Digitalisasi Energi, Pertamina Patra Niaga Hadirkan QRIS di Pembelian Elpiji 3 Kg: Lompatan Menuju Energezing Indonesia

METROSEMARANG.COM, Semarang – Di ujung gang kecil di kawasan Pekunden, Semarang Tengah, sinar matahari baru saja menembus celah atap seng pangkalan gas milik Budiningsih Kromoprawiro, Selasa (8/10).
Seperti biasa, antrean tabung hijau melon berjejer di depan toko kecilnya. Namun kali ini, pemandangan sedikit berbeda.
Seorang pelanggan muda datang dengan telepon genggam di tangan. Tanpa membuka dompet, ia mengarahkan kamera ke sebuah stiker di dinding bertuliskan “Bayar Elpiji 3 Kg Pakai QRIS”. Dalam hitungan detik, transaksi selesai.
“Sudah, Bu, masuk ya saldonya,” katanya Meisya, 20, sambil tersenyum.
Meisya adalah pelanggan Pangkalan milik Budiningsih. Ia adalah penjaga kios PKL Batan Miroto yang ada di seberang pangkalan.
“Lebih mudah, ndak perlu kembalian. Dan memang sekarang untuk transaksi lebih sering menggunakan QRIS,” imbuhnya.
Budiningsih, sudah 20 tahun mengelola pangkalan Elpiji. Bahkan sejak konversi minyak tanah ke gas LPG.
“Awalnya saya bingung, tapi ternyata mudah. Anak muda sekarang sukanya cepat, nggak ribet uang kembalian,” ujar Budiningsih sembari merapikan tabung gas.
Dari gang sederhana itulah, sebuah langkah besar menuju energi digital Indonesia sedang dimulai.
Dari Pangkalan ke Platform Digital
Kisah Budiningsih adalah satu dari ribuan pangkalan di Kota Semarang yang kini ikut dalam pilot project digitalisasi pembayaran Elpiji 3 Kg bersubsidi melalui sistem QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Langkah inovatif ini digagas oleh Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Tengah dan DIY bekerja sama dengan Bank Indonesia, dan resmi dimulai pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI.
“Kami sengaja memilih momentum itu, karena kami ingin menunjukkan semangat kemandirian dan transformasi. Energi bukan hanya soal bahan bakar, tapi juga efisiensi dan keadilan,” ungkap Taufiq Kurniawan, Area Manager Communication & Relation Pertamina Patra Niaga Regional Jateng dan DIY.
Melalui penandatanganan piagam kesepakatan dengan Bank Indonesia, Pertamina Patra Niaga memulai uji coba penggunaan QRIS di 3.393 pangkalan Elpiji 3 Kg di Kota Semarang.
Taufiq mengungkapkan, rata-rata tercatat 87 ribu transaksi per hari dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,5 miliar per hari. Angka ini mencerminkan betapa besar potensi digitalisasi di sektor energi rakyat.
QRIS dipilih bukan tanpa alasan. Sistem ini mudah digunakan, bahkan di daerah yang sinyal internetnya lemah. Dengan kode QR statis, pembayaran dapat dilakukan tanpa mesin EDC.
Selain itu, Bank Indonesia memberikan kebijakan MDR (merchant discount rate) 0% untuk produk bersubsidi seperti LPG 3 Kg, sehingga pangkalan bebas biaya administrasi.
“Ini penting. Kami ingin pangkalan kecil di kampung-kampung pun bisa ikut digitalisasi tanpa terbebani biaya tambahan,” kata Taufiq.

Menjaga Harga, Menjamin Keadilan
Salah satu tujuan utama program ini adalah memastikan harga jual LPG sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Selama ini, perbedaan harga di lapangan kerap menjadi persoalan. Di beberapa wilayah pelosok, tabung LPG 3 Kg bisa dijual hingga Rp 30.000 – Rp 40.000 per tabung, jauh di atas harga semestinya.
Dengan pembayaran digital, setiap transaksi akan tercatat otomatis dalam sistem. Data itu membantu Pertamina memantau rantai distribusi, memastikan subsidi tidak bocor, dan harga tetap sesuai aturan.
