Syeh Jangkung, Kalong dan Kita yang Memaiyahkan Nusantara

Teater Q UIN Sunan Ampel Surabaya mementaskan Santri-Santri Khidir di Auditorium 1 UIN Walisongo, Jumat 22 Mei. Foto: metrosemarang.com/Anton Sudibyo
Teater Q UIN Sunan Ampel Surabaya mementaskan Santri-Santri Khidir di Auditorium 1 UIN Walisongo, Jumat 22 Mei. Foto: metrosemarang.com/Anton Sudibyo

MUNGKIN terlalu berlebihan jika menyebut demam Cak Nun sedang melanda pekerja teater di Kota Semarang. Terlalu ngoyoworo juga jika menyebut gelora pemikiran Emha Ainun Nadjib saat ini sedang berputar-putar di langit-langit sanggar teater kampus Semarang.

Ya, dua kalimat di atas mungkin hanya pemikiran saya sendiri setelah dalam dua bulan terakhir mengikuti tiga acara berbau Cak Nun. Pemikiran yang mungkin lebih bersifat harapan mengawang-awang.

Acara pertama adalah Dialog Budaya di Balai Kota Semarang, Selasa, 14 April yang dihadiri sang pimpinan Kenduri Cinta itu sendiri. Di antara ribuan penonton, saya menjumpai puluhan pekerja teater kampus duduk takzim mendengarkan ceramah budaya Kiai Mbeling.

Kedua, pementasan teater Patung Kekasih oleh Teater Metafisis UIN Walisongo di Auditorium kampus 1 UIN, Jumat 15 Mei. Naskah itu digarap Simon Hate, Cak Nun, dan Fajar Suharno pada 1983 silam. Diskusi tentang kritik dan perlawanan politik pengkultusan, pencekalan penguasa orde baru ketika Teater Dinasti mementaskannya, dan aktualitas pemikiran Cak Nun, membara setelah pentas ini.

Terakhir, pentas Teater Q UIN Sunan Ampel Surabaya yang membawakan Santri-Santri Khidir di UIN Walisongo, Jumat 22 Mei kemarin malam. Pada 1990, Cak Nun mementaskan naskah ini secara kolosal di lapangan Gontor. Ada 60 pemain dan 3000 santri Pondok Pesantren Gontor yang menjadi figuran dalam pentas yang ditonton 35 ribu orang itu.

Usai pentas kemarin malam, Sutradara Teater Q Iqbal Waziri menjelaskan bahwa Santri-Santri Khidir sebenarnya adalah kritik Emha pada Orde Baru. Meski berlatar masa awal-awal Mataram Islam, namun naskah yang oleh Emha awalnya diberi judul Bani Khidir ini adalah perlawanan halus terhadap Soeharto.

Dua tahun setelah pentas di Gontor, Cak Nun membuat sekuelnya dalam pentas berjudul Perahu Retak di Yogyakarta. Latarnya masih sama, nafas yang dibawanya tidak berbeda.

Saya memang tak hendak menulis lebih detil pentas Santri-Santri Khidir, karena (maafkan), jika hanya menyandarkan pada peristiwa budaya malam itu, saya bahkan tidak paham jalan ceritanya apa. Terlalu banyak kekurangan teknis ini membuat pentas tidak cukup mampu menggugah. Efeknya, penonton lebih berfikir kapan pentas selesai daripada tergoda mendalami pemikiran di balik naskah.

Hampir sama dengan yang terjadi pada pentas Teater Metafisis yang lebih kuat menggarap teknis pemanggungan daripada mengeksplorasi teks dan substansi naskah.

Satu jam pentas Teater Q yang menggelisahkan itu membawa saya pada diskusi sendiri dengan Iqbal, usai diskusi komunal. Dan terimakasih Cak Iqbal, karena akhirnya saya menemukan benang merah kuat dalam “tiga acara Cak Nun” di Semarang.

Kritik keras Cak Nun di Balai Kota, maupun lewat Patung Kekasih, dan Santri-Santri Khidir memang seperti ditujukan pada penguasa. Namun setelah direnungkan, berawal dari resepsi bahwa kemarahan Cak Nun itu dilandasi cinta pada Indonesia, saya terhenyak. Tidakkah sesungguhnya, Cak Nun telah tiga kali menampar kita yang sebagai warga negara telah kehilangan kepribadian sosialnya.

