Wopanco, Kiprah Ibu Rumah Tangga Dalam Seni Rupa

- Seni Lukis Ragam Media

Mereka ingin melawan pandangan kebanyakan orang tentang sosok perempuan. Dimana perempuan belum sepenuhnya lepas dari stigma hanya sebagai pengurus rumah tangga

TAS, cangkir, kerudung, payung, celengan dan beberapa perabotan tertata apik di Rumah Popo, salah satu bangunan tua yang berada di Jalan Branjangan, Kawasan Kota Lama, Semarang. Tak hanya ditata, barang-barang itu pun tak tampil polosan, melainkan sarat polesan.

 

Kami ingin pendapat kami didengar.
– Ratri Cipta Hening, Ketua Wopanco –

Barang-barang itu menjadi media lukis, tempat macam-macam cat, bentuk dan ornamen diaplikasikan. Pembuatnya adalah beberapa ibu rumah tangga di Kota Semarang. Mereka membentuk Woman Painter Community (Wopanco), untuk mewadahi gairah ibu-ibu rumah tangga di Kota Semarang yang berkecimpung dalam dunia seni rupa.

Kanvas lukis bukanlah keharusan. Barang-barang siap pakai seperti peralatan dan perlengkapan keseharian dipakai para anggota Wopanco untuk mengeksplorasi kebisaan mereka. Barang-barang yang telah berhias lukisan itu elok pula dijadikan koleksi.

Barang-barang indah yang ada di Rumah Popo itu dipajang dalam rangka pameran. Ini adalah pameran pertama Wopanco, yang digelar sejak Jumat (07/12/18) siang sampai Minggu (09/12/18). Pameran yang disebut-sebut minim persiapan, lantaran Wopanco sebagai komunitas penggeraknya sendiri baru berumur satu bulan.

perempuan pelukis
Tas lukis karya salah satu anggota Wopanco. (foto: metrosemarang/Efendi)

“Kami baru terbentuk 3 November 2018 lalu, baru sebulan,” kata Ketua Wopanco, Ratri Cipto Hening usai pembukaan pameran itu.

Menurut Ratri, mereka bertujuan mengumpulkan para wanita pelukis untuk berkarya bersama. Mereka ingin unjuk diri kepada masyarakat, menyatakan bahwa perempuan juga memiliki sisi lain di luar kegiatan mengurus rumah tangga. Mereka ingin melawan pandangan kebanyakan orang tentang sosok perempuan. Dimana perempuan belum sepenuhnya lepas dari stigma hanya sebagai pengurus rumah tangga.

Mereka menolak citra-citra yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Mereka juga menolak eksploitasi suara perempuan. Saat ini, hal itu masih terjadi. Perempuan hanya dilihat tubuhnya saja, bukan pemikiran dan pendapatnya.

“Ide awal kami membentuk komunitas ini adalah untuk mengumpulkan semua perempuan pelukis di Kota Semarang. Kami ingin pendapat kami didengar. Jargon kami adalah paint, sharing dan empowering,” kata Ratri.

Menambah wawasan tentang seni rupa menjadi salah satu misi perkumpulan ini. Caranya, dengan saling berbagi ilmu antar sesama anggota komunitas. Di dalam kelompok tersebut seni lukis diaplikasikan pada macam-macam media yang beragam jenis materialnya. Itulah yang membuat wawasan dalam dunia seni mereka lebih luas.

Paint merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para anggota komunitas. Sharing, yakni berbagi sesama anggota seputar dunia lukis mulai dari teknis hingga non teknis. Empowering adalah dalam berkumpul itu mereka berupaya saling memberdayakan. Dalam hal ini, merujuk ke kegiatan bisnis, dimana karya-karya mereka dipasarkan secara bersama-sama.    

“Memang ada banyak pelukis perempuan di Kota Semarang yang sebelumnya sudah bergerak sendiri-sendiri. Adanya komunitas ini, maka kita bisa bergerak bersama dan saling mendukung. Dengan begitu kami jadi semakin kuat dalam menunjukkan sisi lain seorang perempuan,” imbuh Ratri.

 

Satu-satunya di Semarang

Saat ini anggota Wopanco masih berjumlah 22 orang. Semuanya merupakan ibu-ibu rumah tangga yang berumur kisaran 35 hingga 48 tahun. Pintu komunitas ini masih terbuka lebar untuk menerima anggota baru. Terpenting calon anggota haruslah perempuan yang bersentuhan dengan seni lukis. Soal usia dan media lukis yang digunakan, tak akan jadi soal.

Ratri sendiri melukis menggunakan media siap pakai. Seperti sarung bantal, mukena, kerudung dan lainnya. Ia memulai debutnya sebagai seorang pelukis sejak tahun 2012. Perempuan lulusan Teknik Arsitektur Universitas Soegijapranata itu menjadikan seni lukis sebagai bentuk ekspresi diri.

perempuan pelukis
Pameran pertama Wopanco di Rumah Popo, Kawasan Kota Lama Semarang. (foto: metrosemarang/Efendi)

Lewat lukisan, ia menyampaikan gagasan-gagasan yang ada di dalam pikirannya. Gagasan-gagasan yang tak bisa disampaikan melalui kata. “Melukis adalah cerita. Bisa tentang apa saja, seperti lingkungan, kota, tentang perasaan dan pikiran kita. Karya lukis bagi saya merupakan visualisasi pikiran yang membantu kita untuk menyalurkan suara maupun mengenalkan diri,” kata Ratri.

Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Kota Semarang (Dekase), Gunawan mengapresiasi terbentuknya Wopanco. Menurutnya, hal itu berguna untuk menambah warna dalam dunia seni rupa di Kota Semarang.

“Wopanco ini sepertinya adalah satu-satunya komunitas painter perempuan di Semarang. Saya sangat mengapresiasi dan ini bisa menjadi bagian kekayaan seni rupa di Kota Semarang,” kata Gunawan.

Ia terkesima dengan, pameran perdana yang diselenggarakan oleh Wopanco. Menurutnya, itu adalah pameran yang menarik dan luar biasa, mengingat persiapannya yang sangat singkat.

“Ini hebat sekali. Komunitas yang baru terbentuk satu bulan, sudah langsung menyelanggarakan pameran. Karyanya pun juga nggak main-main, ini bagus semua karyanya. Mungkin itu bedanya dengan seniman laki-laki. Kelenturan ibu-ibu yang hebat dalam mengoordinir egonya. Sekali kumpul saja mereka bisa menyelenggarakan pameran,” kata Gunawan.

Ia menaruh harapan pada komunitas ini, agar mampu menyentuh ruang-ruang seni yang lain, termasuk kampus-kampus. Hal itu untuk memicu pergerakan generasi yang lebih muda.

“Saya pengen mereka sering muncul, tidak hanya di tempat seperti ini, tapi di wilayah seni murni. Kalau bisa masuk kampus, itu bagus. Mereka juga bukan berpola pikir pabrik, tapi santai dan produktif. Mereka tidak takut karyanya akan laku atau tidak. Mereka luar biasa berani,” tukas Gunawan.

Dalam penjualan karya, anggota Wopanco telah memiliki pasar masing-masing. Dari yang ada di Pulau Jawa hingga luar Pulau Jawa. Namun itu bukan yang terpenting. Bagi anggota komunitas ini, berkarya itu sendiri adalah yang paling penting.

“Intinya kami nggak mau terpatok, harus ini harus itu. Tapi ada sisi lainya yang lebih kaya, lebih berwarna, lebih bermanfaat,” pungkas Ratri. (*)

 

Reporter: Efendi
Editor: Eka Handriana

 

You might also like

Comments are closed.