Terompet Bersampul Alquran Beredar Luas, Siapa yang Salah?

Puluhan terompet cover Alquran yang disita Polres Kendal. Foto: metrojateng.com
Puluhan terompet cover Alquran yang disita Polres Kendal. Foto: metrojateng.com

METROSEMARANG.COM – Kasus terompet bersampul Alquran yang sempat beredar di berbagai daerah wilayah Jawa Tengah, membuat umat Islam gerah. Mayoritas orang beranggapan bahwa sampul Alquran yang jadi bahan baku terompet pernak-pernik Tahun Baru sama saja menghina agama Islam.

Tapi, sejauh ini belum ada pihak-pihak yang mau mengakui bersalah atas kasus penodaan agama tersebut. CV Aneka Ilmu sebagai produsen sampul Alquran memang telah meminta maaf kepada umat Muslim, meski tak mau disalahkan sepenuhnya. Alasannya, mereka mencurigai Sunardi si perajin terompet melanggar janji yang telah disepakati sebelumnya.

Suwanto, pemilik CV Aneka Ilmu berdalih tak tahu jika ratusan ribu sampul Alquran sisa proyek itu dibeli oleh Sunardi, pengepul asal Klaten. “Kata penjaga gudang di pabrik saya memang ada orang menanyakan (Sunardi), katanya mau beli kawul (kertas bekas). Tapi tidak dalam sepengatahuan saya,” kilah Suwanto, Rabu (30/12).

Suwanto mengemukakan perusahaannya yang jadi pemenang tender pengadaan buku Alquran dari Kemenag tahun 2013 semula dapat order dari Kemenag untuk memproduksi buku Alquran 1. 630.000 buah dan 800 buku Juz Amma.

Saat rampung 75 persen, pengerjaannya terhambat. Suryadharma Ali sebagai Menag saat itu lagi naik haji dan pabrik Aneka Ilmu kebanjiran sehingga membuat banyak sampul yang rusak. “Dan sisanya 200 ribu yang masih bagus memang boleh dibeli oleh Sunardi untuk didaur ulang,” terang Suwanto.

Kuasa Hukum CV Aneka Ilmu, Aan Tawli, juga menuding Sunardi tidak mematuhi kesepakatan dengan kliennya. “Seharusnya Sunardi tahu aturan mainnya, kalau kertas sisa buku Alquran wajib didaur ulang. Baik itu dilebur menjadi bubur maupun di daur ulang menjadi bentuk lain,” katanya.

“Petugas gudang ketika menjual sisa sampul Alquran juga sudah mengingatkan kepada Sunardi agar jangan dibuat sembarangan. Dia malah ingkar janji tidak mendaur ulang,” sambungnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengecam tindakan penyalahgunaan sampul Alquran tersebut. Menurutnya, menjadikan sampul Alquran sebagai bahan terompet adalah perbuatan yang tidak patut.

Hal itu juga sudah diatur dalam Pasal 5 Peraturan Menteri Agama (PMA) No 01 Tahun 1957 tentang Pengawasan terhadap Penerbitan dan Pemasukan Alquran mengatur bahwa sisa dari bahan-bahan Alquran yang tidak dipergunakan lagi, hendaklah dimusnahkan untuk menjaga agar jangan disalahgunakan.

Lantas, siapakah sebenarnya Sunardi yang dituding bersalah atas kasus terompet bersampul Alquran itu? Berdasarkan keterangan polisi, Sunardi merupakan seorang pengepul di Klaten dan sudah sudah berbisnis kertas bekas sejak tahun 1997.

Terakhir ia membeli dari perusahaan penerbit tanggal 3 November 2015 sebanyak 7.157 kg. Jumlah tersebut tidak semuanya sampul Alquran. Di rumah Sunardi polisi mengamankan dua lembar sampul Alquran dan enam lembar sampul Surat Yasin dan Tahlil.

Kepolisian Daerah Jawa Tengah juga sudah melakukan penarikan terhadap terompet berbahan sampul Alquran tersebut. Tercatat, sudah ada sekira total 4.276 terompet yang berhasil diamankan dari  minimarket Alfamart yang tersebar di sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Sementara, menurut pemilik CV Ashfri Adv, Al Ashfrihana selaku penyedia barang, total terompet yang sudah dikirim ke Alfamart sebanyak 14.400 buah. Satu terompet dibeli dari perajin di Wonogiri dengan harga Rp 1.200 dan dijual ke pihak minimarket Rp 2.000 dan selanjutnya dipasarkan dengan harga Rp 3.500. (far/yas)

You might also like

Comments are closed.