Wahyudi, Setia Mematung Meski Hampir Buntung

Bisnis Patung di Semarang

Pada medio tahun 1969 hingga tahun 1970 an, taman-taman di Kota Semarang sangatlah populer. Pesanan patung untuk taman terus berdatangan

PENAMPAKAN rumah di tepi Jalan Lumpubatang Nomor 5 RT 3/RW V, Kaliwiru, Kecamatan Candisari cukup menonjol ketimbang rumah di sekitarnya. Patung-patung berjejer di depan serambi. Bentuknya beragam, mulai dari patung Bunda Maria hingga patung Buddha.

Suasana rumah tampak sepi. Beberapa kali kami mengetuk pintu dan memencet bel, namun tak ada tanggapan. Jendela rumah terbuka, kami melongok ke dalam, masih juga sepi. Hingga sejurus kemudian muncul seorang pria dari balik pintu.

Wahyudi, di dekat patung Buddha dan Bunda Maria buatannya yang dipajang di depan rumah, Jalan Lumpubatang Semarang. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Ialah Wahyudi, pria beumur 68 tahun, betubuh kurus dan tinggi, dengan sorot mata yang tajam. Telah puluhan tahun ia menggeluti usaha pembuatan patung di rumahnya itu.

Tak banyak pematung seperti Wahyudi, yang ada di Kota Semarang. Wahyudi adalah salah satu dari sebagian kecil pematung yang masih berkarya hingga saat ini. Bagi Wahyudi, eksistensinya terus ada dengan mengerjakan setiap pesanan yang datang padanya.

Wahyudi membuat patung dengan bahan campuran semen dan pasir, menggunakan kerangka besi. “Kebiasaan saya adalah selalu membuat polanya dulu, baru mmebentuk dalam adonan semen. Seperti itu,” ia menuding pola guratan patung Gajahmada yang ada di dinding rumahnya.

 

Semula Hanya Magang

Wahyudi mulai mematung pada tahun 1967 silam. Mula-mula, ia adalah pekerja magang di tepat salah satu dosen kesenian di Jakarta. Di sanalah ia tertarik dan belajar tentang seni patung.

Dari Jakarta, dengan modal pas-pasan dari hasil jerih payahnya, ia pindah ke Kota Pelajar, Yogyakarta. Di kota itulah ia menempa kecakapannya sebagai seorang pematung. Suka-duka ia lalui di kota itu, hingga akhirnya Wahyudi memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Semarang, agar lebih dekat dengan keluarganya.

Di rumahnya di Kaliwiru, Wahyudi tetap dengan semangatnya menggeluti bisnis patung. “Awalnya saya mendapat pesanan bikin patung untuk hiasan taman di Semarang,” ceritanya.

Pada medio tahun 1969 hingga tahun 1970 an, taman-taman di Kota Semarang sangatlah populer. Pesanan patung untuk taman terus berdatangan kepada Wahyudi. Masa itu bisa dibilang masa keemasan pematung di Semarang.

“Pada masa itu, banyak ahli-ahli taman bermunculan dan dipercaya mendesain taman kota dan mempercantik ruang terbuka hijau. Banyak pula pejabat dan orang gedongan yang suka patung untuk dijadikan hiasan taman di depan rumah, atau dipajang sebagai pemanis taman perkotaan,” kata Wahyudi.

Setelah masa-masa itu, Wahyudi mampu mnegukuhkan dirinya sebagai seorang pematung yang mahir. Ragam jenis dapat ia buat sesuai pesanan. Pesanan patung sebesar truk hingga sekecil mainan anak-anak dapat ia buat dengan dibantu beberapa tukang.

Wahyudi mengerjakan pesanan patung ayam jago di lantai dua rumahnya. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

 

Setia Mematung

Setelah masa itu, kondisi menurun. Bisnis Wahyudi hampir-hampir buntung. “Ahli-ahli taman sudah hilang, berganti generasi. Pembuat taman sekarang banyak yang beralih menjadi pedagang bunga. Ini karena pesanan untuk membuat taman sudah tidak ada lagi,” kata Wahyudi.

Namun ia tak beralih. Di tengah situasi yang tak menentu, Wahyudi tetap setia membuat patung. Ia bilang, rezeki tak akan lari ke mana. Setiap bulan, pesanan masih saja ada. Dalam tahun 2018, Wahyudi menerima 15 pesanan patung berbagai jenis.

Ketika kami menemui Wahyudi, ia baru saja merampungkan patung Gajahmada yang tingginya mencapai tiga meter. Kata Wahyudi, patung Gajahmada ini adalah pesanan dari seorang pendeta di Semarang bernama Agus Sutikno.

Agus ini cukup dikenal karena penampilannya yang bisa dibilang nyentrik dengan rajah memenuhi hampir seluruh tubuhnya. Wahyudi mematok pesanan Agus dengan harga Rp 24 juta. Ia mengerjakannya dalam waktu dua bulan.

“Patung Gajahmada itu saya antarkan ke rumahnya (rumah Agus –red) di Cinde Gang I. Beratnya sampai tiga ton. Mas Agus pesan karena kebetulan lewat sini dan mampir, lalu minta dibuatkan patung Gajahmada. Mas Agus orangnya baik, saya terkesan dengan dia,” kata Wahyudi.

Bapak tiga anak itu menghayati pembuatan patung sebagai seni yang adi luhung. Maka dari itu, Wahyudi tak pernah menyia-nyiakan pesanan yang datang kepadanya. Dari ragam patung yang ia buat, ada beberapa yang membekas di hatinya.

Salah satunya adalah patung dewa setinggi enam meter pesanan konglomerat asal Manado, Sulawesi Utara. Untuk pesanan satu ini, ia butuh bantuan enam tukang agar dapat selesai dalam tiga bulan.

Ada pula patung lebah seharga Rp 80 juta hasil pesanan dari pengelola taman wisata di Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung. “Yang paling berkesan itu sewaktu bikin patung Kendedes, Gajahmada dan tentunya patung Bunda Maria,” kata Wahyudi.

Enggak tahu kenapa, lanjut Wahyudi, berkah setelah membuat patung-patung itu begitu luar biasa. “Banyak job yang terus mengalir. Makanya ketika menjelang Paskah seperti saat ini, saya berharap juga mendapat orderan membuat patung-patung Maria,” ujarnya.

Biasanya setiap mendekati Paskah, ia rutin menggarap pesanan dua patung Maria. Ukurannya sesuai permintaan dari pengelola gereja. Namun kini situasinya sangat sepi.

Wahyudi menolak anggapan bahwa sepinya pesanan patung yang datang padanya dipicu penolakan sekelompok ormas atas patung yang berdiri di sejumlah daerah. Menurut Wahyudi, membuat patung itu pantang diliputi rasa takut.

“Yang menolak hanya orang-orang yang enggak suka. Biarkan saja. Buktinya masih banyak yang cinta sama patung. Brimob-brimob Polda Jateng masih sering pesan kemari kok. Dan tidak pernah diprotes,” paparnya.

Wahyudi tidak pernah takut membuat patung, karena baginya patung adalah mahakarya. Seperti candi-candi Borobudur dan Prambanan. Ia berharap seni patung bisa dilestarikan di Semarang. Pemerintah Kota Semarang diharapkan dapat menghargai jerih ayah para pematung seperti dirinya. (*)

 

 

Comments are closed.