Warna-warni Kampung Tematik Semarang, Upaya Merawat Kota yang Semakin Tua

METROSEMARANG.COM – Kampung tematik lebih sekadar program untuk menyulap kawasan kumuh menjadi layak huni dan memiliki daya tarik. Program yang dicanangkan sejak akhir 2016 itu merupakan salah satu upaya melibatkan masyarakat untuk lebih berperan dalam merawat lingkungannya.

Workshop membatik di Kampung Alam Malon Gunungpati. Foto: metrosemarang.com/ade kristandi

Tahun lalu, Pemkot Semarang berhasil merancang kampung tematik sebanyak 32 titik dan akan dikembangkan menjadi 100 titik hingga akhir 2017. Diharapkan pada 2019 mendatang Kota Semarang benar-benar bebas dari kawasan kumuh.

Dalam beberapa kesempatan, Wali Kota Hendrar Prihadi berujar bahwa keberadaan kampung tematik bukan saja akan meningkatkan taraf perekonomian warga. Program ini juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Dengan kata lain, wali kota yang akrab disapa Hendi itu ingin melibatkan masyarakat dari lingkup kampung untuk bersama-sama menjaga dan merawat kota yang akan berusia 470 tahun pada 2 Mei mendatang.

Kampung Miroto menawarkan konsep alam sebagai paru-paru kota. Foto: metrosemarang.com/agil wibowo

Menurut arsitek perencana kota, Widya Wijayanti mengatakan, kampung tematik perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Menurutnya konsep kampung tematik baru akan terlihat hasilnya dalam lima tahun ke depan.

“Konsep ini belum tertata betul, ini kan baru awal program yang dilontarakan pemerintah kota untuk 4-5 tahun ke depan untuk pariwisata di Semarang,” kata dia kepada metrosemarang.com, belum lama ini.

Widya juga menambahkan jika kampung tematik bukan hanya menonjolkan aspek pariwisata. “Tapi juga bagaimana cara mengaktifkan kehidupan sosial ekonomi di kampung-kampung. Kita contoh saja Malang dan Surabaya yang menurut saya boleh dibilang cukup berhasil mendirikan kampung tematik ini,” paparnya.

Dia menambahkan ada 32 arsitek muda yang terlibat perencanaan kampung tematik, di mana tiap kecamatan ada dua orang arsitek yang saat ini sedang tahap mengidentifikasi dan memonitoring untuk disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat.

Menurut dia, kampung tematik akan menghasilkan output positif bagi masyarakat maupun lingkungan,yaitu terbentuknya kampung tematik berbasis pemberdayaan masyarakat dan perbaikan lingkungan, teredukasinya masyarakat untuk dapat memahami karakteristik wilayah, terpetakannya potensi dan permasalahan yang ada di wilayah.

“Selanjutnya mengidentifikasi potensi dan permasalahan lingkungan permukiman, serta membangkitkan semangat untuk mengembangkan diri sendiri dan wilayahnya,” imbuhnya.

Kampung Seni di Kelurahan Palebon menjadi daya tarik bagi penghobi selfie. Foto: metrosemarang.com/agil wibowo

Puluhan kampung tematik yang sudah terbentuk tersebut mengambil konsep alam, seni hingga UMKM. Di antaranya Kampung Jawi di Kalialang, Kampung Seni Palebon, Kampung Anggrek atau Kampung Miroto.

Sementara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga akan melakukan pendampingan untuk menyempurnakan konsep kampung tematik hingga bisa menarik minat wisatawan.

“Ada empat pilar yaitu apa yang dibeli, apa yang dilihat, apa yang dirasakan, dan apa yang dilakukan. Kampung tematik ini berlomba-lomba untuk menarik wisatawan bukan hanya semacam slogan saja namun bisa mendongkrak perekonomian warga,” papar Kepala Bidang Kelembagaan Disbudpar Kota Semarang, Hadi Susanto.

Disbudpar juga memberikan penyuluhan dan mendatangkan narasumber yang tepat di setiap kampung. “Dari 100 titik kampung tematik, pada 2017 sudah 32 titik dan di awal 2017 ini sudah tercipta sekitar 64 kampung tematik, sampai tahun 2018 nanti sudah bisa dinamakan kampung tematik,” ujarnya.

“Karena infentarisasi di kampung tematik belum berjalan, dalam arti sosialisai berapa persen tingkat pemahaman, berapa persen yang terlibat itu kendala kami untuk meningkatkan persentase keterlibatan masyarakat. Sesuai dengan tinjauan Wali Kota kampung tematik bukan milik perseorangan, diharapkan menjadi ikon kampung tersebut contohnya Kampung Batik,” tambahnya.

Dia menambahkan, bagi kecamatan yang telah sukses melakukan program kampung tematik ini, pihaknya akan terus mempromosikan kepada wisatawan yang berkunjung ke Semarang. (MG04)

You might also like

Comments are closed.