Warung Kopi, Tak Cukup dengan Kopi Enak Saja

Rahasia Mempertahankan Bisnis Gerai Minuman Kopi

Soal tempat usaha yang masuk gang atau jauh dari pusat keramaian, menurut Pepeng bukanlah masalah yang perlu dikhawatirkan. Jika kopi yang dijual enak, pasti akan didatangi

BELAKANGAN ini, warung, kedai, dan kafe yang menonjolkan kopi sebagai menu utama, menjamur di mana-mana. Di Kota Semarang, gerai-gerai minuman kopi dari yang menawarkan harga murah sampai mahal, bermunculan pusat kota, kampung-kampung kota hingga pinggiran kota. Yang paling kentara ada di sekitar di kawasan kampus-kampus perguruan tinggi.

Itu karena ngopi (minum kopi), kini identik dengan gaya hidup generasi millenials (generasi muda kelahiran 1980-an sampai 1990-an). Mahasiswa, bahkan sebagian dosen saat ini tergolong generasi langgas yang menggandrungi kebebasan tersebut. Mereka mencari tempat ngopi untuk sekadar menjadikannya sebagai tempat nongkrong ataupun sembari mengerjakan tugas sekolah dan kuliah. Praktis, gejala itu turut menyuburkan bisnis gerai-gerai minuman kopi.

 

Bisnis ini menghidupi mimpi-mimpi kami.
-Viviana, Manajer Keuangan Klinik Kopi-

Kendati begitu, tak semua tempat ngopi yang sedang tumbuh itu dapat bertahan. Beberapa hal terkadang luput dari perhatian pelaku usaha, saat menyusun rencana pendirian gerai minuman kopi ataupun saat menjalankan bisnis gerai minuman kopi.

Pepeng dan Viviana, suami-istri pemilik Klinik Kopi di Sleman, Yogyakarta, berbagi rahasia dapur gerai minuman kopi mereka. Bagi yang belum tahu, ini adalah tempat ngopi Rangga dan Cinta dalam film “Ada Apa Dengan Cinta 2” (AADC 2).

 

Tempat, Porsi Biaya Terbesar

Sabtu sore, 20 Oktober 2018, menjadi sore yang santai di Kopi Tulus, Jalan Kradenan Baru 1 Semarang. Firmansyah yang akrab dipanggil Pepeng, pun tampil santai dengan kemeja katun warna biru dan bercelana pendek. Ia berbagi pengalaman soal pengelolaan Klinik Kopi, di tempat itu. 

Kisah Pepeng dalam menggeluti bisnis kopi, bukanlah kisah yang mulus. “Sebelum ada Klinik Kopi, dulu saya hanya pembuat kopi panggilan di acara-acara. Pernah diundang bikin kopi di Semarang, pas acara orang meninggal. Terus ke kota-kota lain juga,’’ tuturnya.

Dari situ, dia berpikir untuk membuka warung kopi agar ada titik temu yang pasti antara pembuat kopi dengan pelanggan. Maka pada tahun 2013, dia bersama sang istri Viviana, memutuskan membuka warung kopi. Mereka masih ‘nebeng’ tempat di kawasan kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

‘’Waktu buka di sana belum punya mesin roasting. Beli kopi saja masih eceran. Tapi kok laku. Lalu berkembang dan bisa beli mesin roasting tahun 2014,” katanya kepada peserta diskusi. Mesin roasting itu masih dipakai sampai sekarang di Klinik Kopi.

Soal bisnis Pepeng yang berkembang itu, tak semudah kata-kata yang ia luncurkan dalam diskusi. Pepeng bilang, berbisnis warung kopi banyak tantangan. Salah satunya adalah soal tempat. Biaya terbesar dalam menggeluti bisnis warung kopi bukanlah alat atau belanja biji kopi, melainkan tempat.

kopi semarang
Pemilik Klinik Kopi dari Sleman Yogyakarta, Pepeng berbagi pengalaman dan tips kepada penggiat dan pengusaha warung kopi di Kota Semarang pada acara Kopi Diskusi di Kopi Tulus Jl Kradenan Baru 1 Semarang, Sabtu (20/10/2018). (foto: metrosemarang/ Anggun Puspita)

“Kita harus bisa memutuskan, mau sewa tempat untuk usaha tersebut, atau buka di rumah. Jika sewa maka harus menyiapkan dana yang besar,” urai Pepeng.

Menurutnya, sewa tempat adalah keputusan yang mahal. “Sewa tempat setahun itu tidak akan BEP (Break Even Point, titik impas). Sewa dua tahun, BEP tapi tipis. Sehingga, minimal harus sewa lima tahun,’’ lanjutnya.

Setelah beralih-alih tempat, pada 2015 Pepeng memindahkan Klinik Kopi di rumah tinggalnya. Dengan pertimbangan; jika di rumah pengembangan lebih mudah, konsep warung bisa diatur, termasuk untuk menambah meja dan kursi pengunjung.

“Kalau pindah-pindah, malah lebih susah karena harus branding lagi dari awal,” imbuhnya.

Soal tempat usaha yang masuk gang atau jauh dari pusat keramaian, menurut Pepeng bukanlah masalah yang perlu dikhawatirkan. Sebab jika kopi yang dijual enak, pasti akan didatangi. Pepeng sendiri hanya menjual kopi Nusantara yang disajikan tanpa gula dan rasa lain, di warungnya.

