Tiderays, Degup Kecemasan di Tepi Tebing Curam

Rilis Demo 2018

Riff yang kelam. Namun percikan notasinya mendorong desiran-desiran darah melawan kegamangan dan kecemasan seperti saat berada di tepian tebing curam.

BAGAIMANA rasanya jika keadaan mengharuskan makhluk berjalan di tepian tebing curam, sembari menahan hantaman angin dingin yang kencang? Tiderays mencurahkan segala perasaan itu dalam sebuah komposisi. Dikemas dalam bentuk demo, Tiderays membawa kejayaan swedish sound dalam aliran hardcore.

hardcore semarang
Tiderays. (foto: istimewa)

Ada dua komposisi dari demo yang dirilis via Bandcamp. Pertama, “Syllable Perishable”. Ia dibuka dengan raungan riff atau pola ritme yang penuh tekanan. Riff yang depresif itu muncul dari raungan gitar chainsaw yang dikendalikan DF Ahmad.

Kelam, namun percikan notasinya mendorong desiran-desiran darah. Seperti desiran darah ketika melawan kegamangan dan kecemasan saat berada di tepian tebing curam.

Riff adalah rangkaian aneka not dalam pola tertentu yang diulang-ulang sepanjang lagu, pada saat vokal dan instrumen lain juga memainkan perannya.

 

 

Yang kedua adalah “Proposition Distrait”. Komposisi ini seperti meyakinkan pendengar untuk tetap melalui tebing curam, meski dengan risiko jatuh, terperosok dan mati. Oleh sebab, kondisi seperti itu memang merupakan sebuah fase yang perlu dilewati.

Derap d-beat dan black metal yang berpadu secara beringas dalam komposisi ini laksana sensasi degub jantung  pada saat menapak di tepian tebing.

Tiderays – Demo (2018)

All songs written and performed by Tiderays
All lyrics by DFAhmad
Recorded at 4WD Studio Semarang in Juny 2018
Except vocal recorded at Riverse Studio Jepara
Mixed and mastered by I Made Dharma ([email protected])
Artwork and cover by Bonifasius Rendy ([email protected])

 

Formula yang Awalnya Jarang

Tiderays dibentuk awal tahun 2017 oleh Ghozzy El-Yussa (Vokal), Fauby Duvadilan (Bass), DF Ahmad (Gitar) dan Gresia (drum). Bicara kiblat, mereka menyebut Entombed, salah satu pionir musik death metal di Skandinavia. Alpinist, pengusung hardcore yang gelap asal Münster, Jerman. Martyrdöd, pengusung crustcore dan d-beat asal Gothenburg, Swedia. Juga His Hero is Gone, band hardcore punk asal Memphis, Tennessee, Amerika Serikat.

View this post on Instagram

Reckless Showcase 2. Crafted by @rosokmlaku #tiderays

A post shared by Tiderays (@tiderays401) on

Semula, formula ini jarang dilirik oleh band-band di Semarang. Namun kuartet Tiderays justru tanpa ragu memulainya. Masing-masing departemen instrumen berberan membangun konstruksi karya musik logam.

Selain menjajakan karya di lapak Bandcamp, Tiderays juga memulai langkah organik. Beberapa waktu silam mereka melakukan tur 11 kota sepanjang Jawa-Bali bersama kolega asal Semarang, Hearted.

Bandcamp merupakan platform musik streaming dan belanja musik secara online yang didirikan di Californa, Amerika Serikat oleh Ethan Diamond dan programer Shawn Grunberger, Joe Holt dan Neal Tucker. Musisi yang telah merilis karya dapat mengunggah musik ke Bandcamp, menetapkan harga sendiri, dan mengontrol penjualan. Penggemar dapat mengunduh pembelian mereka atau menikmatinya secara streaming di aplikasi Bandcamp.

Langkah organik itu ditempuh untuk membentuk mental dan keberanian, dengan tujuan konsistensi berkarya di masa depan. Seiring dengan album penuh bertajuk “401” yang direncanakan akan diluncurkan pada pengujung 2018. Upaya lainnya adalah, mencurahkan cukup waktu dalam komunitas dan aktif dalam skena.

“Energi kami tak cukup dilihat dari karya musik semata,” tulis Tiderays dalam siaran persnya. Selamat berkibar Tiderays, jalan masa depan terbentang. (*)

 

Editor: Eka Handriana

 

 

You might also like

Comments are closed.