Banyak tutorial menyarankan memakai hashtag, bahkan disarankan sampai 30 hashtag, tetapi menempatkan hashtag yang “asalkan relevan”, tidak terlalu mengangkat popularitas foto di Instagram. Tentu saja, ada triknya.

Instagram (termasuk Facebook dan Twitter) menggunakan pendeteksi yang bisa mencari keterkaitan sebuah foto dengan hashtag yang sudah mereka kenal. Melalui pemrograman aplikasi Android, orang bisa menerapkan fitur yang sama.

Ini demonstrasi bagaimana sebuah foto bisa dibaca keterkaitannya dengan hashtag tertentu.

Mendeteksi Tingkat Relevansi Hashtag dalam Foto

Buka Instagram Market Generator kemudian upload sebuah foto, dapatkan hashtag yang relevan, dan ada pula informasi popularitas hashtag itu. Jangan menggunakan hashtag yang tak-relevan. Aplikasi PhoterLoo juga bisa keywording terkait Instagram dan menggunakan teknologi “machine learning”.

Keunggulan aplikasi ini, bisa mendeteksi keyword dari suatu foto, bisa memeriksa foto berdasarkan URL (tanpa perlu upload, asalkan statusnya bisa diakses publik), dan bisa memproses berdasarkan keyword.

Hashtag Top, Random, dan Live

Tool All Hashtag itu gratis, tanpa perlu register. Masukkan 1 kata, misalnya: “semarang”, kemudian pilih, hashtag ini mau dicari apanya: bisa mencari “top” (terpopuler), “random” (acak), atau “live” (siaran-langsung). Klik “generate” untuk memproses hashtags. Berdasarkan cara ini, bisa tahu hashtag mana yang recommended.

Hindari Bot, Tempatkan Hashtag di Komentar

Kalau terpaksa menggunakan #hashtag banyak, menurut algoritma Instagram terbaru, sebaiknya tempatkan di komentar. Tidak harus di foto/video. Banyak hashtag di foto/video justru memperburuk tampilan dan berpotensi di-crawl oleh bot script.

Yang terpenting, jika sudah menemukan kecenderungan mau upload jenis foto apa, pastikan mempunyai hashtag tertentu yang siap-pakai.

Hashtag: Lokasi, Relevansi, dan Trending

Hashtag selalu berkaitan dengan 3 hal: lokasi, relvansi foto, dan trending. Kalau saya tinggal di kota Semarang, misalnya, saya harus punya hashtag andalan terkait “semarang”. Foto tidak selalu sama, pasti ada sesuatu yang berbeda, butuh hashtag tersendiri: foto pemandangan dan kuliner, tentu punya hashtag berbeda, yang bisa dicari relevansinya. Sedangkan “trending”, itu hashtag yang sedang ngehit atau yang mau diperjuangkan, misalnya, website Metro Jateng punya hashtag #metrojateng. Kalau punya brand, perjuangkan hashtag tertentu.

Daftar Hashtag yang Sering Dipakai

Agar praktis, saya menggunakan catatan hashtag yang sudah saya riset dan bisa dipakai di mana-mana. Kalau mau pakai, nanti tinggal copy-paste di komentar Instagram.

Misalnya, ini 30 hashtag yang paling ngehit untuk “semarang”:

#semarang #semaranghits #semarangan #semarangolshop #semarangfood #semarangkuliner #semarangwedding #semarangcity #semarangexplore #semarangonlineshop #semaranggirl #semaranghebat #semarangculinary #semaranghitz #semarangvape #semarangvidgram #semarangfoodhunter #semarangshop #semarangcoret #semarangevent #semarangkota #semarangcake #SemarangId #semarangfurniture #semarangsketchwalk #semarangflorist #semarangvapor #semarangphotography #semarangkekinian #Semarangfreeongkir

Stop Click-Bait, Ajakan Menandai, dan Minta Follow

Sangat dilarang. Walaupun kamu mengadakan lomba atau sedang charity untuk perubahan sosial. Kalau tidak percaya, cobalah adakan lomba dengan persyaratan “wajib memakai hashtag” atau harus follow. Biarpun dapat follower banyak, pada postingan setelah lomba diadakan, nggak akan ngefek pada popularitas postingan. Apakah kemudian postingan muncul di featured post Instagram? Apakah menaikkan engagement dari follower, setelahnya? Tidak. Karena algorithma Instagram (dan Facebook) melarang itu. Kamu tidak bisa menaikkan engagement dengan perintah dan lomba. Naikkan engagement dengan kualitas content.


