Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Dari Rumah Sandi Dukuh ke Medan Siber: Jejak Sunyi Pejuang Sandi di Agresi Militer Belanda II

Kepala BSSN Nugroho Sulistya Budi memimpin Napak Tilas Persandian di Desa Dukuh Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa 31 Maret 2026/ist

METROSEMARANG.COM, Kulon Progo – Di balik hiruk-pikuk sejarah perang kemerdekaan, terdapat kisah sunyi para pejuang sandi yang menjaga rahasia negara.

Dari rumah sederhana di pelosok Yogyakarta tepatnya di Desa Dukuh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta,  jaringan komunikasi rahasia lintas negara, peran mereka menjadi kunci bertahannya Republik Indonesia saat Agresi Militer Belanda II.

Sekitar 80 tahun lalu, para prajurit sandi harus menembus medan berat, jalan tanah, hingga kondisi serba terbatas demi memastikan pesan rahasia dari pusat komando dapat sampai ke garis depan.

“Jangan dibayangkan seperti kondisi sekarang. Dulu mereka berjalan kaki di medan sulit, tapi tetap memastikan instruksi sampai. Itu menyangkut nasib perjuangan bangsa,” kata Kepala BSSN Nugroho Sulistya Budi disela-sela Napak Tilas Persandian di kawasan bersejarah Rumah Sandi Dukuh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (31/3/2026)

Rumah Sandi Dukuh: Pusat Rahasia di Balik Perang

Salah satu jejak penting perjuangan itu tersimpan di Rumah Sandi Dukuh, yang kini menjadi bagian dari Museum Sandi. Secara historis, lokasi ini merupakan kamar sandi darurat saat Belanda melancarkan serangan pada 19 Desember 1948 di Yogyakarta.

Kepala BSSN Nugroho Sulistya Budi saat berada di Rumah Sandi Dukuh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (31/3/2026)/metrosemarang

Ketika kantor Dinas Kode di Kotabaru diserang, para sandiman menyelamatkan diri ke arah barat, menuju Dekso untuk konsolidasi. Dari sana, mereka dibagi dalam berbagai misi strategis—mengikuti gerilya, mendampingi pimpinan militer, hingga membangun jaringan komunikasi rahasia.

Rumah milik warga bernama Mertoketomo di Dukuh kemudian dipilih sebagai basis operasi sandi. Dari tempat inilah berbagai pesan rahasia disusun, dienkripsi, dan dikirim ke berbagai titik penting perjuangan.

Situs ini tidak hanya menjadi tempat kirim-terima berita, tetapi juga berfungsi sebagai titik pemeriksaan (checkpoint) berlapis. Setiap orang yang hendak bertemu pimpinan militer seperti T. B. Simatupang harus melalui verifikasi ketat untuk memastikan loyalitasnya kepada Republik.

Peran Rumah Sandi Dukuh semakin krusial karena menjadi penghubung komunikasi antara markas di Banaran, Bukit Menoreh, dengan perwakilan Indonesia di luar negeri.

Setiap pesan yang bersifat rahasia terlebih dahulu disandikan sebelum dikirim melalui radio. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyadapan oleh pihak Belanda yang memiliki unit intelijen khusus yang aktif memonitor komunikasi Republik.

Dari Dukuh, pesan dikirim melalui jaringan radio berantai hingga ke Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatera Barat, bahkan sampai ke perwakilan Indonesia di luar negeri seperti New Delhi dan Singapura.

“Semua komunikasi harus dienkripsi. Kalau tidak, strategi perjuangan bisa terbongkar,” jelasnya.

Tak hanya soal teknologi dan strategi, perjuangan sandi juga sarat nilai integritas. Salah satu kisah datang dari seorang sandiman bernama Sediatmo yang mendapat tugas membawa dana perjuangan ke Jawa Barat.

Ia berjalan kaki dari Yogyakarta, melewati jalur-jalur aman yang dibuatnya sendiri karena jalan utama dikuasai Belanda. Tidak hanya membawa pesan rahasia Sudiatmo juga membawa uang untuk diserahkan kepada gubernur militer di Jawa Barat.

Perjalanan itu juga sekaligus membangun jaringan pos komunikasi rahasia yang menghubungkan Dukuh dengan wilayah lain, memastikan arus informasi tetap berjalan di tengah perang.

Nugroho menegaskan, jika dahulu perjuangan dilakukan di medan fisik, kini pertempuran berpindah ke ruang siber.

Ancaman seperti pencurian data, manipulasi informasi, hingga serangan sistem elektronik terjadi setiap hari.

BSSN pun terus memperkuat sistem keamanan dengan enkripsi modern (kriptografi), serta mendorong setiap instansi memiliki tim tanggap insiden untuk menghadapi serangan siber.

“Sekarang kita juga sedang berperang, tapi di ruang siber. Ancaman datang dari berbagai pihak, bahkan dalam konteks geopolitik global,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya tiga aspek utama keamanan informasi: kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan data, yang harus dijaga oleh seluruh elemen, baik pemerintah, swasta, hingga individu.

Rumah Sandi Dukuh menjadi saksi bisu bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan dengan senjata, tetapi juga dengan kecerdasan, ketelitian, dan pengorbanan para pejuang sandi.

Dari lorong sunyi persandian hingga jaringan digital modern, satu nilai tetap abadi: menjaga rahasia negara adalah bagian dari menjaga kedaulatan bangsa.***

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.