Warga Tambakaji Meninggal Misterius, Diganggu Makhluk Gaib Proyek Tol?

METROSEMARANG.COM – Suratinah sedang mengunjungi makam putra kesayangannya, pada Selasa (27/3) siang. Kedua matanya menerawang jauh saat melintasi Jalan Raya Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan Semarang.

Proyek tol Batang-Semarang yang melintas kawasan Tambakaji Ngaliyan. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Saat ditemui metrosemarang.com siang itu, Suratinah tak bisa menutupi kesedihannya usai Nafi Yahya Nursati, putranya meninggal dunia pada 7 Maret kemarin.

Dia masih ingat bette ketika untuk kesekian kalinya melewati jalan raya tersebut. Jalan Tambakaji kini telah berubah menjadi ruas jalan tol Batang-Semarang untuk seksi IV wilayah Ngaliyan.

Kendaraan proyek tol terpantau wira-wiri di lokasi tersebut untuk mengebut pembangunan jalan tol yang menghubungkan Pantura barat dengan Kota Semarang.

“Anak saya merupakan orang keempat yang meninggal akibat pembangunan jalan tol ini. Tiga orang Februari kemarin, terakhir ya 7 Maret anak saya itu,” ungkapnya dengan logat Jawa kental.

Suratinah menjelaskan putranya meninggal akibat menghindari gundukan tanah proyek tol saat naik sepeda motor dekat rumahnya. Jarak antara kampungnya Bringin Kulon, RT 03/RW IV, dengan proyek tol sendiri hanya selemparan batu. “Meninggalnya di ujung tol sana itu,” sambungnya.

Namun, ia menganggap rentetan kematian yang dialami anaknya serta tiga warga lainnya, sangat janggal. Pasalnya, tiga orang meninggal tanpa sebab yang jelas.

“Siangnya sempat azan di masjid, eh Pak Jupri tiba-tiba meninggal pas salat,” katanya sembari menunjuk Masjid Baitul Mugsafirin.

Tolak Bala

Menurutnya peristiwa aneh yang menimpa warganya akibat gangguan makhluk gaib. Karenanya, Suratinah bersama warga lainnya Jumat pekan kemarin memilih menggelar doa tolak bala.

Doa tolak bala itu digelar di Masjid Mugsafirin, tempat Jupri, seorang imam masjid meninggal mendadak.

“Di situ kita mengadakan doa bersama. Karena proyek tol selama ini malah memakan korban. Itu terjadi sejak awal proyek dikerjakan,” imbuh Nur Qosim, warga Kampung Bringin Barat Tambakaji yang jadi takmir Masjid Mugsafirin.

Ritual tolak bala diharapkan dapat menjauhkan warga dari gangguan gaib. Qosim mengatakan jumlah warga yang mati misterius tak main-main. Sejak jalan tol yang melewati kampungnya dibangun sejak setahun terakhir sampai saat ini, ia menyebut terdapat sembilan warga yang meninggal misterius.

“Kemungkinan ada kawasan mistis yang dilewati tol. Dan memang nyatanya kena proyek tol juga. Daerah mistisnya berupa hutan di muara Kali Sepepe. Sunganya bentuknya kecil tapi dikenal angker sekali. Setiap Selasa kliwon, ada ular besar lewat di situ atau penampakan sekumpulan bebek beberapa kali sempat dilihat warga,” bebernya.

Saking angkernya, ia mengungkapkan tak ada satupun warga yang berani menjamah kawasan Kali Sepepe. “Sejak dulu menurut kepercayaan kami, tidak boleh dirusak. Karena keramat sekali,” katanya.

Akibat perilaku pengelola proyek tol Batang-Semarang yang sembrono, banyak kejadian janggal yang menimpa warga. “Kadang ada warga hanya minta kerokan kemudian besoknya meninggal. Malam-malam kerja goreng-goreng (makanan) hilang nyawanya juga,” cetusnya.

Parahnya lagi, kejadian misterius pun menimpa para pengguna jalan yang melintasi Jalan Tambakaji dekat proyek tol itu. Diakuinya, ada sebuah keanehan saat sebuah mobil yang terparkir tiba-tiba gelondor dan terjun ke bawah jalan tol.

Di dekat terowongan jalan tol, kecelakaan kerap dialami pengguna jalan. “Banyak yang luka-luka akibat menabrak pembatas jalan di dalam terowongan,”.

Ia menyayangkan minimnya perhatian pengelola jalan tol sehingga menyebabkan kejadian tersebut terus terulang. “Selama ini tidak ada ritual slametan dari pihak tol. Ya akhirnya warga yang berinisiatif mengadakan doa tolak bala dengan sesaji nasi gudangan dan bubur abang putih. Semoga warga dijauhkan dari marabahaya,” tuturnya. (far)

You might also like

Comments are closed.