Gunakan Kekuatan Akun Hub

Akun hub itu akun yang memuat foto secara tematik. Misalnya, regram (repost) foto yang khusus berkaitan dengan makanan. Akun hub punya hashtag tertentu, mereka benar-benar memilih mana yang keren, dan punya follower banyak. Jika profile kamu berisi content (foto dan video) yang cocok dengan mereka, akan dapat regram (repost) dan dilihat ribuan follower.

Yang terpenting: content kamu harus punya “theme”, kecenderungannya ke mana. Apakah fotografi makanan? Liputan jalan-jalan khusus wisata? Live report dan berita mendalam? Atau produk penghalus kulit? Setelah memiliki “theme”, kaitkan dengan akun hub, dengan cara: posting beberapa foto atau video yang “relevan” dengan hashtag yang sudah mereka perjuangkan.

Berikut ini, daftar 25 akun hub dengan tema, username, dan hashtag yang bisa dipakai.

  1. Travel @passionpassport #passionpassport
  2. Editorial dan Fashion @uglyshape #uglyshape
  3. Food @gastroart #gastroart
  4. Black and white (BW) @bnw_planet #bnw_planet_2019
  5. Wedding @wedphotoinspiration #wedphotoinspiration
  6. Perspective @1.perspective #1PointP #OnePointPerspective
  7. Music @music #MHPinstrumental #MHPlyrical #MHProckstar #weekendmusic, dll.
  8. Night @nightphotography #nightphotography
  9. Film-inspired @accidentallywesanderson #accidentallywesanderson
  10. Portrait @portraitmood #portraitmood
  11. Visual Storytelling @thecreatorclass #TheCreatorClass
  12. Instant @polaroidoriginals #polaroidoriginals
  13. Flat Lay @flatlayforever #flatlayforever
  14. Adventure travel @visuals.collective #exploretocreate
  15. Macro @macro_spotlight #macro_spotlight
  16. Drone @fromwhereidrone #fromwhereidrone
  17. Still Life @still_life_gallery_ #still_life_gallery #stilllifegallery
  18. Architecture @brutal_architecture #brutal_architecture
  19. Film @thefilmcommunity #thefilmcommunity
  20. Minimalist @iseeminimal #ic_minimal
  21. Emerging photographers @justgoshoot #justgoshoot
  22. Urban @citybestviews #CBviews
  23. Regional @relax_youreincali #relaxyoureincali
  24. Motorbike @caferacersofinstagram #croig #caferacersofinstagram
  25. Street @the.street.photography.hub #thestreetphotographyhub

Jangan terlalu sering mention. Gunakan hashtag sewajarnya. Kamu bisa cari hashtag lain yang relevan. Atau lebih baik membuat akun hub sendiri, sesuai minat yang sedang kamu kembangkan.


Pelajari Fotografi Dasar

Biarpun suka video, dasarnya tetaplah fotografi.

Apa yang membuat sebuah foto tampak bagus? Jika foto terdapat “kedalaman”.

Kamera bagus memang penting, tetapi tahu apa itu “sense of depth” dan bagaimana cara mendapatkannya, lebih penting lagi, apapun kameramu. Saya sering menemukan kawan-kawan yang memegang kamera belum bisa mengoptimalkan fungsi kamera mereka.

Saya telah menuliskan “Menciptakan Sense of Depth dalam Fotografi” yang bisa menjadi pengantar untuk memahami apa itu “sense of depth”, pengaturan dasar kamera, cara shoot dengan manual focus, dan street photography. Selain itu, baca juga “Fotografi Smartphone” tentang bagaimana “melawan” aturan komposisi, tentang tips editing dan tips non-teknis terkait fotografi smartphone.

Contoh Kasus Pengerjaan Content: Fotografi Makanan

Content sering membuat akun Instagram gagal. Tanpa content bagus, akun akan ditinggalkan. Dapat scroll, terlewatkan, terlupakan. Yang mengherankan, betapa percaya-diri orang-orang yang memotret namun tidak belajar bagaimana caranya memotret dengan baik.

