Sudirman Said Kritik Cantrang dan Impor Garam di Bawah Kendali Jokowi

METROSEMARANG.COM – Calon Gubernur Jawa Tengah, Sudirman Said menyoroti perizinan cantrang dan impor garam yang saat ini masih menjadi polemik di tengah masyarakat.

Sudirman Said kritisi kebijakan Jokowi. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Menurut mantan Staf Ahli Dirut Pertamina itu, dua masalah tersebut hanya bisa diselesaikan dengan landasan hukum permanen.

“Harus ada solusi permanen, yakni landasan hukum yang kuat agar nelayan kita melaut dan mencari rizeki dengan tenang,” ungkap pria asli Brebes tersebut, tatkala menghadiri seminar di Fakultas Ilmu Perikanan, Universitas Diponegoro Tembalang Semarang, Sabtu (3/3).

Kebijakan perizinan cantrang yang dilakukan Menteri Susi Pudjiastuti, katanya selama ini dalam pelaksanaannya banyak kendala.

Selama berkeliling dan bertemu dengan nelayan Pantura Jawa Tengah, Sudirman mengaku selalu mendapat keluhan bahwa tiap nelayan seperti melaut di lautan negara asing.

Soal garam impor pun, Sudirman memberi gambaran bahwa panjang pantai Indonesia lebih dari 90 ribu kilometer.

Tetapi, ia menyebut dengan posisi sebagai pemilik garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia justru tidak melakukan produksi, impor atau ekspor garam yang tidak ada kaitannya dengan panjang pantai.

Belanda dan Cina, lanjutnya, panjang pantainya bahkan tidak ada seperempat dari Indonesia. Namun Belanda menjadi pengekspor garam terbesar, sementara Cina sebagai negara penghasil garam terbesar di dunia.

“Karena saat ini yang menentukan selain teknologi adalah soal kebijakan. Apakah kita ingin berdaulat garam atau tidak? Kita bersyukur negara ini tidak impor air,” ujar Sudirman.

Sudirman Said menyinggung bahwa bukan zamannya lagi mengambil kebijakan secara praktis, jika kekurangan kebutuhan pengambil kebijakan terus berorientasi pada impor karena alasan lebih mudah dan murah.

“Itu namanya sedang melaksanakan pembunuhan potensi nasional kita,” katanya.

Kebjaakan yang baik yang berpihak pada kekuatan dan kemampuan sendiri. Dalam pengeluaran kebijakan, menurut Sudirman Said terdapat dua aspek.

“Pertama, bagaimana kebutuhan kita, kebijakan mesti bisa membaca bagaiamana kebutuhan dan kemampuan kita. Tahapannya harus melalui tahapan persiapan, memutuskan, evaluasi dan yang lain. Dalam kebijakan cantrang dan garam bagaimana?” tandasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.