‘The Lost Rooster of Cindelaras’ Tandai Perayaan Cap Go Meh di Sekolah Karangturi

METROSEMARANG.COM – Sekolah Nasional Karangturi gelar perayaan Cap Go Meh dengan memadukan budaya Tionghoa dan Jawa sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagamaan yang ada di Semarang. Mengusung tema The Lost Rooster of Cindelaras, panitia mencoba mengakulturasikan budaya daerah yaitu kisah Cindelaras dengan budaya Tionghoa.

Parade busana Tionghoa dan pemain The Lost Rooster of Cindelaras menandai pembukaan perayaan Cap Go Meh di Sekolah Nasional Karangturi. Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Ketua Yayasan Sekolah Nasional Karangturi, Harjanto Halim mengatakan mengangkat tema keberagaman, paduan budaya antara Jawa dan Tionghoa di Semarang. “Dari dulu sudah cukup kuat dan kental, agar tidak punah tentunya harus ditanamakan sejak dari bangku sekolah,” katanya usai pembukaan acara, Jumat (10/2) sore.

Acara, secara simbolis dibuka dengan membuka telur ayam raksasa yang berisikan balon yang memiliki arti sebuah telur adalah lambang kehidupan yang terus beranak pihak sampai kapanpun. Sebelumnya acara juga diisi dengan parade busana Tionghoa dan para pemain drama The Lost Rooster of Cindelaras.

“Anak-anak memang diberi kesempatan berekspresi, terutama di bidang kebudayaan, jadi anak-anak Tionghoa bisa belajar budaya Jawa dan anak-anak Jawa bisa berlajar kebudayaan Tionghoa,” tuturnya.

Dia berharap rasa plularisme dan akulturasi yang telah ada di Sekolah Nasional Karangturi bisa merambat ke sektor lain, bukan hanya budaya. Melainkan bisa menggugah kesadaran terhadap lingkugan.

“Ke depan tidak hanya akulturasi, melainkan harus ada nilai tambah lainnya, sekolah merupakan sarana yang tepat untuk menularkan dan memupuk rasa plularisme serta memilihara tentang akulturasi,” tutupnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Bunyamin yang datang mewakili Wali Kota Semarang, Hendar Prihadi mengaku sangat mengapresiasi pendidikan mulikultural yang ada di Sekolah Nasional Karangturi. Menurutnya pendidikan multikultural ini tidak mudah dan cukup mahal. “Tapi sekolah ini bisa menjaga kebersamaan dan kebaragaman dan hasilnya sangat baik,” ungkapnya. (vit)

 

 

You might also like

Comments are closed.