Wow, Dari Taman Diponegoro Ternyata Bisa Melihat Lautan

Taman Diponegoro, ruang terbuka hijau yang sudah berusia satu abad lebih. Foto Metrosemarang/MS-08
Taman Diponegoro, ruang terbuka hijau yang sudah berusia satu abad lebih. Foto Metrosemarang/MS-08

JIKA kita melintas di Jalan Sultan Agung menuju ke Jalan Diponegoro maupun Jalan Kawi, kita akan melewati sebuah taman di tengah persimpangan. Taman Diponegoro namanya. Taman ini bukan sekadar taman, melainkan bagian dari sisa sejarah pendudukan Pemerintah Hindia Belanda di Semarang. Taman ini dirancang oleh arsitek ternama di masanya, Herman Thomas Karsten.

Taman Diponegoro ini dulunya disebut Raadsplein, dengan berbentuk persegi panjang. Konsep Raadsplein hampir sama seperti taman­taman di Perancis tempo dulu, di mana di tengah taman terdapat plaza berbentuk bulat dan bersumbu dari Utara ke Selatan.

Dibuatnya taman ini merupakan bagian dari pemekaran kota dan pembangunan kawasan permukiman baru di daerah Semarang atas, atau yang dinamakan Candi Baru, pada tahun 1906. Pembangunan taman sendiri dilaksanakan tahun 1916. Keberadaan taman ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana kota kebun (city garden). Seratus tahun kemudian, konsep city garden inilah yang menginspirasi Pemkot Semarang untuk membangun ruang terbuka hijau di beberapa lokasi.

Dulu dari taman ini, penduduk setempat bisa menikmati pemandangan laut dari atas. Namun seiring dengan semakin padatnya pemukiman di kawasan ini membuat laut tak lagi tampak. Di sekitar Raadsplein terdapat berbagai fasilitas umum yang masih berdiri hingga saat ini, seperti Elizabeth Ziekenhuis (Rumah Sakit Elizabeth), Ooglijdershospital (Rumah Sakit Mata William Both), sekolah dan gereja. Keberadaan fasilitas­fasilitas umum ini dimaksudkan untuk menunjang kehidupan di kawasan pemukiman baru, yang tersebar di Jalan S. Parman, Jalan Diponegoro dan Jalan Sultan Agung.

Sejak dulu hingga sekarang, hampir tidak ada perubahan pada taman ini selain ukurannya yang tampak lebih kecil karena pembangunan trotoar di sekitar taman. Tanaman yang tumbuh di taman ini pun sebagian besar telah ditanam sejak Karsten menciptakannya. Selain tanaman dan rerumputan, di taman ini juga tersedia tempat duduk untuk bersantai menikmati hijaunya dedaunan. (ren)

You might also like

Comments are closed.