Tahun Berat di Bisnis Properti, Banyak Pengembang Dadakan Tumbang

METROSEMARANG.COM – 2016 adalah tahun yang sulit bagi dunia properti, khususnya bisnis penjualan perumahan. Betapa tidak, hasil penjualan yang tercatat oleh Real Estate Indonesia (REI) Jateng pada 2015 menjual 1.007 unit, namun pada akhir 2016 ini, unit yang terjual belum sampai separuh, tepatnya 461 unit.

Pameran Perumahan di Mal Ciputra Semarang digelar 8 hingga 19 Desember 2016. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

Lesunya penjualan perumahan ini membuat para pengembang dadakan yang baru saja merintis bisnis ini tumbang. Menurut Bendahara REI Jateng, Harmawan Mardiyanto, bertahan atau tidaknya pengembang dadakan ini merupakan seleksi alam.

“Mereka para pengembang tanpa badan hukum tersebut mungkin saja tergiur melihat geliat penjualan properti pada 2014. Sehingga mereka baru saja memulai tanpa fondasi berbisnis yang kuat,” kata dia, Kamis (8/12).
Hilangnya para pengembang tanpa badan hukum tersebut dikatakannya merupakan dampak positif di balik lesunya penjualan. Hal itu dikarenakan pembangunannya tidak sesuai aturan yang berlaku.

“Kalau kami pengembang yang masuk asosiasi punya aturan, misalnya mengembangkan di lahan minimal 1 hektar dan memperhatikan lingkungan. Mereka (pengembang dadakan) biasanya area 1.000 meter persegi saja berani dikembangkan dan mengabaikan infrastruktur,” paparnya.

Buah dari pengembangan yang dinilai serampangan ini juga berimbas ke pengembang yang masuk asosiasi. “Kami seringkali dituding jadi biang rusaknya lingkungan. Padahal penyebabnya bukan kami,” pungkasnya. (ade)

You might also like

Comments are closed.