Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Kritik Swasembada Diperdebatkan, Data Bapanas Ungkap Cadangan Pangan Menguat

METROSEMARANG.COM, JAKARTA — Perdebatan mengenai klaim swasembada pangan kembali mencuat setelah muncul tudingan yang menyebut capaian tersebut sebagai “kebohongan”. Namun, sejumlah pihak menilai pernyataan itu tidak didukung data yang memadai dan berpotensi menyesatkan publik.

Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, H Muh Mabrur L Banuna, menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan pangan seharusnya berbasis data dan analisis yang kuat.

“Ini tanpa data, tanpa pijakan, jadi publik wajar curiga kalau narasi demikian beragenda swasembada terlihat gagal,” tegas Mabrur.

Ia juga menyoroti pernyataan pengamat Hukum Tata Negara Feri Amsari yang menyebut adanya “kebohongan swasembada”, sebagai opini yang tidak ditopang kajian berbasis data sektor pangan.

Mabrur menegaskan bahwa data resmi justru menunjukkan tren positif pada sektor pangan. Produksi beras nasional pada 2025 disebut mencapai sekitar 34,69 juta ton, mencerminkan peningkatan yang signifikan.

Selain itu, lembaga internasional seperti FAO dan USDA menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen beras terbesar di kawasan Asia.

Ia menilai, mengabaikan data tersebut dan menggantinya dengan narasi tanpa dasar dapat membuka ruang bagi distorsi informasi, bahkan berpotensi mendorong ketergantungan pada impor.

Sementara itu, penguatan sektor pangan juga ditegaskan oleh data resmi Badan Pangan Nasional (Bapanas). Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa kondisi pangan Indonesia berada dalam posisi siap, baik dalam skenario terjadi maupun tidak terjadinya El Nino.

“Ada atau tidak ada El Nino, program pangan harus dikembangkan. Tujuan kita adalah swasembada,” ujar Ketut melalui keterangan resminya.

Menurutnya, ketersediaan pangan nasional menunjukkan capaian progresif. Sejumlah komoditas strategis seperti beras, jagung, minyak goreng, daging ayam, dan telur dalam kondisi surplus sehingga tidak memerlukan impor.

“Carry over stock beras dari tahun lalu sangat bagus, 12,4 juta ton. Jagung juga. Minyak goreng kita surplus. Daging ayam kita produksinya surplus, telur juga,” jelasnya.

Cadangan Pangan Pemerintah Melonjak

Bapanas mencatat, kekuatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum puncak El Nino 2023.

Stok beras yang dikelola pemerintah kini mencapai sekitar 4,8 juta ton—tertinggi sepanjang sejarah. Angka ini meningkat sekitar 217 persen dibandingkan kondisi sebelum puncak El Nino 2023 yang hanya sekitar 1,52 juta ton.

Selain itu, stok jagung kini mencapai 196 ribu ton (sebelumnya nihil), daging ayam meningkat menjadi 27 ton (naik 69,4 persen). Kemudian Minyak goreng melonjak drastis hingga 87 ribu kiloliter (naik lebih dari 2.200 persen)

Menurut Ketut, peningkatan signifikan ini memperkuat kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan menghadapi potensi gangguan produksi akibat perubahan iklim.

“Artinya dengan kekuatan cadangan pangan, kita bisa mengendalikan harga. Kita harus meyakinkan stok CPP kita sangat bagus,” ujarnya.

Sebelumnya, Pakar Hukum dan Tata Negara Feri Amsari dalam sebuah diskusi publik mempertanyakan validitas klaim swasembada pangan. Ia menilai tidak ada lonjakan signifikan dalam produksi padi dalam periode tertentu.

“Data memperlihatkan tidak ada lonjakan panen padi. Kamuflase data seperti ini hanya akan merusak pemerintah kita,” ujarnya.

Pernyataan tersebut kemudian memicu respons dari berbagai pihak dan memperluas perdebatan di ruang publik.

Di tengah perdebatan, data pemerintah menunjukkan tren penguatan ketahanan pangan nasional.

Perbedaan pandangan dinilai tetap penting dalam demokrasi, namun harus disertai basis data yang akurat agar tidak menimbulkan disinformasi di tengah masyarakat.***

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.