Tiga Pengusaha Muda Berbagi Kiat Sukses bersama Mahasiswa di TBRS

Founder of Chevalier Store, Egar Putra Bahtera (24) menyampaikan materi saat seminar nasional kewirausahaan id Taman Budaya Taden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (14/11). Foto: metrosemarang.com/abdul arif
Founder of Chevalier Store, Egar Putra Bahtera (24) menyampaikan materi saat seminar nasional kewirausahaan id Taman Budaya Taden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (14/11). Foto: metrosemarang.com/abdul arif

 

METROSEMARANG.COM – Menjalankan suatu bisnis harus mencintai bisnis tersebut. Demikian disampaikan oleh Founder of Chevalier Store, Egar Putra Bahtera (24) dalam seminar dalam seminar nasional bertajuk “Business Trough Ages” di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (14/11). Seminar merupakan serangkaian kegiatan Diponegoro Entrepreneur Festival yang digelar oleh BEM Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Dalam kesempatan itu, Egar berbagi kiat suksesnya menjalankan bisnis sepatu dengan brand Chevalier. Dia mengatakan, brand tersebut dibangun pada 2011. Dia mengungkapkan, membuka usaha sepatu karena suka sepatu.

Sepatu yang dia jual merupakan produk lokal. Sejak awal, dia memang ingin mengubah paradigma masyarakat untuk menghargai produk lokal. Ternyata keinginan kuat itu perlahan terwujud. Brand yang ia bangun kini diterima oleh masyarakat luas.

Dia pun mengajak mahasiswa untuk berwirausaha melalui apa yang disukai. “Produk yang saya jalanin benar-benar serius. Kita harus mencintai bisnis. Selama menjadi mahasiswa kalian lebih previlige menjadi pebisnis,” katanya.

Menurut Egar, menjalani bisnis tak menghalangi mahasiswa untuk berprestasi. Dia justru bisa membuktikan bahwa prestasi itu bisa diperoleh secara bersamaan. “Kalau tak bisa itu alasan saja,” kata pemuda yang masuk Top 100 young entrepreneur versi majalah SWA itu.

Seorang mahasiswi semester 7 jurusan Teknik Sipil Undip, Gita menanyakan bagaimana Egar bisa mengatur waktu antara bisnis dan kuliah di ITB. Egar menjelaskan, yang perlu diatur adalah rasa malas bukan persoalan waktu. Sebab menurut dia, mahasiswa masih cukup banyak waktu. Terbukti masih sempat main media sosial.

Selain Egar, hadir pula Founder dan owner of Mr Teto Ahmad Junaidi Basri dan Co-Founder of Go-Jek, Dayu Dara Permata yang turut berbagi kiat sukses.

Junaidi juga menyampaikan kisahnya memulai usaha sate-soto Mr Teto mulai dari modal Rp 30.000 hingga memeroleh omzet Rp 2,2 miliar pertahun saat ini. Dia mengatakan, langkah awal untuk menjalani wirausaha ada tiga. Yaitu memiliki mimpi, berdoa dan beraksi.

Panitia seminar, William Wicaksono mengatakan seminar dalam rangka memberi motivasi kepada pemuda untuk berwirausaha dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung usaha. Acara merupakan program tahunan BEM Fakultas Teknik Undip. Adapun Co-Founder of Go-Jek, Dayu Dara Permata dijadwalkan menyampaikan materi terakhir.(arf)

 

 

You might also like

Comments are closed.