Pepeng berbagi kunci, salah satunya adalah keseriusan. Jika bisnis dikerjakan dengan serius, maka khalayak dipastikan akan tahu jika pengerjaannya serius. “Kemudian, akan gampang nyebar kalau ada kopi enak di sini atau di sana. Apalagi didukung manajemen yang bagus, dijamin (bisnis minuman kopi) akan berkembang dan bertahan,’’ katanya.

 

Publikasi

Pepeng menceritakan berkah besar yang didapatnya bersama Klinik Kopi, setelah penayangan film “Ada Apa Dengan Cinta 2” (AADC 2). Klinik Kopi masuk sebagai latar dalam satu adegan di film itu. Dampaknya, Klinik Kopi ikut booming bersama film yang ditonton lebih dari 3,6 juta orang itu. Warung kopi Pepeng tak hanya terkenal di kalangan penikmat kopi semata. Tapi juga semakin dikenal masyarakat luas.

Pada waktu yang nyaris bersamaan dengan peluncuran film AADC 2, tim program kuliner untuk televisi Asian Food Channel (AFC) juga meliput Klinik Kopi. Chef Marinka, sebagai pembawa acara menjajal kopi Nusantara racikan Klinik Kopi.

View this post on Instagram

Bertutur kami yakin, siapapun itu jika kalian udah ketemu petani kopinya, lalu kalian tahu rumah petani kopinya, lalu tahu detail sejarah kopinya, maka akan mudah untuk bercerita asal muasal kopi ini. Misal yg dalam frame ini , Mbak Marinka sedang mencicip kopi dari Sumatra Barat, kopi yg tumbuh tepatnya dari desa aie dingin solok Sumatra Barat. Kami bisa bercerita dari mana kopi ini berasal, kami bisa bercerita detail siapa yg mengelola perkebunan dan jual lewat koprasi mana..sebab emang kami pernah kesana hingga bisa menceritakan detail apa yg ditanya. Soal rasa ? pasien sendiri yg bisa mengambarkan dan mendiskripsikan.. Semakin banyak lokasi pohon kopi, maka kosakata kami soal bertutur juga akan lebih banyak. Semakin kami banyak jalan-jalan, maka akan semakin banyak jam libur kami…hahahaha

A post shared by klinikkopi (@klinikkopi) on

“Setelah masuk dalam adegan AADC 2, setiap hari minimal ada 60 pengunjung yang datang,” ujar Pepeng. Tak hanya film, pemasaran Warung Kopi juga terbantu oleh media. Termasuk media sosial.

“(Pemasaran) terbantu juga oleh media sosial dan followers yang menyebarkan informasi tentang Klinik Kopi,’’ imbuhnya.

 

Menabung Dulu, Makan Kemudian

Istri Pepeng yang didapuk sebagai ‘Menteri Keuangan’ Klinik Kopi, Viviana turut hadir dalam diskusi. Ia menegaskan pernyataan Pepeng bahwa bisnis kopi harus dilakoni secara serius. Menabung, bagi Viviana dan Pepeng sebagai pebisnis, adalah kebutuhan pokok. Tabungan bukan berasal dari uang sisa konsumsi atau belanja. Sebaliknya, menabung lebih dulu dan sisanya baru buat makan.

‘’Sering banget saya mendapat pertanyaan, ‘bagaimana agar warung kopi tidak bangkut dan bertahan?’ Jawabannya adalah, bukan hanya enak kopinya. Tapi pemasukan harus dikelola biar berkelanjutan,” katanya.

Bagi Viviana dan Pepeng, bisnis gerai minuman kopi dapat menghidupi kebutuhan sekaligus menjadi penggerak roda ekonomi mereka. “Bisnis ini menghidupi mimpi-mimpi kami,” katanya.

Maka itu mereka menjadikan pengaturan pendapatan yang masuk dan sumber daya yang dipunyai, sebagai kunci bisnis. “Manajemen yang bagus akan membuat usaha dapat bertahan dan memperbaiki apa yang sudah kami punya,’’ jelasnya.

Sementara itu, penyelenggara diskusi sekaligus pemilik Kopi Tulus, Muhammad Reza Kurniawan menyampaikan, alasan pihaknya menyelenggarakan acara tersebut adalah untuk berbagi kepada penggiat dan pengusaha warung kopi.

‘’Sekarang ini kan banyak orang mau bikin warung kopi tapi minim budget. Nah, tips-tips dan pengalaman dari Mas Pepeng ini harapannya dapat memotivasi mereka yang punya rencana membuka warung kopi, asalkan dikelola serius,’’ tuturnya.

Selain itu, imbuh dia, melalui acara ini dapat terjalin keakraban antar penggiat ataupun pengusaha warung kopi dari yang besar hingga yang rumahan. Sebab, persaingan antar pebisnis warung kopi itu tidak ada, karena masing-masing punya pasar sendiri. Semakin banyak warung kopi, semakin mudah penikmat kopi mencari kopi yang sesuai dengan selera dan kantong mereka. (*)

 

Reporter: Anggun Puspita
Editor: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.