Teh Liang 03, Resep Peranakan Sejuk di Kerongkongan

Dari Medan ke Semarang

Teh liang ini tidak terlalu manis. Jauh dari rasa sepat, meskipun terlihat pekat. Air kelapa adalah ciri khasnya.

TEH Liang Medan 03. Gerobaknya berwarna hijau tua, penjualnya sungguh cekatan. Air tehnya lebih gelap dari teh biasa, terasa sejuk di kerongkongan. Yang seperti itu bisa ditemui di Pasar Prembaen, Kota Semarang, saban pagi.

Jangan cari plang penanda pasar, tidak akan ketemu, karena memang tidak ada. Ini adalah pasar yang puluhan tahun bertempat di sepanjang Gang Prembaen di pinggir Jalan Depok. Tidak jauh dari persimpangan Jalan Pemuda, Jalan Piere Tendean dan Jalan Thamrin.

Jangan terlampau siang ke sana, jika ingin mencicipi liang teh buatan Riyanto di gerobak itu. Sebab biasanya, 40 liter liang teh yang dibawa Riyanto dari rumahnya di kampung Kauman-Semarang, tandas saat tengah hari. Bagaimana tidak cepat habis, kalau seporsi teh senikmat itu bisa dibeli hanya dengan Rp1.000 saja?

Satu cangkir teh liang, hasil rebusan daun teh kering, cincau hitam, gula pasir, gula aren dan alang-alang, dituang ke gelas panjang. Dicampur dengan setengah cangkir air kelapa, ditambah es batu jika suka. Racikan di gelas panjang dituang ke kantong plastik bening, siap diseruput meluncur di keringnya kerongkongan.

Akar alang-alang mengandung air, karbohidrat, serat, abu, monitol, sakarosa, glukosa, malic acid, citric acid, arundoin, cyllindrin, fernenol, simiarenol, anemonin yang berguna untuk memperancar pengeluaran air seni (diuretik), menurunkan panas (antiperitik) dan menurunkan tekanan darah. (Bambang Mursito, Ramuan Tradisional Untuk Kesehatan Anak, Penerbit Penebar Swadaya)

JELAJAH Teh Liang Medan #Metrosemarang #beritasemarang #semarang

A post shared by metrosemarang.com (@metrosemarang) on

Teh liang ini tidak terlalu manis. Jauh dari rasa sepat, meskipun terlihat pekat. Warna hitam di dalam air teh berasal dari cincau hitam yang direbus. Butuh tiga jam perebusan untuk mendapat warna yang gelap dan rasa yang membaur.

Cincau hitam merupakan gel berwarna hitam kecoklatan yang biasa dipakai untuk bahan makanan pencuci mulut (dessert gel). Terbuat dari ekstrak daun janggelan (Mesona Palutris BL) yang dapat menghasilkan komponen hidrokoloid yang berfungsi membentuk gel. Tanaman ini tersebar di Jawa, Sulawesi, Bali dan Lombok.

Pembuatan cincau hitam seringkali memakai abu qi, yang diperoleh dari pembakaran tangkai padi. Selain karbohidtrat, protein dan lemak, cincau hitam juga mengandung kalsium, fosfor dan zat besi.

(Dr  Rokhani Hasbullah, Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor)

Air kepala pada Teh Liang 03 merupakan bahan tambahan yang diberikan Riyanto sejak awal berjualan teh liang tahun 2003. “Supaya rasanya khas, juga buat jaga kualitas,” kata Riyanto yang beroleh resep teh liang dari adik iparnya, seorang perempuan peranakan asal Medan. Riyanto membawa resep itu dari Purwokerto, tempat asalnya.

Di tempat asal Riyanto, air kelapa tidak banyak digunakan untuk minuman atau makanan, kecuali air kelapa yang masih muda. “Kebanyakan air dari kelapa tua itu dibuang. Di sini saya pakai,” ujar Riyanto. Ia mendapat air kelapa dengan membeli dari penjual kelapa parut yang gerobaknya tak jauh dari gerobak Teh Liang.

 

Minuman Peranakan

Di Semarang, selain di Pasar Prembaen, teh liang juga dijual di Pasar Semawis. Itu merupakan pasar temporer petang hingga malam, pada akhir pekan di Gang Pinggir kawasan Pecinan, Semarang. Teh liang di Pasar Semawis tidak memakai nama “medan” di belakangnya. Bisa jadi resepnya bukan dari medan.

Teh liang bisa dibilang minuman khas peranakan, berkhasiat meredakan radang tenggorokan dan mengusir panas dalam. “Liang” sering diartikan sebagai “dingin”. Dalam kamus Mandarin-Indonesia, ada kata “liángshuǎng” (凉爽) yang diterjemahkan menjadi “sejuk”. Resepnya berasal dari kantong-kantong pemukiman etnis Tionghoa.

Lain teh liang medan, lain pula teh liang Pontianak. Di Pontianak, disebut liang teh atau liong cah. Ada tambahan daun kumis kucing dan andong-andong kerang, juga daun mint. Tidak selalu ditambah gula. Penyajian tanpa gula akan menonjolkan rasa pahit, namun kabarnya lebih berkhasiat.

Bukan berarti yang ditambah gula seperti buatan Riyanto tidak manjur. Yang jelas, untuk hawa Semarang yang sedang terik-teriknya seperti ini, teh liang medang buatan Riyanto betul-betul membuat badan adem. Tapi jika kesiangan ke Pasar Prembaen, atau tidak menemukan Riyanto di sana, semoga beruntung bertemu ia di jalan. “Kalau sudah siang dan sisa sedikit, saya keliling,” kata dia. (*)

 

You might also like

Leave A Reply