Tahukah Kamu? Ada 3 Bioskop yang Pernah Berjaya di Kawasan Johar

Layar Lebar Dibuka Hingga Tengah Malam

Toko-toko berdiri, gedung bioskop pun tak ketinggalan. Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, ada tiga bioskop di kawasan Johar yang menjadi kebanggan warga Semarang

PADA tahun 1800 an, kawasan Pasa Johar Semarang merupakan alun – alun. Di sisi barat alun-alun itu terdapat bangunan penjara. Pasar Johar sendiri bermula dari tempat berjualan barang-barang kebutuhan para pembesuk tahanan.

Pada tahun 1931, pemerintah kota membangun Pasar Johar untuk menyatukan Pasar Pedamaran, Johar, Beteng, Jurnatan serta Pekojan. Dua tahun kemudian Pasar Johar dibangun dengan desain yang dirancang arsitek Belanda bernama Thomas Karsten.

 

 

Pada 1955, Pasar Johar menjadi pasar terbesar di Asia Tenggara dengan arsitektur dan manajemen yang baik. Dalam perkembangannya, pedagang Pasar Johar tidak hanya terbatas dari orang Semarang namun juga orang luar Semarang.

Perkembangan Pasar Johar memberi dampak pada ruang sekitarnya. Pemukiman di kawasan Johar berubah menjadi fungsi komersial dan jasa. Toko-toko berdiri, gedung bioskop pun tak ketinggalan. Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, ada tiga bioskop di kawasan Johar yang menjadi kebanggan warga Semarang.

Berikut adalah beberapa hal tentang tiga bioskop tersebut yang berhasil kami himpun. Kami mewawancarai beberapa orang yang pernah menonton film di ketiga tempat tersebut.

 

Rahayu Theater

bioskop johar
Bekas gedung Rahayu Theater yang kini menjadi toko pakaian TREND. (foto: metrosemarang/JEssica Celia)

Bioskop ini berdiri di tepi alun-alun. Pendirinya menarget konsumen kalangan menengah ke bawah. Film yang diputar beragam, sehingga bioskop ini menjadi salah satu bioskop yang populer di masanya.

Seiring dengan merosotnya minat dan produksi film-film dalam negeri, bioskop inipun tutup. Saat ini gedung bekas bioskop ini beralih fungsi menjadi toko pakaian yang menjual pakaian anak-anak hingga dewasa. Jika melintas di kawasan Johar dan melihat toko bernama TREND, di situlah dahulu gedung Rahayu Theater berjaya.

 

Matahari Johar

Pernah ada pula bioskop di dalam gedung Semarang Center Djohar (SCD) yang tenar dengan sebutan Matahari Johar. Dahulu, SCD merupakan mal yang lumayan besar. Bioskop di dalamnya dibuka mulai pukul 17.00 hingga malam.

bioskop johar
Johar Trade Center, seringkali disebut dengan Matahari Johar. Dahulu ada bioskop di dalamnya yang memutar film hingga tengah malam. (foto: metrosemarang/Jessica Celia)

Banyak macam film yang diputar, mulai dari film drama animasi hingga film laga. Harga tiketnya hanya Rp 3.000 untuk menonton pada hari biasa. Sedangkan untuk menonton midnight, di atas pukul 24.00, harga tiketnya Rp 5.000. Tapi tentunya, nilai uang tersebut saat itu bisa dibilang tidak murah-murah amat.

Sayangnya, bioskop ini tutup seiring bangkrutnya mal tersebut. Kabarnya, sewa gedung yang direncanakan untuk 10 tahunpun baru terpakai separuh waktunya. Rumor beredar, bangkrutnya mal tersebut lantaran aksi pencurian yang marak di Matahari Johar.

Kini, gedung mal ini berfungsi sebagai tempat para pedagang pakaian, arloji, hingga kacamata. Barang-barang di tempat ini kini terkenal “berharga miring”. Pascakebakaran yang terjadi di Pasar Johar (yang terletak persis di depan Matahari Johar), tempat tersebut juga menjadi tempat penyambung berjualan sebagian pedagang Pasar Johar.

 

Kanjengan Theater

Jika kamu lahir pada tahun 2000-an, tentu asing dengan nama bioskop ini. Kanjengan Theater berada di kawasan Kanjengan (kini belakang Pasar Johar). Tempat ini masuk wilayah Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah. Dulu kawasan itu dikenal sebagai pusat jual beli emas.

bioskop johar
Gedung bakal Pasar Kanjengan yang baru. Dahulu di tempat ini berdiri gedung Kanjengan Theater. Ada kejutan film tiket fil murah setiap Hari Kamis. (foto: metrosemarang/Jessica Celia)

Layar lebar Kanjengan Theater dibuka pukul 15.00, 17.00, 19.00, 21.00 dan midnight show pada pukul 24.00. Ada yang unik di bioskop ini. Jika menonton film pada Hari Kamis, maka harga tiketnya hanya Rp 500 saja. Namun penonton tidak dapat memilih film yang akan ditonton. Film yang ditonton ditentukan oleh pengelola bioskop.

Nugroho Seno Widiarto, lewat akun instagramnya @nugroho_seno meninggalkan komentarnya tentang kenangan di Kanjengan Theater. “Waktu SD ada acara nobar (nonton bareng – red) film perjuangan di Kanjengan (theater),” begitu katanya.

Nugroho mengenang hal tersebut berlangsung sekitar tahun 1983-1986. Film yang ditonton adalah Kereta Api Terakhir yang dibintangi salah satunya oleh Gito Rollies. Berdasar penelusuran, film itu diproduksi tahun 1981. Menceritakan kisah pemindahan beberapa kereta api yang menjadi alat transportasi penting, pascagagalnya perundingan Linggar Jati.

Saat ini, Kanjengan Theater sudah tidak ada. Bahkan gedungnya pun tak berbekas. Di lahan dimana dulu berdiri Kanjengan Theater, kini telah berdiri gedung baru yang belum selesai dibangun, bakal Pasar Kanjengan baru. (*)

 

Penulis: Zahra Saraswati (magang), Jessica Celia R (magang)
Editor: Eka Handriana

 

You might also like

Comments are closed.