Belajar, Beribadah dan Bertumbuh di NPEC SMP Nasima 2025

METROSEMARANG.COM, KEDIRI- Di Pare, Kediri, matahari belum sepenuhnya terbit ketika para siswa SMP Nasima sudah bersiap di aula Kyarra Dormitory. Dengan semangat yang masih segar, mereka mengawali hari dengan doa dan shalat Subuh berjamaah sebelum masuk ke kelas pertama: Scripted Communication.
Inilah keseharian dalam Nasima-Pare English Camp (NPEC) 2025, program tahunan yang diikuti siswa SMP Nasima kelas VII. Selama 13 hari, mereka hidup di lingkungan asrama, jauh dari keluarga, namun dekat dengan teman-teman baru dan suasana belajar yang berbeda.
Kepala SMP Nasima, Yudina Tri Heryanti, S.Pd., MM., menjelaskan bahwa NPEC memang dirancang untuk memperkuat keterampilan bahasa Inggris sekaligus melatih kemandirian. Setiap jenjang mendapat fokus berbeda, sesuai kebutuhan siswa.
“Untuk kelas VII, orientasinya General English. Jadi anak-anak belajar mendengar, berbicara, membaca, menulis, sekaligus berkomunikasi dengan percaya diri,” katanya.
Sementara itu, bagi siswa kelas IX, NPEC menjadi pintu masuk untuk persiapan TOEFL. Sertifikat yang diperoleh bisa digunakan sebagai modal melanjutkan pendidikan tinggi maupun bersaing dalam dunia kerja.
“Harapannya, siswa punya bekal akademis yang diakui secara internasional, sekaligus mental yang siap bersaing,” tambah Yudina.
Bagi Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima, NPEC adalah investasi penting. Ketua pengurus, Dr. Indarti, M.Pd., menuturkan bahwa kegiatan ini sudah menjadi program wajib di jenjang SD, SMP, dan SMA.
“Bahasa Inggris penting, tapi yang tak kalah penting adalah karakter. Karena itu NPEC juga menekankan nilai kemandirian, religiusitas, dan kekompakan,” jelasnya.

Hari-hari di NPEC memang padat. Setelah kelas pagi, siswa mengikuti Speaking & Pronunciation, dilanjutkan Study Club dengan format debat interaktif. Malam harinya, mereka kembali berlatih Integrated Speaking sebelum menutup hari dengan shalat Isya berjamaah.
Meski lelah, banyak siswa justru merasa betah. Salah satunya Danish Maulana Ghossan, yang awalnya gugup karena kurang percaya diri berbahasa Inggris.
“Sekarang saya lebih nyaman. Belajarnya seru, tidak kaku, apalagi ada olahraga dan kegiatan ibadah bersama,” ujarnya sambil tersenyum.
Fasilitas Kyarra Dormitory juga memberi pengalaman berbeda. Lingkungan hijau, lapangan olahraga, hingga aula modern membuat para siswa merasa belajar sekaligus berlibur. Tak jarang, mereka memanfaatkan waktu luang untuk menelepon keluarga atau bercengkerama di taman asri.
Di sela-sela padatnya jadwal, siswa juga diajak mengenal budaya dan sejarah. Mereka mengenakan busana Jawa pada hari tertentu, dan menutup kegiatan dengan kunjungan ke Candi Tegowangi, warisan Kerajaan Majapahit di Pare.
Bagi para siswa, NPEC bukan sekadar kursus bahasa. Ia adalah perjalanan, tempat belajar sekaligus menemukan diri sendiri, serta pengalaman yang kelak akan mereka kenang sebagai bagian dari proses tumbuh menjadi generasi yang siap menghadapi masa depan.(eff)