Tergoda Sabu, Pak Guru Ngaji Batal Berangkat Umrah

METROSEMARANG.COM – Usianya sudah hampir setengah abad, tapi Agung Rukiyanto (47) justru terancam menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara. Semuanya gara-gara serbuk setan bernama sabu-sabu. Guru mengaji itu juga kehilangan kesempatan menunaikan ibadah umrah.

Dua kurir sabu diringkus BNN Jateng. Foto: metrosemarang.com/efendi

Agung merupakan salah satu tersangka pengedar sabu yang diringkus petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng pada Jumat (6/4) lalu. Warga Laweyan Solo itu sedianya berangkat umrah pada hari ini, Senin (9/4).

Namun pertemuan dengan Bejo justru mengantarnya ke dalam bui. “Tersangka Agung ini juga merupakan oknum pengajar di salah satu pondok pesantren di daerah Surakarta,” ujar Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo saat gelar perkara di kantornya, Jalan Madukara, Senin (9/4).

Agung memang pernah menjadi pemakai sabu di tahun 1998 dan berhenti total empat tahun kemudian. Sejak 5 tahun belakangan, dia sering mengisi tausiyah di Pondok Pesantren Taqmirul Islam Solo. “Tapi dia mulai memakai sabu lagi di Januari 2018 kemarin,” imbuh Tri Agus.

Dari pengakuan Agung, ia menjadi kurir bermula saat ia bersama dua orang rekan lamanya mengonsumsi sabu. Saat itu dia dikenalkan dengan Bejo yang kini masih menjadi DPO petugas BNNP Jateng.

“Terus pas saya mau pesen lagi malah ditawarin gratis dan bahkan dibayar sama dia, disuruh nganterin sabu,” kata Agung.

Orderan pertama Agung diminta mengambil paketan sabu di daerah Sragen dengan iming-iming imbalan Rp 1 juta. Saat itu dia ditemani oleh Sriyono (53).

Setelah berhasil mengambil barang di Sragen, ia kemudian bermaksud pulang ke Solo. Namun sesampainya di Pertigaan Pungkruk, Jalan Raya Sukowati, Sragen, mereka disergap oleh petugas BNNP.

Tri Agus juga menambahkan, peredaran sabu ditengarai juga sudah masuk hingga pondok pesantren. Ke depan pihaknya akan melakukan berbagai macam upaya pencegahan peredaran nakoba termasuk melakukan sosialisasi di pondok pesantren.

Kini Agung bersama rekannya Sriyono harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka dijerat dengan Pasal  114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (2) Jo Pqsal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara. (fen)

You might also like

Comments are closed.