Warak Ngendog Simbol Pluralisme Masyarakat Semarang

Warak Ngendog di Taman Pandanaran dinilai melenceng dari orisinalitas bentuk aslinya. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono
Warak Ngendog di Taman Pandanaran dinilai melenceng dari orisinalitas bentuk aslinya. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

SEMARANG – Warak Ngendog memang identik dengan Kota Semarang. Namun, sangat disayangkan ketika banyak yang tidak paham dengan bentuk maupun filosofi yang terkandung di dalam binatang rekaan yang konon merupakan perpaduan dari tiga budaya ini.

Seniman Semarang, Djawahir Muhammad dalam sebuah tulisannya pernah mengungkapkan keprihatinannya terhadap perubahan bentuk Warak Ngendog yang saat ini sangat beragam modifikasinya. Padahal, sejatinya Warak Ngendog memiliki filosofi luhur bagi manusia.

Menurut Djawahir, penulis ‘Semarang Riwayatmu Dulu’, Amen Budiman menyebut bahwa Warak Ngendog merupakan binatang rekaan yang bentuk tubuhnya mewakili entitas budaya Jawa, Tionghoa dan Islam. Bentuk warak disebut punya relasi dengan karakteristik orang Semarang.

“Sudut yang lurus itu analog dengan pencerminan sikap dan perilaku wong Semarang yang lurus (tidak berbelit-belit), terbuka (apa adanya, tanpa basa-basi), dan egaliter (tidak mementingkan kasta atau formalitas),” tulis Djawahir.

Sementara, bentuk tubuh warak juga mencerminkan alkurturasi budaya berbagai etnis yang menghuni Kota Semarang. Kepala bersudut lurus menyerupai kambing (Jawa), leher yang jenjang menyerupai leher unta (Arab) dan badan dengan proporsi tubuh menyerupai kilin (Tiongkok). Bulu-bulunya keritng seperti gibas (wedus gembel), mulutnya menyeringai seperti singa atau naga, kepala bertanduk seperti tanduk kambing.

Dari sisi filosofis kata warak konon diambil dari kosakata bahasa arab wara’a atau wara’I yang artinya berpantang: berpantang makan minum dan menurut hawa nafsu alaumah (iwwamah) khususnya pada bulan Ramadan (warak hanya dijual pada perayaan dugder Semarang menjelang Ramadan). Telur atau endog yang terletak pada ekornya warak ngendog bermaksud menggambarkan pahala (imbalan) bagi meraka yang berhasil melalui pantangan-pantangan itu dengan baik.

Menurut Djawahir, Warak Ngendog sejatinya merupakan alat peraga atau media pendidikan untuk mengenalkan ajaran agama dan moralitas, yang utamanya ditujukan bagi anak-anak. “Jadi warak bukan hanya merepresentasikan spirit pluralisme dan multikulturalisme, melainkan  juga mengusung makna simbolik masyarakat Semarang yang religius islami,” kata dia.

Sayang, dalam beberapa tahun terakhir, orisinalitas bentuk Warak Ngendog sudah memudar. Saat ini sangat mudah dijumpai warak berkepala naga, singa, barongsai, dan bentuk lainnya. Djawahir pun mengkritik bentuk patung Warak Ngendog yang berada di Taman Pandanaran.

“Kepala Warak harusnya berbentuk kotak. Selain itu, kakinya seharusnya lurus, bukan mengangkang seperti yang dapat dilihat sekarang di Taman Pandanaran,” ujarnya. (twy)

You might also like

Comments are closed.