Yuk, Belajar Berani Jujur di Kios Ini

kantin jujur
Kios Kejujuran di Kampung Bergota ini menantang pembeli untuk berani jujur. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

 

METROSEMARANG.COM – Ada yang berbeda jika Anda melintas di sudut Jalan Dr Kariadi, Kampung Bergota RT 3 RW 6 Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan. Anda akan dibuat penasaran dengan sebuah warung kelontong berukuran 4×6 tepat di dalam rumah bernomor 531.

Toko tersebut dalam kondisi sepi alias tidak ada tanda-tanda aktifitas seorang penjual. Padahal, barang yang dijualnya pun cukup beraneka ragam, dari makanan kecil, minuman, hingga kebutuhan sehari-hari.

Sesekali hanya  terlihat segerombolan anak kecil masuk ke dalam warung tersebut. Mereka masuk dan langsung mengambil minuman didalam kulkas yang berada di dalam toko. Setelahnya, mereka memasukkan sejumlah uang ke dalam kotak kaca di tengah-tengah meja.

Usut punya usut, ternyata kios tersebut bukan tidak sengaja dibiarkan dalam keadaan sepi. Tempat ini memang dibiarkan tanpa penjual, sehingga pembeli dilatih untuk mandiri dan berani jujur.

Mengusung konsep dan diberi nama “Kios Kejujuran”, tempat tersebut memang sengaja didesain untuk melatih serta berpesan kepada pembeli agar selalu bersikap jujur. Sejumlah slogan-slogan bermuatan pendidikan kejujuran pun menghiasi dinding toko tersebut. Di antaranya,”Ambil dan Bayar Sesuai Harga”, “Tidak Jujur Dicatat Malaikat”, “Ojo Ngapusi, Ayo Hidup Jujur”, dan “Jujur, Murah dan Nikmat”.

“Kios ini memang sengaja dibiarkan dan tidak dijaga  untuk melatih masyarakat bersikap jujur. Kalau mau beli ya tinggal ambil aja, pakai uang pas dan dimasukkan ke kotak,” kata Nyonya Suroto, warga setempat, yang dipasrahi untuk mengelola Kios Kejujuran tersebut, Kamis (17/9).

Meski demikian, saat ditanya siapa pemilik Kios Kejujuran tersebut, Nyonya Suroto hanya mengatakan kios tersebut adalah milik salah seorang pejabat tinggi kejaksaan yang saat ini bertugas di Jakarta. Ia juga enggan menjelaskan lebih detail tentang pemilik kios tersebut.

“Pemiliknya di Jakarta. Saya hanya dipasrahi untuk merawat saja. Kalau pagi tugas saya membuka kios mulai jam 8, tutupnya jam 6 sore,” imbuhnya.

Menurut Nyonya Suroto, awalnya kios kejujuran tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan para penghuni kos. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat tertarik dan ikut membeli.

“Ini sudah berjalan lima bulan. Awalnya saya sempat ragu, nanti kalau tidak pada bayar gimana. Tapi ternyata bisa dibilang sukses, meski ada beberapa yang tidak membayar,” beber wanita yang tinggal tak jauh dari kios kejujuran.

Hingga saat ini, kios kejujuran masih terus berjalan. Uang hasil penjualannya pun selalu digunakan Nyonya Suroto untuk kembali membeli barang-barang yang akan dijual, meskipun kadang justru merugi.

Secara rutin pemilik kios pun juga selalu melakukan pengecekan terhadap toko miliknya itu. Bahkan tak jarang ia kembali mengeluarkan biaya untuk membeli barang-barang yang telah habis diambil tanpa membayar.

“Pelan-pelan tapi pasti. Sikap jujur itu sebuah keharusan yang harus dimiliki manusia. Mungkin bisa dimulai dari sini,” tandas Suroto. (yas)

You might also like

Comments are closed.