Terminal Peti Kemas Semarang akan Jadi Termodern Se-Indonesia

Gubernur Ganjar Pranowo meninjau TPKS Tanjung Emas Semarang, Selasa (17/11). Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Gubernur Ganjar Pranowo meninjau TPKS Tanjung Emas Semarang, Selasa (17/11). Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

METROSEMARANG.COM – Terminal Petikemas Semarang (TPKS) Tanjung Emas sedang bersiap menjadi terminal termodern se-Indonesia. Mereka akan menjadi satu-satunya TPKS yang memiliki Automated Rubber Tyred Gantry (ARTG).

General Manager Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Tanjung Emas, Erry Akbar Panggabean menjelaskan, ‎ARTG memiliki keefektivan kerja 30 persen lebih tinggi daripada RTG. Penerapan peralatan baru dengan nominal ratusan miliar ini dilakukan dua tahap. Tahap awal, saat ini sudah 11 unit ARTG tiba di TPKS dan kini masa perakitan di 5,3 hektare dermaga. Tahap kedua, sembilan unit ARTG akan dipasang pada 2017-2018 mendatang.

“Realisasi Juni 2016. Ini adalah ARTG petikemas pertama di dunia, bahkan. Dengan alat ini bongkar muat bisa tiga kapal sekaligus. Bisa 30 persen lebih cepat,” kata Erry saat menerima kunjungan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo d TPKS Tanjung Emas, Selasa (17/11).

Ganjar meninjau perluasan dermaga TPKS dan perakitan ATRG. Ganjar sempat menaiki container crane. Hal itu menjadikannya gubernur pertama di Indonesia yang berani menaiki alat bongkar muat container setinggi 40 meter itu.‎‎

Selain kecepatan bongkar muat, menurut Erry ARTG memiliki keunggulan lain. Seperti penggunaan listrik sebagai sumber energi dan bukan solar, sehingga lebih irit serta ramah lingkungan. Sistem komputerisasi juga dinilai lebih akurat dan semakin menurunkan dwelling timeDwelling time merupakan lamanya barang, kargo, atau kontainer menginap untuk menunggu keluar pelabuhan.

Dengan ATRG, perluasan dermaga, dan penambahan fasilitas baru, Erry ‎menargetkan bongkar muat container mencapai 656 ribu teus, satuan terkecil ukuran petikemas, pada tahun 2016. Jumlah ini meningkat cukup besar jika dibandingkan dengan saat ini 576 ribu teus.‎

Ganjar mengaku puas dengan keseriusan TPKS Tanjung Emas. Sekarang tugas dari pemerintah, katanya, ada tiga. Pertama adalah penanganan rob dengan pembuatan polder.

Kedua, pembuatan jalur interkoneksi rel kereta api menuju pelabuhan. Hal ini masih terkendala dengan pembebasan lahan. Ketiga meningkatkan kualitas jalan menuju pelabuhan.

“Khusus untuk rel, tak mudah. Problemnya pembebasan lahan. Butuh 2-3 tahun lah,” kata Ganjar. (byo)‎

You might also like

Comments are closed.