Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Dikukuhkan sebagai Guru Besar PTIQ, Prof. Susanto Soroti Krisis Resiliensi Generasi Muda

Prof. Susanto resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas PTIQ Jakarta dalam prosesi yang digelar di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, pada 8 April 2026/dok

METROSEMARANG.COM, Depok – Momen pengukuhan Guru Besar Universitas PTIQ Jakarta dimanfaatkan Prof. Dr. Susanto, MA untuk menyoroti krisis ketangguhan mental (resiliensi) yang tengah melanda generasi muda.

Ia menegaskan, persoalan ini menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa dan perlu mendapat perhatian sistemik, khususnya melalui dunia pendidikan.

Prof. Susanto resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas PTIQ Jakarta dalam prosesi yang digelar di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, pada 8 April 2026.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Disrupsi Peradaban dan Krisis Resiliensi: Rekonstruksi Paradigma Pembelajaran Pendidikan Islam untuk Membangun Ketangguhan Mental Generasi”, ia menyoroti meningkatnya kerentanan mental di kalangan generasi muda di tengah derasnya arus disrupsi global.

Ia memaparkan, data global menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat satu dari tujuh remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental. Di Indonesia, sekitar 15,5 juta penduduk menghadapi persoalan kesehatan mental berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2024. Angka serupa juga terlihat di sejumlah negara lain seperti Singapura, Amerika Serikat, dan Inggris.

“Ini bukan lagi persoalan individu, melainkan ancaman sistemik terhadap masa depan bangsa,” tegasnya dalam orasi.

Dalam pidatonya, Prof. Susanto juga menyinggung istilah strawberry generation yang kerap dilekatkan pada generasi muda. Namun, ia menilai istilah tersebut kurang tepat karena bersifat generalisasi.

Sebagai gantinya, ia menawarkan konsep strawberry mentality, yakni kondisi mental yang cenderung rapuh, mudah menyerah, dan menghindari tantangan.

“Ini bukan soal generasi, tetapi mentalitas yang bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada individu dengan capaian akademik tinggi,” jelasnya.

Prof. Susanto mengingatkan, jika krisis resiliensi tidak segera ditangani, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor. Mulai dari menurunnya kualitas sumber daya manusia, meningkatnya burnout di dunia kerja, hingga melemahnya kepemimpinan dan daya saing bangsa.

Selain itu, kondisi ini juga berpotensi memicu meningkatnya gangguan kesehatan mental serta melemahnya kohesi sosial di masyarakat.

Dalam momentum pengukuhan tersebut, ia mendorong transformasi paradigma pendidikan dengan menjadikan resiliensi sebagai tujuan utama pembelajaran.

Beberapa langkah yang ditawarkan antara lain penguatan nilai spiritual seperti syukur, sabar, tawakal, dan ikhlas, penerapan pembelajaran berbasis tantangan, serta pendekatan productive failure yang menjadikan kegagalan sebagai bagian penting dari proses belajar.

Ia juga menekankan pentingnya perubahan sistem evaluasi pendidikan agar tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga menghargai proses dan usaha peserta didik.

Mengacu pada penelitian Robert Emmons dari University of California, ia menyebutkan bahwa rasa syukur memiliki keterkaitan erat dengan pencapaian tujuan hidup. Sementara studi Stanford University menunjukkan bahwa paparan keluhan berkepanjangan dapat berdampak negatif pada fungsi otak.

Menutup orasinya, Prof. Susanto menegaskan bahwa pengukuhan Guru Besar bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga momentum untuk memperkuat kontribusi nyata bagi peradaban melalui pendidikan.

“Jika kita gagal membangun resiliensi, kita akan mewariskan generasi yang rapuh. Namun jika berhasil, kita akan melahirkan generasi yang tangguh dan siap menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.***

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.