Warga Semarang Kini Bayar Makanan Pakai Plastik

METROSEMARANG.COM – Perang terhadap limbah plastik rupa-rupanya tak hanya dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Di Semarang, sejumlah warga bahkan rela mengurangi limbah plastik secara kontinyu.

Caranya, warga yang tinggal di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang menerapkan aturan jika tiap orang yang makan di warung setempat wajib membayar memakai plastik. Kok bisa?

Suyatmi dan Sarimin, pasutri pemilik kantin sampah inilah yang membuat aturan tersebut. Mereka mengaku perlu melakukannya karena tinggal di tumpukan sampah Jatibarang. “Saya dibantu pengelola TPA sejak Januari 2016,” aku Suyatmi saat ditemui di kampungnya, Senin (14/3).

Kantin Gas Metana di kawasan Jatibarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Kantin Gas Metana di kawasan Jatibarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Lantas bagaimanakah sistem dagang di kantin sampah? Suyatmi menjelaskan bila tiap pembeli di warungnya harus membawa sampah plastik untuk ditimbang dan diharga tiap kilogram. Plastik kresek dan botol-botol plastik yang sudah tak terpakai pun laku ditukar makanan. “Satu kilonya Rp 400,” katanya.

Jika ingin makan kenyang, tiap pembeli harus membayar 20 kilogram sampah plastik atau setara dengan nilai Rp 8000. Selama ini, pembeli menghabiskan ongkos makan Rp 6.000-Rp 8.000.  “Ya kurang lebih 20 kilogram,” sambungnya.

Usai dibayar memakai plastik, ia biasanya menjual kembali ke pengepul. Pengepul lalu mendaur ulang plastik-plastik tersebut. “Banyak pemulung juga nabung di sini,” sahut Sarimin.

Warung sampah milik pasutri tersebut dinamai ‘Kantin Gas Metana’. Transaksi seperti ini, kata dia, kini membawa keuntungan sendiri. Sebab, ia bisa meraup untung 2 kuintal plastik atau mencapai Rp 1,5 juta sebulan. (far)

You might also like

Comments are closed.