Teater, Hiburan yang Mencerdaskan

Pementasan Kalabendu oleh Teater Lingkar di TBRS, Jumat (17/4) malam. Pentas teater bisa menjadi alternatif hiburan yang mencerdaskan. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Pementasan Kalabendu oleh Teater Lingkar di TBRS, Jumat (17/4) malam. Pentas teater bisa menjadi alternatif hiburan yang mencerdaskan. Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

TEATER memang sudah menjadi salah satu hiburan alternatif di Kota Semarang. Hampir tiap bulan, sejak saya merantau di kota ini sepuluh tahun lalu, dipastikan ada satu hingga dua pementasan.

Wajar saja, kota yang belum memiliki tempat pementasan yang representatif ini, justru banyak tumbuh kembang kelompok teater, terutama di kampus atau perguruan tinggi. Mereka bersinergi, dan saling berolah seni dengan wadah Forum Teater Kampus Semarang (Fotkas).

Di bulan Mei ini, bahkan sederetan agenda pementasan teater sudah terpampang, tersebar di wajah pamflet dan baliho. Ya, ini menarik. Teater bukan hanya bergeliat, tapi bisa jadi bergerak, jalan, dan berlari kencang. Menurutku.

Begini, itu hanya pandangan saya terhadap perkembangan teater di Kota Semarang, bisa jadi keliru. Tapi, di balik pementasan teater ada yang lebih menarik untuk diperbincangkan yakni motifasi kelompok yang menampilkan karyanya dengan penonton. Ngapain mereka pentas, kaitannya dengan naskah? Ngapain pula para penonton rela datang dan membeli tiket, kalau tidak gratis?

Hiburan. Ya, kelompok teater menampilkan hasil garapannya hanya untuk menghibur, dan penonton berbondong hanya untuk mendapatkan hiburan. Tapi hiburan yang bagaimana, dalam konteks ini?

Ki Enthus Susmono, seorang dalang yang kini bersandang gelar Bupati Tegal pernah menyampaikan bahwa kesenian itu bisa berfungsi sebagai kritik terhadap pemerintah yang tidak berpijak kepada rakyat, atau sebagai umpan pesan kepada masyarakat.

Pendapat lain, misalnya disampaikan Nano Riantiarno teater adalah tontonan yang sempurna. Sebab, di dalamnya semua jenis kesenian ada, mulai dari drama, tari (tubuh) hingga musik.

Selain cerita, teater juga mengandung unsur estetik yang tergarap sesuai dramarturgi. Banyak hal yang ada di dalam kesenian ini.

Nah, dari sini saya berpikir istilah ‘hiburan’ bukan hanya sekedar membuat orang terbahak, tersenyum, atau melegakan penat belaka. Melainkan, mentransferkan intelektualitas yang terstruktur di dalam pementasan. Sehingga, indera kita dapat menangkap peristiwa yang terjadi di atas pangung, untuk kemudian dikirim ke otak dan diolah di dalam kepala.

Maka, teater itu akan terus hidup di kepala siapa saja yang menontonnya. Berhari-hari, berbulan-bulan, dan berwaktu-waktu, sampai yang hidup itu menginspirasi untuk kembali berbuat sesuatu. Di kehidupan nyata, ataupun kembali ke panggung.

Ya, saya menyebut teater adalah hiburan yang mencerdaskan!

Tak berlebihan, jika saya mengatakan sangat konyol bagi sebuah kelompok teater yang menampilkan karyanya hanya untuk mengocok perut penonton tanpa muatan intelektualitas yang disuguhkan. Sederhana saya, teater tentu sangat berbeda dengan penampilan DJ di discotik yang bising yang harus dinikmati dengan geleng-geleng, atau panggung dangdut, yang identik dengan bokong dan dada. Ahay..

Tulisan ini, bermula dari pertanyaan yang menggelombang di kepala saya, saat diskusi seusai penampilan Teater Getar IAIN Salatiga dalam naskah Orang Kasar karya Anton Chekhov, Kamis (9/4) malam. Ruang Auditorium I UIN Walisongo Semarang begitu ramai, saling silang pendapat terkait visual naskah saduran WS Rendra ini.

Namun, sayang, oh beribu sayang, perjalanan diskusi yang ngebut itu tiba-tiba berhenti mendadak.

“Kami tidak menawarkan apapun pada pertunjukan ini. Kalau dibilang hanya lawakan ya memang, karena kami hanya ingin menghibur penonton saja,” ujar salah seorang punggawa Teater Getar, seperti menjadi rem, greg. Mendadak tak ada sahut pendapat. Obrolan menjadi terasa aneh.

Sampai saat ini, pertanyaan itu masih tersimpan rapi di kepalaku. Hiburan macam apa yang ditawarkan dalam teater, siapa yang mau menjawab?(*)

 

Setiawan. W

Pekerja teater asal Jepara

Tinggal di Kota Semarang

You might also like

Comments are closed.