Tingkatkan Pelayanan, Sopir BRT akan Digaji 2 Kali UMK

METROSEMARANG.COM – Ada tiga keluhan terbanyak masyarakat terhadap pelayanan BRT Trans Semarang. Yaitu terkait armada BRT yang ugal-ugalan baik melanggar lampu merah maupun marka sambung, kemudian tidak mau merapat ke shelter serta kualitas pelayanan petugas tiket yang tidak ramah.

Gaji sopir BRT bakal dinaikkan dua kali UMK. Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Tiga keluhan terbesar tersebut menjadi bahan evaluasi BLU UPTD Trans Semarang selaku regulator untuk semakin meningkatkan pelayanan BRT Trans Semarang di tahun 2018.

‘’Tiga keluhan teratas itu bagi kami jadi evaluasi bahwa faktor manusia sangat berpengaruh terhadap pelayanan BRT Trans Semarang. Makanya tahun 2018 ini kami akan mencoba memperbaiki satu persatu terkait kesejahteraan karyawan baik dari supir, petugas tiket, dan petugas di bagian yang lainnya,’’ kata Plt Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Ade Bhakti Ariawan, Rabu (3/1).

Pihaknya akan memulai dari meningkatkan kesejahteraan driver atau sopir BRT Trans Semarang. Tahun 2017 lalu minimal gaji mereka sebesar Rp2.750.000 plus uang harian atau uang makan Rp50 ribu.

Namun untuk di tahun 2018 ini, menurutnya akan dinaikkan menjadi take home pay sopir BRT bisa menerima gaji maksimal di angka 2 kali UMK Kota Semarang atau jadi sekitar Rp4,6 juta. ‘’Bertahap akan dilakukan juga ke petugas tiket dan lainnya untuk dinaikkan intensifnya,’’ janjinya.

Sedangkan untuk pendapatan sendiri, di tahun 2017 pendapatan BLU UPTD Trans Semarang disampaikan total mencapai angka Rp25,4 miliar. Rata-rata tertinggi pendapatan di bulan Desember yang pendapatanya mencapai sebesar Rp76 juta per hari.

Kemudian untuk bulan Januari 2017 pendapatan hanya di angka Rp61 juta, artinya menurut Ade Bhakti ada kenaikan yang cukup signifikan selama satu tahun di 2017. ‘’Dan jumlah penumpang juga per hari sekarang sudah di angka 26 ribu orang,’’ ungkapnya.

Tahun 2018 disebutkan target pendapatannya dinaikkan menjadi Rp30,4 miliar. Dengan akan beroperasinya koirdor VII dia optimistis target itu akan tercapai, apalagi kendala kekurangan banyak shelter yang dialami di 2017 pada 2018 ini akan terpenuhi semua. ‘’Jadi otomatis nanti pendapatan juga akan meningkat,’’ ujarnya optimistis.

Diakui, tambahnya, target pendapatan tahun 2017 sebenarnya Rp36 miliar, tapi target itu karena perencanaan dari manejemen tahun lalu sebanyak 9 koridor BRT sudah bisa beroperasi, yaitu 8 koridor utama plus satu koridor feeder sudah jalan semua.

Padahal sampai tahun ini baru selesai 6 koridor yang beroperasi, artinya untuk target pun harus disesuikan dimana tahun depan targetnya Rp30,4 miliar. (duh)

You might also like

Comments are closed.