Unicef-KPPA Kolaborasi Tekan Kasus Bullying di Dua Kota Besar

METROSEMARANG.COM – Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak memilih berkolaborasi dengan dua peneliti Unicef demi mengatasi maraknya kasus bullying yang terjadi belakangan ini.

Rini Handayani, Asisten Deputi Perlindungan Anak KPPA bersama dua peneliti dari Unicef saat memaparkan dua program menekan aksi bullying. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Rini Handayani, Asisten Deputi Perlindungan Anak KPPA menjelaskan, dua kota yang jadi fokus penanganan kasus bullying yaitu Kota Semarang dan Makassar. Pasalnya, dua kota tersebut punya kultur yang hampir mirip dengan jumlah kekerasan terhadap anak sangat tinggi.

“Kami belum bisa menyurvei keseluruhan, tetapi Jawa Tengah menempati lima besar kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia. Dibawahnya terdapat Jawa Barat dengan luasan wilayah yang lebih luas lagi,” ungkapnya, saat menggelar pertemuan di Hotel Grandhika, Jalan Pemuda, Semarang, Selasa (20/3).

Ia pun menyatakan ada dua jurus jitu untuk menekan kasus bullying di dua kota itu. Yang pertama dengan melakukan perubahan perilaku guru dan murid dalam program positif disiplin.

Pihaknya pun mengajak dua peneliti Unicef, masing-masing Prof Lucy Bowes dan Emilie Minnick sebagai Spesialis Perlindungan Anak dan Gender untuk menggodok strategi dalam menyelamatkan anak-anak dari tindakan bullying.

Ia mengklaim program ini sangat istimewa karena bisa kolaborasi dengan orangtua murid dan siswa. Dengan menerapkan program, ia mengharapkan adanya perubahan signifikan dalam proses pembelajaran para guru di kelas untuk mencegah kekerasan terhadap siswa.

“Kami akan mengembalikan posisi guru sebagai pendidik dan pengajar para siswa. Berapa lama bisa melakukan hal itu? Tentunya butuh waktu sangat lama. Tetapi, kami yakin akan terjadi penurunan sedikit demi sedikit. Setelah itu baru merubah perilaku di keluarga dan sekolah,” terangnya.

Di tempat yang sama, Emilie Minnick, Spesialis Perlindungan Anak dan Gender Unicef Indonesia menilai Semarang dan Makassar dipilih sebagai proyek percontohan memerangi kasus bullying mengingat wilayahnya yang punya permasalahan kompleks.

“Makassar menuju Kota Layak Anak. Begitu pula dengan Semarang. Diharapkan dengan budaya yang sama ini nanti bisa menyebar ke seluruh kabupaten/kota sekitarnya,” tukasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.