Tak Punya ‘House Culture’, Semarang Rawan Disusupi Kelompok Radikal

METROSEMARANG.COM – Kota Semarang yang punya masyarakat majemuk selama ini nyaris tidak memiliki sebuah ‘house culture’, akibatnya wilayah tersebut kini rawan disusupi kelompok-kelompok kecil yang membawa pengaruh radikalisme.

Pelarangan Pork Festival: Pengingkaran atas Kebhinnekaan Indonesia’, di Gedung LPUBTN Kota Lama, Senin (27/2). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Fakta tersebut mengemuka tatkala sejumlah aktivis dan pakar budaya menggelar diskusi terbuka yang bertajuk ‘Pelarangan Pork Festival: Pengingkaran atas Kebhinnekaan Indonesia’, di Gedung LPUBTN Kota Lama, Senin (27/2).

Fakta terkait pergerakan kelompok radikal tersebut bukanlah isapan jempol. Sebab, Tedi Kholiludin, Direktur Yayasan eLSa telah mencium gelagat mencurigakan sejak lama. Tedi mengatakan sejak dua tahun terakhir kasus intoleransi tanpa diduga merebak di seluruh penjuru kota.

“Penolakan Pork Festival dan Cap Go Meh baru segelintir kasus yang menyeruak di permukaan. Jauh sebelum itu, masih ada kasus-kasus lainnya seperti yang dialami Ibu Shinta Nuriyah Wahid saat berbuka puasa di Gereja Yebedus Pudakpayung serta seorang pelajar berinisial ZNR yang sempat tidak naik kelas gara-gara persoalan agama yang ia anut,” ungkap Tedi.

Ia bilang kasus intoleran tersebut dipicu pergerakan segerombolan orang yang mengatasnamakan agama. Berulang kali orang-orang yang tak jelas asal-usulnya terus-menerus memancing keributan jika ada acara keagamaan.

“Dan ada orang-orang yang sengaja memanfaatkan Semarang sebagai panggung baru untuk menunjukkan eksistensinya, ini yang patut disayangkan,” kata Tedi.

“Pergerakannya dipicu sel-sel kecil yang sengaja disusupi oleh tokoh sel lama. Orang-orang macam ini tinggalnya enggak di Semarang, melainkan di daerah satelit sekitarnya,” ujarnya, seraya menunjukan peta Kota Semarang yang diapit wilayah Kendal, Demak, Kudus dan Ungaran.

Bila situasi ini tak segera diantisipasi, Tedi khawatir nantinya Kota Lumpia yang dihuni berbagai macam budaya dan agama akan berubah jadi ‘teater agama’. “Ini pernah terjadi di Ambon, orang-orang berpikir kalau saat itu umat Muslim dibentrokkan dengan kaum Nasrani,” terangnya.

Meski begitu, ia optimistis pergerakan mereka dapat diantisipasi dengan menguatkan koordinasi dengan aparat kepolisian, TNI dan jajaran Pemkot Semarang.

Sedangkan Turnomo Raharjo, seorang pakar Komunikasi Antar Budaya juga mengendus gelagat yang sama. Ini bahaya, menurut dia karena kondisinya berbeda jauh dengan kota-kota besar lainnya.

“Di Semarang gampang dimasuki warga pendatang sehingga mereka dengan mudah menunjukkan karakternya siapa yang salah siapa, yang benar. Beda cerita ketika kita menengok ke Jawa Barat yang punya ciri khas Pasundan, Sampit dengan budaya Dayak serta Kota Medan dengan adat Melayu. Semarang ini enggak ada sama sekali,” cetusnya.

Diskusi terbuka tersebut juga menghadirkan Firdaus Adinegoro penggagas Pork Festival yang belum lama ini ditentang ormas Islam. Ia ke depan menginginkan agar keamanan kondusif tanpa gejolak. (far)

You might also like

Comments are closed.