Terbelit Finansial, Pabrik Garmen di Jateng Gagal Bayar Upah Buruh

METROSEMARANG.COM – Puluhan pabrik garmen di Jawa Tengah kedapatan menunda pembayaran gaji buruh sesuai Upah Minimum Kota (UMK) 2016 sesuai keputusan yang telah digetok oleh Gubernur Ganjar Pranowo.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi mengatakan, penundaan pembayaran UMK karena pemilik perusahaan garmen memiliki tanggungan jumlah karyawan yang sangat banyak.

Ilustrasi Foto: metrosemarang.com/dok
Ilustrasi
Foto: metrosemarang.com/dok

“Jumlahnya ada sekitar 10 pabrik dimana sejak pertengahan Januari minta penangguhan pembayaran UMK buruh. Tapi kalau hingga enam bulan kondisinya tak membaik maka akan dijatuhi sanksi tegas,” kata Frans saat dikonfirmasi metrosemarang.com, Minggu (13/3).

Penundaan pembayaran UMK karena kondisi finansial pabrik garmen di Jawa Tengah tak kunjung stabil. Terlebih lagi saat ini mereka menghadapi persaingan ketat di pasar bebas ASEAN. “Itu yang membuat mereka kepayahan membayar gaji buruh sesuai patokan UMK,” sambungnya

Ia mengungkapkan kesepuluh perusahaan garmen itu berada di Surakarta, Jepara dan beberapa daerah lainnya di 35 kabupaten/kota. Selama terbelit masalah finansial, pemilik perusahaan garmen di Jawa Tengah saat ini meminta kepada Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri untuk memberikan keringanan aturan dalam pembayaran gaji buruh.

“Walaupun mereka sekarang tidak sanggup bayar gaji buruh, tapi belum ada satupun yang melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawannya. Pegawai garmen masih bekerja nomal,” ujar Frans. (far)

You might also like

Comments are closed.