Teladan Fransiskus Assisi, Hewan dan Manusia Dalam Harmoni

Pemberkatan Hewan di Gereja Bongsari

Sekumpulan hewan, sejatinya bisa membantu manusia dalam mengetahui perubahan alam. Setiap hewan biasanya menunjukkan gerak-gerik sebagai pertanda

FRANSISKUS bersitegang dengan ayahnya, Petrus Bernardone. Ia menolak untuk kembali bertempur memenangkan peperangan, setelah sebelumnya Fransiskus turut berperang membela Kota Assisi melawan penduduk Kota Perugia.

Dalam keadaan tidak sepaham dengan sang ayah itu, Fransiskus menjauh dari pemukiman. Ia bercengkerama dengan rusa, burung, kelinci dan ayam yang ia temui di hutan.

Cerita itu dikisahkan dalam bagian kedua dari film animasi berjudul Francesco D’Assisi. Film yang disutradarai oleh Jorge Gonzales dan Steven Hahn itu dibuat berdasar kisah nyata yang ditulis oleh Terry Vorndran Nichols.

Fransiskus itu tak lain adalah yang kini dikenal dan dikenang sebagai Santo Fransiskus Assisi. Masa-masa ketegangan dengan sang ayah itu tak jauh dari titik balik Fransiskus dalam menjalani kehidupannya.

Assisi kini merupakan nama sebuah kota di Provinsi Perugia, Wilayah Umbria, Italia. Beberapa sumber menuliskan nama Fransiskus dengan Francesco. Nama ayah Fransiskus tertulis sebagai Pietro Bernardone pada beberapa sumber.

Menurut catatan Ordo Fratrum Minorum, St. Mikael Malaikat Agung Indonesia, Fransiskus muda hidup dalam kekayaan, kemewahan dan pesta pora. Ia dikagumi dan selalu berusaha keras melebihi semua orang lain dalam hal suka pamer, kemuliaan sia-sia, olok-olok, menarik perhatian, lelucon murahan, omong kosong, dan nyanyian.

Ia juga dikenal berpakaian yang amat halus sebab Fransiskus sangat kaya. Ayahnya adalah saudagar kain yang sukses. Fransiskus (atau Francesco) adalah nama pemberian ayahnya, menggantikan nama Yohanes pemberian sang ibu, Pica. Nama Fransiskus diberikan sang ayah lantaran kekagumannya pada Prancis. Petrus sedang berada di Prancis ketika Fransiskus lahir, tahun 1182.

Saat Fransiskus muda ingin menjadi seorang ksatria, ayahnya memberi dukungan penuh. Pada masa itu, ksatria merupakan simbol dan status terpandang yang diperoleh berkat kemenangan di medan pertempuran. Itulah yang membuat Petrus Bernardone berang ketika mendapati Fransiskus menolak kembali berperang.

Selanjutnya, Fransiskus pergi meninggalkan kemewahan hidupnya, merawat orang-orang kusta, hingga mendirikan ordo yang kemudian terus berkembang pada tahun 1200-an. Yang tidak berubah adalah kegemarannya bercengkerama dengan binatang. Legenda mencatat Santo Fransiskus berkhotbah dengan burung-burung dan binatang lain, selain kepada manusia.

Hingga kini, ia dikenal sebagai Santo Pelindung bagi binatang dan lingkungan hidup. Patungnya seringkali diletakkan di taman, untuk menghormati minatnya terhadap alam. Pestanya dirayakan setiap Oktober.

 

Pemberkatan Hewan

Pesta setiap Oktober itu pula yang digelar umat Katolik di Gereja Paroki Santa Theresia Bongsari, Semarang. Sekumpulan hewan ada di gereja itu pada Minggu, 21 Oktober 2018 siang. Mereka dikumpulkan untuk diberkati dalam upacara pemberkatan yang dipimpin oleh Romo Eduardus Didik Cahyono SJ.

pemberkatan hewan
Seekor anak anjing sedang diberkati oleh Romo Eduardus Didik Cahyono SJ. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Ada 50 hewan yang didatangkan dari seluruh penjuru Kota Semarang. Diantaranya ada sepasang kura-kura milik warga dan lima anjing pelacak milik Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Para anjing tersebut kerap dipakai tim SAR untuk mengendus mayat-mayat di lokasi gempa bumi, longsor maupun banjir.

“Yang ini namanya Ramies. Dia ras Pointer. Usianya 2,5 tahun. Ramsies ini pernah melacak keberadaan 13 mayat yang tertimbun longsor di Brebes. Dia ahli menemukan sumber bau mayat sehingga memudahkan kita mengevakuasi mayat-mayat korban bencana alam,” ungkap Brigadir Yusuf Binu, Kasubdit Harvet K9 Polda Jateng.

 

Teladan Santo Fransiskus Assisi

Santo Fransiskus Asisi dikenal sebagai sosok pecinta damai. Kerendahan hati mendorongnya untuk selalu mendoakan satwa liar sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Pemberkatan yang dipimpin Romo Eduardus dimaksudkan untuk mengajak warga Semarang lebih bersahabat dengan hewan.

Sekumpulan hewan, sejatinya bisa membantu manusia dalam mengetahui perubahan alam. Setiap hewan biasanya menunjukkan keanehan gerak-gerik sebagai pertanda. Ketika semut keluar dari tanah, itu pertanda perubahan cuaca. Begitupun dengan binatang di laut juga berperilaku serupa.

pemberkatan hewan
Anjing pelacak milik Polda Jawa Tengah setelah upacara pemberkatan. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

“Pemberkatan satwa ini sangat relevan sekali bagi kehidupan manusia di masa kini. Bagaimana binatang bisa membantu kita dengan memberi sinyal lewat gerak-geriknya. Kita tidak boleh cuek terhadap hewan di sekitar kita,” ujar Romo Didik.

Romo Didik mengatakan, meneladani Santo Fransiskus Assisi berarti terus meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian alam semesta. “Manusia dan hewan, semestinya mampu hidup harmonis,” kata Romo Didik.

Yusuf Binu dari K9 sepakat dengan Romo Didik. Menurutnya, anjing bukan musuh manusia, melainkan sahabat yang baik bagi manusia. “Anjing bukan hewan yang najis, jangan dijauhi. Ia harus dirawat, sehingga bisa menjaga keselamatan pemiliknya,” pungkas Yusuf. (*)

Reporter: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana

 

 

Comments are closed.