Tradisi Baca Quran Daun Lontar saat Ngabuburit di Semarang

METROSEMARANG.COM – Sebuah tradisi unik muncul di Semarang tatkala menjelang berbuka puasa. Pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Al Multazam di Pudakpayung, selalu rutin mengumpulkan para santrinya sembari membaca satu persatu ayat suci Alquran yang terdapat pada lembaran daun lontar.

KH Khamami, pengasuh Ponpes Al Multazam mengungkapkan, Alquran yang kini disimpan di ruang perpustakaan pesantrennya, secara bergantian dibaca oleh santrinya sebagai penyemangat tatkala menjalankan ibadah puasa.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Sambil menunggu beduk Magrib, saya rutin mengaji bersama santri agar dapat menghayati makna ayat suci yang terkandung di dalamnya,” kata Khamami kepada metrosemarang.com, Minggu (12/6) pagi.

Menurutnya Alquran dari daun lontar itu merupakan peninggalan satu-satunya dari waliyullah asal Sumenep Madura, Sayyid Abdurrahman.

Ada 30 juzz ayat suci yang ditulis diatas lontar setebal 22 lembar. Diatas lontar selebar 1,5 meter dapat dilihat dengan jelas guratan-guratan ayat suci tanpa harekat dengan untaian kaligrafi yang indah.

Ia takjub dengan segepok lontar bertuliskan lafaz ayat suci tersebut. Lontar yang telah berusia lebih dari dua abad ini, kata dia, tak pernah rusak meski hanya direkatkan dengan
seuntai benang agar tidak terpisahkan satu sama lain.

“Bahkan, aroma lontar masih harum semerbak layaknya daun yang baru dipetik. Padahal, usia kitab suci mencapai lebih dari 200 tahun,” ungkapnya.

Keberadaan Alquran daun lontar tentunya menjadi bukti mukjizat Allah SWT benar-benar nyata dan luar biasa. Hanya memakai pelepah lontar dan sebatang lidi, ia mengisahkan Sayyid Abdurrahman mampu menuliskan ayat-ayat suci yang sangat rapi lengkap dengan kaligrafi.

“Inilah mukjizat yang luar biasa. Beliau memberikan kharomah pada ayat suci yang ditulis diatas lontar dan benda ini jadi pelajaran berharga bagi generasi muda,” ungkap Khamami.

Sayyid Abdurrahman sendiri merupakan alim ulama yang memiliki ilmu agama setara dengan Walisongo.

Usai Sayyid Abdurrahman wafat, kitab suci itu diturunkan kepada sang anak, KH Tuju Langker lalu secara turun-temurun diberikan kepada KH Aziz Tapa, KH Tuju Panaungan hingga KH Bunyamin Maimunah yang wafat tahun 2014 kemarin.

Alquran warisan Sayyid Abdurrahman akan disimpan dalam galeri museum tepat pada tanggal 17 Ramadan saat momentum turunnya Alquran kepada Nabi Muhammad SAW.

“Kita ingin melestarikan benda-benda peninggalan waliyullah yang telah memperjuangkan agama Islam sejak zaman dahulu. Sehingga, pada masa mendatang anak-anak muda mampu mempelajari kehebatan kharomah para wali,” tukasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.