Contoh kasus yang sering kita temui adalah fotografi makanan.

Ternyata, sejarah fotografi makanan (food photography) sudah ada sejak 171 tahun yang lalu.

Orang suka kuliner, Instagram penuh foto makanan. Fotografi yang dikombinasikan dengan lokasi dan senyum puas pelanggan, menjadi sarana promosi paling ampuh. Seringnya, tanpa diminta, konsumen melakukan promosi, melalui ponsel mereka.

Fotografi makanan menjadi pembahasan tersendiri di kalangan fotografer, penyajian makanan menjadi seni menarik perhatian. Singkatnya, jika suatu foto makanan disajikan di akun Instagram, sudah banyak pendahulu yang lebih keren.

Para food stylist bukan sekadar menata. Setiap menu punya gaya, disajikan berdasarkan sains dan riset, untuk menarik pembeli. Jadilah seperti food stylist yang pintar menarik perhatian orang dengan makanan.

Sebelum memotret makanan, ketahuilah bagaimana cara menata (komposisi) makanan dalam foto (style props), apa enaknya makanan ini (tidak harus mengatakan di caption, tetapi agar tahu ide foto yang mau ditampilkan), bagaimana manual focus, dan “riwayat” makanan ini. Tidak harus menjadi pengiklan, tetapi tunjukkan bahwa makanan ini punya tempat tersendiri di hatimu. Semua itu ada tutorialnya, bisa dicari di Google. Video juga demikian. Ini bidang yang sudah ditekuni orang lebih dari 100 tahun yang lalu. Ini perpaduan seni dan teknologi, terus berkembang. Yang penting, pelajari bagaimana memotret dan bagaimana menjadi lebih tahu tentang obyek yang sedang kamu bidik.

Jangan terlalu klise. Pernyataan klise sering menampilkan ekspresi “puas” dan pemakaian kata-kata seperti “wow”, “lezat”, tetapi tidak memberikan informasi apa-apa tentang makanan itu. Lebih baik, deskripsikan di caption, secara singkat. Katakan apa yang tidak tampak di dalam foto atau video, jangan mengulang menjelaskan apa yang sudah jelas. Apalagi menyatakan, “Penasaran, kan? Datang saja ke sini..”. Kebanyakan pengiklan sudah mengatakan kalimat semacam itu.

Para pengiklan makanan tidak jarang justru menipu konsumen dengan “make-over” berlebihan, tampilan agar foto makanan mereka menarik.

Sebelum Klik Kamera

Kalimat itu perlu tertanam pada hobi fotografi dan video. Misalnya suka kuliner dan fotografi makanan, pastikan kamu punya daftar-periksa, seperti ini:

  • Gunakan porsi makanan yang sedikit, untuk menarik perhatian. Matikan flash, gunakan penerangan natural, namun jangan gelap.
  • Fokuskan pada makanan (bahan atau rasa yang mau diutamakan), gunakan manual focus (kalau belum bisa, lebih baik pelajari).
  • Texture, warna, dan cara menyajikan, menjadi daya tarik tersendiri bagi makanan. Jangan menggunakan presets dan filter berlebihan jika itu akan mengecewakan orang yang belum mencoba. Sejak lama, jika melakukan promosi, yayasan perlindungan konsumen melakukan larangan untuk menyajikan fotografi yang berbeda dari aslinya. Makanan seperti pizza, kebab, sama halnya seperti gado-gado dan pecel. Memiliki texture dan bahan yang kompleks. Bukan berarti mudah di-shoot. Keju memiliki perlakuan sendiri, sambal juga demikian.
  • Jika terpaksa memakai aplikasi yang menggunakan presets, gunakan yang sesuai. Untuk fotografi makanan, misalnya, boleh coba download aplikasi Foodie dari PlayStore.
  • Sajikan background yang “bersih” dan tidak mengacaukan perhatian makanan. Selfie itu tidak menunjukkan makanan sebagai obyek utama dalam food photography.
  • Cobalah beberapa angle yang berbeda, pilih yang terbaik, atau upload dalam bentuk gallery.
  • Tidak perlu memasukkan semua obyek ke 1 frame. Lebih baik tampilkan beberapa foto, jika mau menyibak detail.