Kepribadian sosial ini menurut Cak Nun bisa direntang ke hamparan konteks ideologi sosial. Suatu landasan filosofis yang menentukan bagaimana sebuah bangsa mengambil keputusan di dalam membangun Kerajaan atau (sekarang) Negara, dengan segala perangkatnya. Dari konstitusi, hukum, relasi sosial-budaya, strategi sejarah, sistem perekonomian, hingga karakter kemanusiaan di dalam membangun atau memelihara kebudayaan, serta yang lebih besar: peradaban.

Hasilnya, adalah Indonesia hari ini, yang kehilangan segala-galanya. Kehilangan ukuran hampir di segala hal yang besar maupun yang kecil. Kehilangan dari kepribadian kebangsaan yang besar, kehilangan pengetahuan tentang diri sendiri sebagai bangsa, masyarakat maupun manusia. Kehilangan ilmu untuk mengolah sejarahnya, kehilangan pengetahuan untuk mengelola sosialitasnya, tidak mengerti kedaulatan rakyat, tidak memahami kepemimpinan, bahkan tidak mengerti apapun kecuali nafsu mengejar materi dan harta benda.

Di Balai Kota, saya mendengar betapa emosionalnya Cak Nun menanggapi Mas Widiyartono yang secara halus mengejek kebesaran leluhur bangsa. Menurut Cak Nun, bangsa ini bukan hanya tidak sanggup membangkitkan dirinya menjadi sebesar yang pernah mereka capai. Bahkan ummat manusia Republik Indonesia sekarang ini tidak percaya bahwa nenek moyang mereka pernah mencapai kebesaran sejarah di muka bumi. Anak-anak muda, bahkan banyak kalangan kaum intelektual, terutama cara berpikir menguasa dan media massa, malah mengejek setiap ucapan yang menyebut kebesaran kita di masa silam.

“Hari ini bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bangsa yang hidup tenteram dengan ketenangan untuk mengejek dirinya sendiri, bahkan penuh kebanggaan untuk menghina dan merendahkan dirinya sendiri,” katanya.

Dalam “Empat Retakan Jiwa Bangsa Nusantara”, Cak Nun menulis bahwa Mataram adalah Indonesia kecil yang “meresmikan” retakan-retakan mental dan cara berpikir Bangsa Nusantara. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Mataram besar yang memuncaki keretakan itu, sampai pada tahap bagaikan tiada lagi Nusantara ini, dari berbagai sudut pandang, cara pandang maupun jarak pandang.

Dalam Santri-Santri Khidir dan Perahu Retak kita bisa melihat bagaimana usaha keras seorang pengelana bernama Syeh Jangkung (Saridin) mencegah kehancuran besar bangsa ini akibat retakan-retakan yang tak mampu diantisipasi. Murid Sunan Kudus ini ingin meneruskan upaya eyang gurunya, Sunan Kalijaga, yang diberi tugas oleh Dewan Walisanga membangun kembali Nusantara dengan menyusun kembali retakan-retakan mental yang berserak.

Kegagalan Sunan Kalijaga tak menyurutkan Syekh Jangkung. Ia mencoba me-recovery dan merekonstruksi kepribadian Islam Nusantara melalui Raden Mas Kalong, putra sulung Pangeran Benowo, seorang yang seharusnya memegang kuasa untuk mengembalikan etos Demak di ujung Pajang.

Syekh Jangkung mengajak Kalong berkeliling membangun Masyarakat Nusantara Baru, berusaha menyelesaikan berbagai konflik dengan metode sebagaimana yang diajarkan secara sangat mendalam namun bijak oleh Kiai Kanjeng Sunan Kalijaga.

Meski, di dunia panggung sekalipun, Jangkung dan Kalong belum berhasil menghentikan keretakan Indonesia, setidaknya sudah ada usaha. Nah di dunia nyata, bagaimana. Cak Nun berbisik pada saya, “tidak usah mencari mereka ada dimana, karena setiap kita adalah Jangkung dan Kalong yang sedang ditantang oleh sejarah untuk ‘memaiyahkan’ Nusantara”. (Anton Sudibyo)

You might also like

Comments are closed.