Harga Ayam dan Cabai Turun, Jawa Tengah Catat Deflasi Pasca Idulfitri 1447 H

METROSEMARANG.COM, Semarang — Provinsi Jawa Tengah mencatat deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada April 2026. Kondisi ini menunjukkan harga kebutuhan masyarakat relatif terkendali setelah momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah.
Angka tersebut lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,57 persen (mtm). Sementara secara nasional, Indonesia masih mencatat inflasi sebesar 0,13 persen pada periode yang sama.
Penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama penyumbang deflasi di Jawa Tengah. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit.
Normalisasi permintaan masyarakat pasca-Lebaran disebut menjadi penyebab utama turunnya harga komoditas tersebut.
Selain bahan pangan, penurunan harga juga terjadi pada komoditas emas perhiasan seiring koreksi harga emas global. Tarif angkutan antarkota turut menyumbang deflasi setelah tingginya mobilitas masyarakat selama arus mudik dan balik mulai mereda.
Meski demikian, deflasi yang lebih dalam berhasil tertahan oleh kenaikan harga sejumlah komoditas lain. Di antaranya minyak goreng, angkutan udara, telepon seluler, laptop atau notebook, hingga makanan jadi seperti nasi dengan lauk.
Kenaikan harga minyak goreng dipicu meningkatnya harga kelapa sawit dan biaya produksi plastik kemasan akibat dampak konflik geopolitik di Timur Tengah.
Sementara itu, kenaikan harga nasi dengan lauk dipengaruhi meningkatnya biaya energi, terutama gas LPG, serta mahalnya bahan kemasan plastik.
Di sektor teknologi, inflasi dipicu naiknya harga telepon seluler dan laptop akibat kenaikan harga komponen elektronik global seperti chipset dan memori.
Secara tahunan (year on year/yoy), Jawa Tengah mencatat inflasi sebesar 2,11 persen pada April 2026. Angka ini lebih rendah dibanding inflasi nasional yang mencapai 2,42 persen serta menjadi salah satu yang terendah di Pulau Jawa.
Inflasi tahunan Jawa Tengah terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan dengan andil sebesar 0,63 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik global di kawasan Timur Tengah.
Selain emas, inflasi juga disumbang oleh kenaikan harga beras, daging ayam ras, minyak goreng, dan sigaret kretek mesin (SKM).
Di sisi lain, laju inflasi tertahan oleh turunnya harga bawang putih, bawang merah, cabai merah, kelapa, serta tarif angkutan antarkota.
Berdasarkan wilayah, sebagian besar kota dan kabupaten di Jawa Tengah mengalami deflasi bulanan. Deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Wonogiri sebesar 0,25 persen, disusul Kabupaten Wonosobo 0,23 persen dan Cilacap 0,21 persen.
Kota Surakarta mengalami deflasi 0,10 persen, Kota Tegal 0,09 persen, Purwokerto 0,07 persen, serta Kabupaten Rembang 0,07 persen.
Sementara itu, inflasi masih terjadi di Kota Semarang sebesar 0,17 persen dan Kudus sebesar 0,02 persen.
Untuk inflasi tahunan, seluruh kota IHK di Jawa Tengah masih mengalami kenaikan harga. Kota Tegal mencatat inflasi tertinggi sebesar 2,30 persen, diikuti Surakarta 2,27 persen, Cilacap 2,23 persen, dan Kota Semarang 2,19 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menegaskan pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas harga di Jawa Tengah.
“Program pengendalian inflasi terus dilakukan untuk memastikan kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang sehingga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (5/5/2026).***
Kata Kunci SEO:
inflasi Jawa Tengah 2026, deflasi Jawa Tengah April 2026, harga ayam turun, harga cabai turun, BI Jawa Tengah, inflasi Semarang, ekonomi Jawa Tengah, inflasi pasca Lebaran, harga pangan Jawa Tengah, Bank Indonesia Jateng, TPID Jawa Tengah, inflasi nasional April 2026