Teater, Bukan Sembarang Pertunjukan

Adegan Tuan dan Istri dalam pementasan 'Nyonya Nyonya' Teater Asa UIN Walisongo, Rabu (29/4). Foto: metrosemarang.com/dok
Adegan Tuan dan Istri dalam pementasan ‘Nyonya Nyonya’ Teater Asa UIN Walisongo, Rabu (29/4). Foto: metrosemarang.com/dok

SALAH satu jenis kesenian yang paling lengkap alias komplit ialah Teater. Dimana semua elemen ikut mendukung dan menentukan jalannya proses hingga menjadi sebuah pertunjukan. Seperti Rabu (29/4) malam lalu, Teater Asa Universitas Islam Negeri Walisongo menggelar pertunjukan dengan naskah Nyonya-Nyonya, diawali dengan musik mokongan Asa.

Musik Mokong Asa ini bukan merupakan ilustrasi langsung dalam pertunjukan Nyonya-Nyonya, melainkan  sebagai musik pembuka. Atau bisa dikatakan, musik pengantar suasana kepada para penonton sebelum akhirnya mereka menyaksikan pertunjukan teater.

Ketika suasana mulai hening, lampu padam, pertunjukan  yang mengangkat naskah karya Wisran Hadi ini di mulai. Sekitar 300 penonton memenuhi ruang Auditorium Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, tentunya dari berbagai kalangan dan bermacam latar belakang.

Pertunjukan dimulai dengan iringan ilustrasi, Tuan Wirawan, seorang pedagang barang antik, muncul dengan kemeja putihnya. Dalam rintik hujan dan petir yang beberapa kali menggelegar, Tuan Wirawan bergumam dengan dialognya bahwa cuaca tak lagi dapat diprediksi. Berdiri di teras rumah seorang Nyonya tanpa suami di rumah, rupanya memicu konflik. Nyonya keberatan karena menganggap Tuan tak menghargai norma sopan santun dan takut dinilai macam-macam sama tetangga.

Bukannya pergi, Tuan malah menghargai keberatan Nyonya dengan uang. Ia pun membeli sepetak lantai marmer agar terus diijinkan berdiri di teras rumah. berlanjut membeli kursi tamu agar bisa duduk di rumah Nyonya. Malu-malu mau, Nyonyapun mengiyakan dan menerima sejumlah uang.

Konflik meruncing dengan kehadiran tiga keponakan Nyonya yang datang dari tanah Minang, menuntut pembagian harta pusaka keluarga. Budaya matrilineal membuat para keponakan merasa berhak mendapat harta dari suami Nyonya yang berasal dari keluarga Minang.

Sampai di sini, sebagian dialog memang jelas mempermasalahkan harta pusaka yang kemudian dikaitkan dengan status suami Nyonya, dan adat Minangkabau. Namun keterkaitan isi penyampaian dan beberapa adegan Tuan bersama Istri terlihat susah untuk diterima oleh penonton. Ini terbukti ketika penonton menanyakan beberapa pertanyaan dasar pada forum diskusi usai pertunjukan.

Salah satu pertanyaan tersebut ialah lebih dominannya sisi matre seorang perempuan. Pertanyaan berikutnya, mengenai beberapa adegan yang secara gamblang disuguhkan dalam bentuk realis namun alur pergantian adegan justru masih tidak jelas. Contohnya, adegan keponakan yang meraung-raung dengan tangis mengabarkan sang paman meninggal lantas tiba-tiba disusul sang Istri Tuan Wirawan yang pada tempat dan waktu yang sama dipertemukan. Di sini keterkaitan antaradegan belum nampak jelas.

Diskusi malam itu pun terasa mati. Beberapa penonton terlihat mundur lebih dulu meninggalkan diskusi. Mungkin mereka bosan, atau merasa suasana diskusi sudah tidak kondusif. Sebagian yang tetap bertahan mungkin dikarenakan ada hal lain yang mengharuskan mereka tetap berada di tempat. Lebih lagi beberapa pertanyaan dari peserta diskusi ditanggapi hanya sebatas jawaban dan tanpa didasari argumen yang kuat.

Sekali lagi, pementasan teater malam itu membuka mata kita untuk tidak sembarang menelan mentah-mentah atas apa yang kita baca, kita lihat, dan kita dengar. Ini berlaku untuk semuanya, termasuk diantaranya mencipta sebuah karya, baik ide maupun gagasan apapun harus dilandasi sebuah dasar yang kuat.

Lebih-lebih Pementasan Teater merupakan bentuk kesenian yang komplit. Semua yang terlibat baik tim penggarap, bahkan penonton harus jeli untuk memilih pertunjukan yang tidak hanya berupa atau berakhir dengan pesta tawa bahak. (*)

Ika Fariatul Laila

Pegiat Teater Asal Jepara

Tinggal di Semarang

You might also like

Comments are closed.