Unsur Manusia dalam Fotografi

Ada baiknya, sebelum memotret, melakukan percakapan dengan pemasaknya, atau melihat sendiri prosesnya (jika diijinkan) agar tahu di mana keistimewaan sajian ini. Jangan terburu-buru memotret.

Biasanya, restoran punya rahasia dapur yang proses penyajiannya tidak boleh dilihat orang. Bahan tidak terlalu rahasia, yang rahasia itu cara memasak dan komposisinya. Asalkan tidak mengganggu proses, terutama di saat antrian panjang, pasti tidak masalah meminta ijin memotret dari jauh.

Bicara baik-baik dan menyampaikan rasa secara natural menjadi behind the scene (BTS) acara #mburuenak di Metro Semarang TV #mburuenak dengan jalan-jalan mencicipi kuliner Semarang.

Pengiklan atau bukan, orang-orang yang di Instagram perlu tahu pernyataan alami dari orang yang pernah mencicipi makanan ini. Natural advertisement, apa kata konsumen apa adanya, dalam bentuk cerita, lebih memiliki efek kuat daripada bujukan rasional yang tertera di bungkus makanan kemasan yang mengandung bahan alami dan dibutuhkan tubuh. Faktor “alami” dan “apa kata orang”, lebih disukai konsumen lain.


Post-Production

Post-production tidak sama dengan nge-crop dan edit pakai aplikasi. Post-production itu sudah dapat foto atau video, kemudian mau kembali kepada ide awal “mengapa” kamu klik kamera. Jika idenya “pre-wedding” atau “reportase”, ya sesuaikan dengan ide itu.Misalnya, ada pemandangan (view) yang keren jika ditampilkan dalam format melebar (wide), berarti perlu dikerjakan dalam format melebar.Kawan saya pernah bertanya, “Untuk apa fitur panorama di kamera Android, jika tidak bisa dipakai di postingan Instagram?”. Sebenarnya, bisa. Buatlah foto panorama, atau wide angle, kemudian lakukan editing dengan Photoshop: buat slice ukuran 1920x1080pxl, simpan sebagai file terpisah, kemudian upload sebagai gallery. Jika pemakai mengusap foto itu, maka akan tampil seperti format lebar tak-terputus (seamless).Detailnya bisa dilihat dalam video tutorial berikut:

 

Kalau misalnya ini film indie dengan durasi di bawah 2 menit, berarti perlu buka skenarionya, lalu edit dan sesuaikan.Ada beberapa tool menarik yang bisa kamu pakai untuk klik kamera dan aktivitas post-production yang bisa bikin Instagram kamu lebih menarik. Orientasi yang mau disajikan di sini adalah: efektivitas, kemudahan, produktivitas, dan hasil yang keren. 
Instagram meluncurkan buku panduan bagi para creator di Instagram, sangat bagus untuk mengoptimalkan brand strategy, post-production, dan bagaimana mengemuka di feed (Beranda) Instagram. Sayangnya, banyak aplikasi berbayar di panduan itu dan tidak sepenuhnya lebih baik.

Instagram

Instagram sudah memadai untuk editing foto dan video, jika sebatas menambahkan tulisan, link clickable, dan filter. Fitur yang bisa dipakai di Story, nggak ribet dan hasilnya keren.
Sayangnya, belum bisa “merge” (menggabungkan) beberapa video atau menambahkan subtitle sendiri. Kekuatan Instagram, selain filter keren, untuk urusan video, hanya pada kemampuannya menampilkan stiker interaktif dan permanen.Teknologi editing foto Instagram, untuk filter foto juga belum sampai pada editing per layer.
Bahkan dalam kondisi offline, minus stiker interaktif, kamu bisa simpan hasil editing foto atau video. Akan tersimpan di folder /Instagram, dan masih tetap tersimpan jika aplikasi langsung kamu tutup, tanpa perlu “Discard” atau “Keep”. 
Cara ini membuat Instagram punya fungsi sebagai editor foto dan video offline.
pixlr x
PIXLR X. Bisa diakses dari browser. Bekerja dengan layer, user-interface mudah, fitur lengkap, dan bisa import .png transparent.

