Tidak Ada Progres, Ronny Kembali Laporkan Kasus Oudetrap

Pembelian gedung Ouetrap kini menuai masalah. Foto Metrosemarang/Ade Lukmono
Pembelian gedung Ouetrap kini menuai masalah. Foto Metrosemarang/Ade Lukmono

SEMARANG – Lamanya respons dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng pada kasus Oudetrap membuat Ronny Maryanto kembali melayangkan laporan untuk kali kedua. Sampai hari ini pun belum ada tindak lanjut, seperti pemanggilan saksi untuk penanganan kasus tersebut.

Kali ini Ronny bersama Koalisi Masyarakat Semarang untuk Anti Korupsi juga ingin memberi masukan ke BPK untuk mencari temuan baru di kasus pembelian bangunan yang biasa disebut Gedung Gambir itu.

Dia yang merupakan Divisi Politik dan Anggaran Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah menyebutkan, dalam APBNP kali ini yang mencapai puluhan miliar, terdapat kemungkinan adanya intrik dengan dewan. “Rasanya tidak mungkin jika dewan menggelontorkan dana begitu saja untuk membeli gedung,” kata dia, Kamis (5/3).

Dia menargetkan, pertengahan bulan ini BPK sudah merilis temuan-temuan baru yang bisa digunakan sebagai bahan dalam penentuan sikap Ditreskrimsus. “Saya harap, kasus ini bisa selesai tahun ini juga,” harapnya.

Pembelian gedung Oudetrap oleh Pemerintah Kota Semarang senilai Rp 8,7 miliar memang penuh kontroversi. Nominal ini dinilai fantastis mengingat 10 tahun silam gedung tersebut dilelang hanya seharga Rp 2,4 miliar. Sejak akhir Januari 2015, Polda Jateng mulai mengusut dugaan ketidakberesan dalam proyek tersebut. (ade)

You might also like

Comments are closed.