Tataa Chubby, Kompetisi dan PSSI

Deudeuh 'Tata Chubby' Foto: twitter @tataa_chubby
Deudeuh ‘Tata Chubby’
Foto: twitter @tataa_chubby

NAMA Tata Chubby menjadi topik hangat yang menghiasi media dalam empat hari terakhir. Ya, Tata Chubby adalah akun twitter milik Deudeuh Alfisahrin (26) wanita yang tewas mengenaskan setelah dihabisi pelanggan atau pengguna layanan seks yang dia tawarkan.

Kematian Tata sekaligus membuka tabir kelam tentang perilakunya yang mungkin masih dianggap tabu bagi masyarakat. Lewat akun @tataa_chubby, Deudeuh eksis di jagad maya. Tak sekadar eksis, dia juga terang-terangan mengklaim sebagai wanita pemuas seks.

Di akun pribadinya, Tata juga mencantumkan ‘rule of the game’ bagi siapa saja yang ingin menggunakan jasanya. Mulai tarif, jasa servis hingga kewajiban memakai kondom, semua ditulis jelas olehnya. Tegas!

Tata seratus persen sadar bahwa bisnis yang dia lakoni menantang maut. Sang janda cantik ini juga menyadari bahwa kesehatan adalah aset berharga yang wajib dia jaga. Karena itulah aturan diterbitkan.

Kisah pilu Deudeuh ‘Tata Chubby’ ini hampir sama dengan nasib kompetisi yang kita punya. Kompetisi yang menjadi kebanggaan bagi para atlet maupun klub-klub yang bernaung di dalamnya, kini tengah ‘mati suri’.

Indonesia Super League (ISL) yang menjelang detik-detik akhir berganti menjadi Qatar National Bank (QNB) League sebagai kompetisi level tertinggi di negeri ini, terancam kandas di tengah jalan. Konflik Kemenpora dan PSSI belum ada titik temu, yang belakangan konon juga menyeret FIFA dalam pusaran ini.

Lantas apa kaitannya antara Tata dan PSSI? Sederhana saja, ‘rule of the game’. Tata boleh saja dipandang sebelah mata karena profesinya, tapi dia sangat menghormati aturan yang sudah dia buat sendiri.

Mungkin saja Tata akan melunak jika ada yang mengibaskan uang dalam jumlah besar, namun aturan tetap saja aturan. Ketika si pembuat aturan sudah abai, maka kehancuran siap menerkam.

Tata memang akhirnya terbunuh bukan karena mengingkari aturannya sendiri. Tapi, mungkin dia lupa, ada aturan tak tertulis bagi seorang pedagang bahwa pembeli adalah raja. Ketika sang raja terluka, bersiaplah untuk menerima murkanya. Dan itulah yang dialami Tata.

Kembali lagi soal susahnya memutar roda kompetisi di negeri ini. PT Liga Indonesia selaku operator kompetisi yang menginduk pada PSSI, pastinya juga sudah punya aturan-aturan baku yang wajib dihormati semua klub yang bernaung di dalamnya, tanpa terkecuali.

Tapi, apa yang terjadi? Tak perlu dibahas di sini. Yang jelas, sampai musim ini roda kompetisi tak pernah bisa bergulir tepat waktu. Sudah terlalu banyak masalah yang melilit dunia sepakbola kita, sampai-sampai tanpa disadari prestasi Timnas kita sudah dilewati negara bekas provinsinya sendiri, Timor Leste.

Malu? Iya. Tapi, malu saja tidak cukup ampuh untuk mengubah nasib sepakbola kita, ketika kita tak pernah bisa menghormati ‘rule of the game’. (*)

You might also like

Comments are closed.