Warga Resah, Kera Tinjomoyo Cari Makanan hingga ke Permukiman

METROSEMARANG.COM – Memasuki pergantian musim menuju kemarau, setidaknya 20 kera ekor panjang bermunculan di rumah-rumah warga Semarang. Kemunculan kawanan kera mula-mula dilihat warga yang tinggal di Pawiyatan Luhur, Gajahmungkur, tepatnya di sekitar Gedung Pastoran Unika Soegijapranata, pada Senin (2/4).

Seekor kera terlihat muncul di Jalan Pawiyatan Luhur. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Kawanan kera yang muncul sempat membuat warga panik. Agus, penjaga Pastoran mengaku hampir saban hari memergoki kawanan kera menyelinap masuk ke dalam gedung.

“Kalau siang-siang pasti banyak kera muncul di sini. Misal pukul 12.00 siang tadi, kurang lebih 20 kera bergerombol di halaman pastoran. Mereka naik ke genteng-genteng, malahan beberapa kali sempat mau masuk lewat pintu belakang, untungnya sudah saya kunci rapat,” kata Agus.

Ia mengatakan banyaknya kera yang muncul saat siang bolong sempat membuatnya resah. Pasalnya, selain merusak tanaman warga, ujar Agus, gerombolan kera juga dikhawatirkan menjarah makanan.

“Wong pas nyelonong masuk pastoran aja kue keranjangnya milik Romo Budi pernah dicuri beberapa kera. Makanya, biar enggak terulang lagi, setiap ada kera pintu-pintu saya tutup rapat,” ungkapnya, seraya menambahkan bahwa Romo Budi yang ia maksud tak lain adalah Pastor Aloys Budi Purnomo yang menjabat sebagai Kepala Reksa Pastoral Unika.

“Sudah sebulan terakhir Mas, hampir setiap hari muncul di sini. Biasanya kera-kera yang asalnya dari Tinjomoyo cari makan sampai ke rumah warga,” sahut Nina, warga lainnya.

Suparno, penjaga hutan wisata Tinjomoyo menyatakan kawanan kera yang kerap masuk rumah warga itu kemungkinan karena kehabisan bahan makanan di dalam hutan.

Terlebih lagi, menurutnya saat ini sudah memasuki musim kemarau. “Dari pengamatan saya saban hari, kera-kera kalau turun ke rumah-rumah warga selalu kehabisan makanan. Jumlahnya ada 200 ekor. Itu kan asalnya dari Hutan Tinjomoyo,” tuturnya.

Iis Harmoko, Kasi Data dan Informasi, Stasiun Klimatologi Klas I, BMKG Kota Semarang mengungkapkan bahwa dari siklus anomali cuaca yang terpantau pada citra satelit BMKG, sejumlah wilayahnya diperkirakan sudah ada yang memasuki musim kemarau pada awal April 2018.

Ada yang kemarau mulai April, Mei maupun Juni. Untuk Semarang sendiri masuk kemarau bulan ini.

“Itu merupakan siklus dasarian 3. Artinya terlebih dulu akan mengalami masa peralihan atau pancaroba. Untuk setiap daerah berbeda masuk musim kemaraunya, sehingga masa peralihannya juga berbeda,” tandasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.