Surau Budaya #3: Hidupkan Gus Dur, Undang Tokoh Lintas Agama    

PicsArt_1424625283558

SEMARANG – Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur memang sudah meninggal 2009 silam. Tapi Surau Budaya “menghidupkan” lagi tokoh yang dinobatkan sebagai Bapak Tionghoa itu.

Acara yang digelar Jumat, 27 Februari pukul 19.30 di Taman Budaya Raden Saleh ini menghadirkan para tokoh lintas agama seperti Romo Aloysius Budi Purnomo, budayawan Anis Sholeh Baasyin serta seniman Widyo Babahe Leksono.

Menariknya diskusi bertajuk Melek Imlek ini juga akan dihadiri oleh Anita Hayatunnufus Rahman. Putri ketiga Gusdur ini akan mengupas metode berfikir yang sering didiskusikan bersama ayahnya semasa hidup.

Kolaborasi ini juga akan dibungkus presentasi karya dari Keroncong Karimoeni. Tak ketinggalan, AbsurdNation, sebuah band Jazz asli Semarang juga akan menghangatkan diskusi.

Project Director Surau Budaya Henry Cassandra Goeltom mengatakan, upaya “menghidupkan” Gus Dur ini relevan mengingat beberapa hari sebelumnya diperingati Hari Raya Imlek alias Tahun Baru Tionghoa 2566. Asyiknya, bukan hanya umat Konghucu atau etnis Tionghoa saja yang memperingatinya. Hal ini tak mungkin terjadi jika Gus Dur tak membuka keran keberagaman.

Gus Dur lah yang pada Januari 2001 mengumumkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional, plus pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Sebuah situasi yang muskil terjadi pada masa Orde Baru berkuasa.

“Kita ingin menelaah sosok Gus Dur yang mampu menjembatani antara Bangsa Indonesia dan warga keturunan Tionghoa. Beliau bersikap apresiatif terhadap hari raya Konghucu dan memberikan ruang seluas-luasnya kepada warga keturunan untuk menampilkan kebudayaannya,” kata pria yang akrab dipanggil Nanda ini.

Nanda melanjutkan, visi diskusi ini adalah bagaimana cara-cara berfikir Gus Dur bisa diterapkan untuk menjalin kerukunan di Indonesia. Khususnya Kota Semarang dimana keragaman budaya dan agama justru menjadi napas kota ini.

Semarang dibentuk oleh kaum pribumi Jawa, bersama para pedagang Arab, Tionghoa, Melayu, dan Belanda. Pada era modern, Semarang semakin ramai oleh pendatang dari Batak, Padang, Sunda, Tegal, ekspatriat dan lainnya.

Jika mengacu pemikiran Gus Dur, keberagaman seharusnya bukan menjadi tembok yang menghalang kemajuan. Justru sebagai warna yang memperkaya budaya dan memperkuat jati diri kota.

“Kami berusaha menemukan terobosan-terobosan baru melalui “Jam Session” lintas genre, lintas agama, dan lintas generasi. Dan, bagaimana meruncingkan pensil ide bersama dan sepakat untuk mengkolaborasikan warna,” ujarnya.(*)

You might also like

Comments are closed.