Trans Studio Batal ke Semarang, Seniman Tagih Wali Kota Revitalisasi TBRS

METROSEMARANG.COM – Wahana permainan modern Trans Studio batal berinvestasi di Kota Semarang. Para seniman memandang saat ini lah momentum untuk Pemkot Semarang merevitalisasi Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).

Sekretaris Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Daniel Hakiki mengatakan, persoalan tidak selesai dengan gagalnya Trans Studio menggusur TBRS. Justru ini saatnya menagih janji Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi untuk merevitalisasi taman budaya yang ada di Jalan Sriwijaya itu.

Wali Kota Hendrar Prihadi saat dialog budaya di TBRS, beberapa waktu lalu. Foto: metrosemarang.com/dok
Wali Kota Hendrar Prihadi saat dialog budaya di TBRS, beberapa waktu lalu. Foto: metrosemarang.com/dok

“Ketika kampanye, Mas Hendi (sapaan akrab Hendrar Prihadi) mengatakan TBRS tidak akan digusur untuk Trans Studio. Kami sangat mengapresiasi. Namun begitu TBRS tidak bisa dibiarkan seperti ini saja, harus direvitalisasi segera,” katanya, ditemui di TBRS, Kamis (12/5).

Selayaknya taman budaya, menurut Daniel, TBRS harus memiliki gedung pertunjukan yang representatif. Baik akustik gedung maupun sarana pertunjukan seperti lampu dan sound system. Tempat duduk penonton pun harus dibuat berjenjang agar nyaman dilengkapi pendingin ruangan.

“Syukur dibuat dua, ada indoor dan outdoor, ada wisma seni, ada tempat latihan dan warung-warung yang ada diberdayakan untuk jadi pujasera atau kafe,” ungkapnya.

Lebih penting lagi, pengelolaan TBRS harus berpihak pada seni budaya. Sebuah fasilitas publik yang mengarah ke kebutuhan sosial, menurut Daniel, tidak layak dibebani target pendapatan asli daerah (PAD). “Kalau tetap ditarget PAD seperti sekarang ya jatuhnya jadi gedung pernikahan, acara seni kalah,” katanya.

Ketua Dekase Mulyo Hadi Purnomo menambahkan, meski sudah direvitalisasi, TBRS harus tetap menjadi ruang yang mudah diakses kapan pun dan oleh siapapun. “Sekarang ini adik-adik latihan tari sore hari, kawan-kawan mahasiswa latihan teater sampai malam bahkan dini hari. Harus tetap begini, jangan dibatasi, dan jangan disuruh bayar kalau latihan. TBRS harus tetap mudah diakses,” tegasnya.

Komite Sastra Dekase Ibrahim Bra meminta Pemkot Semarang belajar dari kota-kota lain yang memiliki gedung kesenian. Diantaranya Kota Tegal, Kota Surakarta, dan Kabupaten Banyumas. Ketiganya memiliki gedung kesenian yang representatif dan membanggakan.

“Sebagai ibu kota Jateng, kepedulian Pemkot Semarang pada seni budaya sangat memprihatinkan. Selama ini sepertinya hanya memprioritaskan seni budaya populer untuk kepentingan pariwisata, tapi seni tradisional, teater, dan sastra terpinggirkan,” sentilnya.

Seperti diketahui, Trans Studio yang rencananya dibangun oleh PT Trans Retail Property di Kompleks TBRS dan Wonderia batal. Kabag Kerjasama Setda Kota Semarang Hernowo Budi Luhur mengatakan, MoU antara PT Trans Retail Property dan pemkot Semarang sudah habis masa berlakunya sejak 5 Maret 2016 lalu.

Dalam MoU dijelaskan bahwa investor akan melakukan studi kelayakan pada lokasi calon Trans Studio. Namun hingga habis masa nota kesepahaman tersebut, investor tidak pernah meninjau lapangan. “Jadi dengan sendirinya batal,” katanya.

Menurutnya hal ini karena terdapat penolakan keras dari masyarakat kota semarang yang tidak ingin Wahana permainan Trans Studio berada di tengah kota. “Terkait pengembangan TBRS, sudah masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) yang saat ini sedang disusun,” katanya. (byo)

You might also like

Comments are closed.