Tebar Pesona di Bulan Puasa, Sejumlah PSK Diangkut Satpol PP

METROSEMARANG.COM – Satpol PP Kabupaten Demak tidak memberikan ampun bagi pekerja seks komersial (PSK) yang beroperasi di bulan Ramadan. Selama ini, petugas terus melakukan razia baik malam maupun siang hari.

Sejumlah PSK yang berhasil diamankan Satpol PP Demak. Foto: dok metrojateng.com

Memasuki bulan Ramadan, petugas telah menemukan sejumlah pekerja seks komersial (PSK) nekat menjajakan diri di siang hari. Para PSK berusia lebih dari 50 tahun itu diangkut dari di Pasar Jebor.

Kemudian dibawa ke Kantor Satpol PP guna pendataan. Selain PSK, petugas juga mengamankan tiga pengamen dan tiga gelandangan.

Kepala Satpol PP Kabupaten Demak, Bambang Saptoro menyampaikan bahwa selama memasuki bulan Ramadan pihaknya sudah dua kali melaksanakan operasi penyakit masyarakat (pekat).

“Operasi ini dilaksanakan untuk memberantas pekat, supaya masyarakat Demak dapat menjalankan ibadah puasa tanpa ada gangguan,” ujarnya, Selasa (6/6)

Operasi pekat tersebut berdasar atas Perda No 2 tahun 2015 tentang penyakit masyarakat. Bagi mereka yang terjaring dalam operasi nantinya akan dilakukan pendataan dan pembinaan.

“Akan diberi pembinaan dan dikirim ke panti. Bagi PSK juga akan dicek kesehatannya di panti,” terangnya.

Namun, jika yang bersangkutan melakukan pelanggaran lagi, maka akan ditindak secara hukum. “Ada beberapa PSK yang kami bawa ke tipiring (tindak pidana ringan). Kami akan tindak tegas,” tandasnya.

Di hadapan petugas, Sumiyati, mengaku terpaksa menjadi PSK karena persoalan perekonomian. Dia harua mengurus dan memenuhi kebutuhan keempat anaknya, tanpa suami.

“Bagaimana lagi, suami sudah cerai. Saya sendiri yang mengurus empat anak,” katanya.

Dalam sehari, dirinya mampu mendapatkan pelanggan satu sampai dua orang. Satu kali melayani, dia memberi tarif Rp 50 ribu.

“Satu sampai dua orang pelanggan dalam sehari. Tapi, kadang tidak ada sama sekali kalau sepi. Saya pasang tarif Rp 50 ribu,” lanjutnya.

Diakuinya, pernah berniat akan berhenti sebagai PSK dan beralih menjadi pedagang di pasar. Namun, hal itu belum terwujud karena terkendala minimnya modal. “Ingin berjualan, tapi tidak punya modal,” paparnya. (metrojateng.com/MJ-23)

You might also like

Comments are closed.