Tim Panel KLHS Segera Umumkan Kajian Eksplorasi Pabrik Semen di Kendeng

METROSEMARANG.COM – Tim Panel Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk wilayah Pegunungan Kendeng akan mengumumkan hasil kajian pabrik semen paling lambat April 2017 nanti. Sudharto P Hadi, Ketua Tim Panel Pakar KLHS Kendeng mengatakan, keputusan untuk mengumumkan kajian pabrik semen itu dipercepat dari rencana semula dengan pertimbangan beberapa faktor teknis.

Diskusi pengelolaan Pabrik Semen Rembang di Hotel Semesta, Selasa (21/2). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Pak Jokowi minta kita mengumumkannya setahun lagi tapi karena momentumnya sudah sangat mendesak maka akan diumumkan pada pertengahan April besok,” ungkap Guru Besar Lingkungan Hidup Undip tersebut, saat menghadiri dialog publik di Hotel Semesta Jalan Wakhid Hasyim, Selasa (21/2).

Ia pun mengisyaratkan bahwa pabrik semen nantinya harus angkat kaki dari kaki Pegunungan Kendeng. Musababnya, dari hasil kajian sementara yang dilakukan timnya, kawasan bentang alam Kendeng Utara merupakan pegunungan karst yang wajib dilindungi.

Bentang alam Kendeng Utara sendiri mencakup wilayah Kabupaten Pati, Rembang, Blora, Grobogan hingga sampai ke pantura Jawa Timur. “Ini artinya meski dari segi potensinya bagus untuk pabrik semen. Tapi bagi kemanfaatan lingkungan dan masyarakat itu yang harus dilindungi,” tegasnya.

Kajian lingkungan di Kendeng Utara merupakan kesepakatan antara Presiden Jokowi dengan petani Rembang untuk menyelesaikan konflik pabrik semen. “Pak Jokowi yang minta kalau dibuatkan KLHS untuk memilah mana kawasan yang boleh ditambang dan mana yang patut dilindungi. Kita fokuskan ke Rembang dulu yang lagi ramai dibahas publik,” tuturnya.

Ia pun kini mulai berancang-ancang menggelar agenda konsultasi publik menajamkan berbagai persepsi terkait pabrik semen. “Penajaman persepsi akan dilakukan 2-3 Maret,” kata Sidharto.

Tak hanya itu saja, lanjutnya. Ia juga akan mempertemukan semua pihak-pihak yang berkonflik agar dapat duduk satu meja menyelesaikan polemik pabrik semen yang ada di Kabupaten Rembang.

“Semuanya baik elemen masyarakat yang pro maupun kontra di lokasi yang terdampak seperti di Desa Kadiwono, Timbangan dan Paisucen,” terang Sidharto.

“Kita sangat berhati-hati untuk membahas polemik ini, harus dihitung ulang daya dukung lingkungannya, termasuk apakah 18 izin usaha tambang yang ada selama ini mengganggu irigasi atau tidak. Jika memang harus dipindah (pabrik semen), maka dimana lokasinya yang paling tepat,” ujarnya. (far)

You might also like

Comments are closed.