Usaha Angkot di Semarang Semakin Terpuruk

Kondisi angkot Semarang semakin terpuruk dengan kehadiran BRT. Foto: metrosemarang.com/dok
Kondisi angkot Semarang semakin terpuruk dengan kehadiran BRT. Foto: metrosemarang.com/dok

SEMARANG – Keberlangsungan alat transportasi massal angkutan kota (angkot) kian terpuruk antara hidup dan mati. Selain lantaran perilaku warga yang lebih memilih menggunakan Bus Rapid Transit (BRT) dan kendaraan pribadi, kondisi fisik Angkot dinilai sudah usang dan tidak layak jalan.

Menurut data dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Semarang, setidaknya 20 persen dari seluruh Angkot di wilayah itu dalam kondisi tidak layak. “Jumlah seluruh angkot yang beroperasi di Kota Semarang ada sekitar 5.000 armada,” kata Kepala Seksi Angkutan Dishubkominfo Kota Semarang Suyatmin, Selasa (5/5).

Menurutnya, ketidaklayakan armada salah satunya dapat dilihat dari usia kendaraan telah melebihi batas yang dipersyaratkan, yakni maksimal 12 tahun untuk pengoperasian.

Suyatmin memberikan deadline kepada para pengusaha angkot hingga dua tahun mendatang untuk meremajakan armadanya, membadanhukumkan angkotnya serta rajin melakukan koordinasi dengan Organisasi Angkutan Darat (Organda).

Sesuai Permendagri nomor 101 tahun 2014 mengenai pemberlakuan subsidi bagi kendaraan umum orang dan barang dijelaskan bahwa setiap angkutan umum wajib berbadan hukum. Menurut Kabid Angkutan Darat Dinhubkominfo Jawa Tengah, Untung Sirinanto, saat ini baru 5 persen angkutan umum yang berbadan hukum di Jawa Tengah. (ade)

You might also like

Comments are closed.