“Kami ingin masyarakat mendapatkan kepastian harga dan keadilan subsidi. QRIS membantu kami mewujudkannya,” ujar Taufiq.
Namun, perubahan tidak selalu mudah.Pertamina menyadari, tidak semua masyarakat langsung siap berpindah ke transaksi digital.
Karena itu, selama masa uji coba, pembayaran tunai tetap dibuka, sembari edukasi dilakukan kepada pelanggan dan pemilik pangkalan.
Dukungan dari Bank Indonesia juga meliputi pelatihan literasi keuangan digital bagi para pemilik pangkalan.
“Kuncinya bukan memaksa, tapi membimbing. Kami ingin perubahan ini inklusif, menyentuh semua lapisan masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut Taufiq menjelaskan, digitalisasi LPG 3 Kg membawa efek domino yang signifikan.
Bagi masyarakat, transaksi lebih cepat, aman, dan transparan. Sementara bagi pangkalan, pencatatan keuangan lebih rapi, bebas dari risiko uang palsu atau salah hitung.
Dan lebih luas untuk negara menjadikan distribusi subsidi lebih akurat, kebocoran bisa diminimalisir.
Kini, data digital yang dihasilkan dari transaksi QRIS menjadi sumber informasi penting bagi Pertamina dan Bank Indonesia untuk menganalisis pola konsumsi energi masyarakat dan menyusun kebijakan subsidi yang lebih tepat.
Semangat Energezing Indonesia
Bagi Pertamina, digitalisasi LPG bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi bagian dari visi besar Energezing Indonesia.
Sebuah gerakan untuk menjadikan energi lebih efisien, transparan, inklusif, dan memberdayakan masyarakat.
“Kita ingin energi tidak hanya mengalir, tapi juga menggerakkan. Energi yang menghadirkan perubahan nyata,”
tuturnya dengan nada optimistis.
Transformasi ini juga sejalan dengan arah kebijakan nasional menuju cashless society — ekonomi tanpa uang tunai yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Setelah pilot project di Semarang, Pertamina Patra Niaga berencana memperluas program ke kabupaten dan pelosok Jawa Tengah serta DIY.
Meski baru sekitar 15 persen pangkalan yang aktif menggunakan QRIS, Pertamina yakin angka ini akan terus meningkat seiring dengan dukungan perbankan dan kesiapan infrastruktur digital.
“Kami ingin memastikan setiap pangkalan menjual dengan harga sesuai HET, dan setiap warga bisa membeli Elpiji dengan harga yang adil. Inilah langkah kecil dengan dampak besar,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng Rahmat Dwisaputra menjelaskan, implementasi program pembayaran digital menggunakan QRIS untuk pembelian LPG 3kg akan bisa memonitor dan mengawasi penjualan elpiji bersubsidi.
“Perluasan QRIS merchant untuk pembelian LPG Kg ini dengan tagline “Gas! QRIS-in Ajaa!” dilaksanakan secara pilot project di Kota Semarang dengan target sekira tiga ribu pangkalan LPG,” jelasnya.
Ia menjelaskan, omsetnya penjualan LPG 3kg sehari mencapai Rp27 miliar untuk Jawa Tengah dan DIY. Setahun bisa Rp9 triliun.
Pakar energi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jaka Windarta menilai peran digitalisasi sangat penting untuk memastikan ketepatan data penerima.
Dengan teknologi seperti QR code dan sistem by name by address, kebocoran subsidi bisa ditekan lebih signifikan.
“Sekarang kan sudah mulai ada sistem pendaftaran dan verifikasi digital, misalnya dengan pemindaian QR code. Jadi yang terdaftar bisa membeli, yang tidak ya tidak bisa,” katanya menegaskan.
Transformasi digital pembelian Elpiji 3 Kg bukan hanya soal teknologi, melainkan tentang membuka akses, membangun kepercayaan, dan menghadirkan keadilan bagi masyarakat kecil.
Energi yang tak hanya menerangi dapur rumah tangga, tapi juga menyulut semangat digitalisasi di setiap sudut negeri.
Energi yang menghubungkan, memudahkan, dan memberdayakan.Inilah langkah nyata Pertamina menuju Energezing Indonesia.***