Tamam Masih Trauma Rumahnya Tertimpa Longsor

Tamam menunjukkan kamarnya yang tertimpa longsor. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad
Tamam menunjukkan kamarnya yang tertimpa longsor. Foto: metrosemarang.com/khoiruddin muhammad

METROSEMARANG.COM – Longsor yang menerjang enam rumah di Winong Sari RT 1 RW 2 Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Rabu (27/1) dinihari masih menyisakan trauma bagi para korban. Mereka memilih berjaga-jaga di luar rumah untuk mengantisipasi longsor susulan.

Enam rumah yang terdampak longsor tersebut masing-masing milik Suparman, Sunarto, Samto ambrol, Muhtamam, Saifuddin, dan Sapuan.

Menurut penuuran Muhtamam, saat peristiwa itu terjadi, sekitar pukul 01.15, dia masih terjaga. Tamam masih ingat peristiwa longsor yang hampir menimbun dirinya. Meskipun temboknya runtuh, kayu usuk atap rumahnya yang roboh masih kuat menahan reruntuhan longsor yang menerjang kamarnya.

“Rasanya seperti hujan bunyinya kretek-kretek gitu. Dikira hujan, tiba-tiba brukkk di depan tempat tidur saya,” kata Muhtamam saat ditemui di rumahnya, Rabu (27/1).

Dia pun masih belum sadar kalau terjadi longsor di belakang rumahnya. Dia mulai sadar dan akhirnya terbangun setelah melihat langit-langit ketika menghadap ke atap.

“Saya lihat, kok rumah saya ambruk kenapa? Saya lihat usuk atap rumah disebelah selatan kelihatan langit. Waduh tertimpa pondasi,” katanya.

Kondisi bangunan rumah di lokasi memang cukup rawan longsor. Tinggi antar rumah Muhtamam dengan rumah di belakangnya mencapai 8 meter. Letaknya di perbukitan membuat semakin rawan longsor.

Dia bahkan menjebol pintu rumahnya agar bisa keluar dari reruntuhan material longsor. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Namun, kamar mandi, semua perabot rumah tangga yang berada di dapur hingga mesin cuci rusak tertimbun longsor. “Kalau kagetnya si enggak, cuman saya masih trauma,” ungkapnya. (CR-08)

You might also like

Comments are closed.