UPGRIS Tambah Doktor Baru

METROSEMARANG.COM – Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) terus menggenjot tenaga pendidiknya agar meningkatkan kualitasnya. Salah satunya adalah dengan memacu tenaga pengajar untuk bisa meraih gelar doktor. Khusus tahun ini sedikitnya ada 10 doktor baru yang ada di UPGRIS.

Endang usai ujian promosi doktor. Foto: metrosemarang.com/dok humas

Salah satu dosen peraih gelar doktor terbaru adalah Endang Wuryandini dan baru saja melewati ujian promosi di Pasca Sarjana Unnes, Senin (27/2) siang kemarin. Dalam penelitiannya Endang menyoroti tentang managemen pendidikan, yang dirasa masih sangat kurang memiliki kualifikasi.

“Penelitian ini memiliki subyek guru SMK bidang keahlian bisnis dan management pasca sertifikasi. Dimana guru harus mengembangkan kompetensinya,” kata Endang, seperti dalam keterangan tertukis yang diterima metrosemarang.com, Rabu (1/3).

Menurutnya, dalam kegiatan belajar mengajar dibutuhkan model pendidikan kolaboratif partisipatif dari seluruh komponen pendidikan yang memiliki tugas permasalahan dan kebutuhan guru itu sendiri. “Model ini menuntut harus ada penyusunan program peningkatan kompetensi guru, pelatihan workshop, pendampingan dalam penulisan di luar ataupun di sekolah,” jelasnya

Dengan kapasitas guru yang berkompeten dan memiliki standar, secara otomatis akan mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak salah satunya dari pemerintah. Profesionalitas seorang guru kata dia, terkait kemampuan mengajar dan memberikan materi.

“Jadi guru harus berinvoasi dengan memberikan pembelajaran dan pelatihan kepada siswanya yang didasarkan pada kebutuhan pasar tenaga kerja. Jika gurunya pinter, secara otomatis akan berimbas kepada output siswanya,” tuturnya.

Selain itu, kualitas pendidikan tidak lepas dari sistem yang dibangun oleh tenaga pengajar itu sendiri yakni guru. Guru bisa diibaratkan sebagai pilar penting dalam pendidikan. Untuk itu, seorang tenaga pendidik harus bisa mengembangkan diri, melakukan publikasi ilmiah dan masih banyak lagi.

“Kolaborasi saat ini bisa dibilang belum efektif, terbukti masih terbatasnya pemahanan dan penerimaan dalam kegiatan belajar mengajar,” tutupnya. (vit)

You might also like

Comments are closed.