Pixlr X

Pixlr X bukan sembarang editor. Punya fitur sakti: bekerja berdasarkan layer (sebagaimana Photoshop), bisa transform element, autofix, effect (filter), penambahan teks dengan font cantik, dan (yang sulit dicari tandingannya) bisa import .png transparent. Pixlr X bisa diakses dari desktop, langsung di web browser, atau download Pixlr X versi mobile (Android dan iPhone).

MOCR

MOCR nggak bisa dibandingkan dengan editor video pada umumnya. Sekalipun dapat rating 3.8 dan baru dipakai 10.000 orang, aplikasi ini pumya kesaktian dalam editing video: kecepatan dan efisiensi. Ia tidak punya fitur “transition” dan dibatasi 3 layer video, namun menjadi andalan dalam live-report. MOCR punya “canvas”, mirip canvas di OBS broadcaster di mana kamu bisa menempatkan layer berapapun. Layer ini bisa berupa video, image, .gif, atau teks. Mau resize, rotate, move, bebas. Ini berarti, kita bisa bikin “inset” (2-3 video dalam 1 layar). MOCR punya filter yang bisa diterapkan di layer mana saja. Isi suara dengan suara sendiri atau audio yang sudah tersimpan juga bisa. Yang paling mantap, proses render di MOCR paling cepat dibandingkan video editor lain.

Serius, Mau Pakai Watermark?

Asalkan tidak di setiap foto, tidak di awal sampai akhir video, dan sifatnya tidak intrusif. Kalau takut diambil orang, nggak usah pasang di Instagram.

Kalau mau pakai watermark sendiri, dengan logo brand, yang masih nyaman dilihat, bisa lihat video ShotOn Watermark Maker. Ini juga cocok kalau mau bikin brand dan acara. Bisa download gratis ShotOn Watermark Maker dari PlayStore.


Pindah ke Akun Bisnis

Memakai akun bisnis itu gratis. Banyak untungnya. Yang utama, bisa melihat data akun kamu secara lebih detail, sebagaimana halaman bisnis di Facebook. Memakai Instagram Insight, bisa melihat statistik seperti: impression, engagement data, demografi followers, termasuk informasi umur, gender, lokasi, dan jam-jam paling aktif.

PINDAH KE AKUN BISNIS. Memakai Instagram Insight, bisa melihat statistik seperti: impression, engagement data, demografi followers, termasuk informasi umur, gender, lokasi, dan jam-jam paling aktif.

Pro-Kontra Jika Beralih ke Akun Instagram Bisnis

Mereka yang suka beralih ke akun bisnis, punya alasan berikut:

  • Bisa melacak (tracking) posting. Berapa kali orang ini menyukai foto saya?
  • Setiap foto bisa dibandingkan, dicari, mana yang paling ngehit. Algoritma Instagram selalu berubah. Dengan pelacakan, kita bisa tahu, taktik marketing mana yang berhasil kamu lakukan untuk menaikkan follower.
  • Tidak perlu aplikasi berbayar dari pihak-ketiga (di luar Instagram) untuk memantau statistik.
  • Ada tombol “Contact”. Orang bisa kirim email secara langsung.
  • Jika mau beriklan, bisa mempromosikan foto secara individual.

Mereka yang tidak suka switching ke akun bisnis, alasannya begini:

  • Keterlibatan follower menurun. Sebenarnya, tidak juga. Akun bisnis tetap bisa terlibat sepenuhnya dengan follower. Berkomentar, membalas komentar, direct message (DM), Like, tetap bisa dilakukan.
  • Kesan bahwa akun ini menjadi berorientasi kepada keuntungan, menjadi kurang manusiawi. Ini tergantung bagaimana menyajikan foto dan materi promosi yang digelar di akun. Kalau semua content berisi produk dan “cek inbox”, tentu kesan akun menjadi negatif.

Berita baiknya, kamu bisa kembali ke akun biasa, kapan saja.


Tahun telah berganti, algoritma Instagram semakin memihak kepada para creator, teknologi smartphone semakin memudahkan hobi fotografi dan video. Instagram bisa menjadi piranti sakti, jika berpadu dengan kreativitas tanpa-henti.

Sampai jumpa di Instagram. Selamat tahun baru 2019. [dm]

——-
Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Semarang.

You might also like

Comments are closed.