Zubaedi, Mengabdi untuk Kandri

Zubaedi Foto: metrosemarang.com/ade lukmono
Zubaedi
Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

KELURAHAN Kandri memiliki kearifan lokal yang luar biasa, dari alam, hasil bumi, ritual lokal dan lain-lain. Dengan dibangunnya Waduk Jatibarang dan ditetapkannya Desa Wisata Kandri, kearifan tersebut dirasa sangat perlu untuk dikembangkan lebih lanjut.

Adalah Zubaedi, pemuda asal Kandri yang getol berkomunikasi dengan pemerintah dan stake holder untuk mengembangkan potensi yang dimiliki desanya. Tiga tahun belakangan, efek positif dirasakan warga Kandri secara langsung. Ratusan juta rupiah dari wisatawan langsung berputar dan masuk kantong warga Kandri yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga.

Berikut ini wawancara metrosemarang.com dengan sosok yang akrab disapa Edi, tentang perjuangannya menghidupkan Kandri dan harapannya untuk desa wisata tersebut.

 

Bagaimana perjalanan Kandri menuju Desa Wisata?

Sejak dibangunnya mega proyek Waduk Jatibarang dan diresmikan pada Desember 2012 lalu, warga memiliki keinginan untuk ikut bergabung. Namun disadari masyarakat, akan terjadi seleksi dan tidak akan menampung semua. Oleh karena itu warga didorong pemerintah membentuk Desa Wisata.

Apa perbedaan antara sebelum dan sesudah adanya Waduk Jatibarang dan Desa Wisata Kandri?

Perbedaannya sangat signifikan. Dulu sebelum adanya Desa Wisata, kegiatan ritual tahunan seperti Sesaji Rewanda, Nyadran Kali, Wayangan dan lain-lain hanya dinikmati warga sekitar. Namun setelah adanya Desa Wisata, para wisatawan berdatangan dari luar kota, bahkan mancanegara.

Selain paket wisata alam, adakah yang Anda tawarkan di Desa Wisata Kandri?

Kami sedang mengembangkan wisata edukasi bagi anak-anak sekolah. Anak sekolah kami ajarkan untuk bercocok tanam dan langsung turun ke sawah. Menanam, memanen, mengolah hingga membawa pulang hasil olahannya sendiri.

Bagaimana Anda memasarkan produk-produk Wisata Desa Kandri hingga tersohor seperti sekarang?

Awalnya hanya melalui mulut ke mulut. Hingga ada inisiatif untuk mengunggahnya di Facebook dan tersebar ke beberapa sekolah yang kemudian memiliki minat untuk wisata edukasi.

Bagaimana tanggapan pemuda Kandri dengan datangnya ribuan wisatawan?

Pemuda sangat antusias. Kami sebagai pegiat merekrut pemuda yang belum bekerja untuk mendapat pelatihan dari pegiat lain dan pemerintah.

Dari awal ditetapkannya Desa Wisata Kandri, berapa pengunjung yang berwisata di Desa Wisata Kandri?

Pada 2013 lalu, ada sekitar 1.700 pengunjung, pada 2014 lalu ada 2.000 pengunjung. Sampai awal Desember 2015, kami sudah menampung 500 wisatawan dan sudah memiliki pesanan hingga ratusan calon wisatawan.

Jika dihitung secara nominal, berapa kira-kira yang didapat Desa Wisata Kandri dari kunjungan wisatawan?

Dengan jumlah pengunjung sekitar 2.000 tiap tahun, kami mendapat sekitar Rp 300 juta yang langsung berputar di warga Kandri.

Nilai kepuasan apa yang Anda dapat dalam pengembangan Desa Wisata Kandri?

Nominal bukan satu-satunya yang kami harapkan, melainkan kepuasan batin bagi kami para pegiat wisata dan warga Kandri. Setidaknya Desa Wisata Kandri lebih unggul dibanding Desa Wisata lain di Semarang yang paling ramai. (ade)

 

Nama: Zubaedi (Edi)

TTL: Semarang, 1 April 1975

Pendidikan Terakhir: SMK Grafika

You might also like

Comments are closed.