Tahun Ini, 27 Ribu Situs Radikal dan Pornografi Diblokir Kominfo

METROSEMARANG.COM – Sebanyak 27 ribu situs yang memuat unsur radikalisme dan pornografi selama tahun ini telah diblokir oleh pemerintah Indonesia.

Diskusi pemanfaatan teknologi ITE di Gedung Gradhika, Jalan Pahlawan Semarang, Selasa (5/12).

Menurut Danny Januar Ismawan, Direktur Penyedia Ekosistem, Balai Pengelola dan Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BPPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), konten yang dimuat dalam situs tersebut kebanyakan melanggar aturan UU ITE sehingga patut untuk diberangus.

“Sejauh ini, kurang lebih ada 27 ribu situs termasuk yang memuat konten radikal dari laporan Direktur Informatika Kominfo yang diblack-list selama 2017. Kita melakukan pemblokiran dengan menggunakan mesin sensor yang tersedia di kantor pusat,” ungkap Danny, usai memaparkan strategi jitu dalam diskusi pemanfaatan teknologi ITE di Gedung Gradhika, Jalan Pahlawan Semarang, Selasa (5/12).

Danny menambahkan upaya ini merupakan pencegahan yang paling agresif yang dilakukan pihaknya untuk memberantas situs-situs berbahaya di jejaring media sosial.

Dengan mengaktifkan mesin sensor blokir, pihaknya bisa leluasa dalam memblokir setiap situs yang dianggap menyimpang dari aturan UU ITE.

“Yang pasti, kita menggencarkan pendekatan prefentif dan pendekatan yang lebih agresif,” tuturnya.

Walau begitu, ia mengakui bahwa tak mudah untuk membendung maraknya situs-situs berita hoax. Sebab, jumlahnya terus bermunculan seiring meningkatnya jumlah media sosial (medsos) yang ada saat ini.

“Kita tidak bisa membendung berita-berita hoax. Makanya, kita minta masyarakat berperan aktif menangkal berita yang bersifat hoax. Sekarang kita bekerjasama secara berkala dengan menggandeng perguruan tinggi, NGO dan komunitas di semua daerah,” bebernya.

Lebih lanjut, Danny juga mendorong pada anak muda untuk merekatkan persatuan tanpa perbedaan demi memerangi situs radikal.

“Dengan adanya konten negatif yang bisa memecah belah bangsa jadi perlu diminimalisir untuk merajut nilai-nilai kebhinnekaan,” kata Danny. (far)

You might also like

Comments are closed.