Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Angkat Wisata dan Ekonomi Lereng Gunung Prau, Patakbanteng Jadi Desa Bakti BCA Baru

– DESA WISATA- Vice President Corporate Social Responsibility BCA Nona Faletta Aryuni Sumanang (keenam dari kanan) bersama rekan-rekan media dan pengelola Desa Wisata Patakbanteng saat berbincang di tengah kunjungan di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Foto : Dok.BCA/metrosemarang.com

 

 

 

 

METROSEMARANG.COM, WONOSOBO – Desa Wisata Patakbanteng di Kabupaten Wonosobo resmi menjadi desa wisata binaan terbaru Bakti BCA. Desa yang berada di lereng Gunung Prau ini dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Patakbanteng sebelumnya masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Desa tersebut bahkan meraih Juara 1 kategori Resiliensi berkat komitmennya menjaga lingkungan serta keselamatan wisatawan.

Melihat potensi tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjalin kemitraan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk melakukan pembinaan lanjutan melalui program Bakti BCA. Langkah ini menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Indonesia.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan, Desa Patakbanteng memiliki karakteristik unik yang mampu menjadi daya tarik wisata unggulan. Karena itu, BCA berupaya memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu mengelola potensi desa secara berkelanjutan.

“BCA berkomitmen untuk meningkatkan daya tarik wisata dan mengakselerasi perekonomian lokal secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kami senantiasa mendorong setiap Desa Bakti BCA untuk menonjolkan karakteristik uniknya,” katanya.

Ditambahkan, melalui strategi pendampingan menyeluruh, mulai dari pembinaan, peningkatan kapasitas SDM hingga perluasan akses pasar, kami ingin memastikan seluruh desa binaan dapat naik kelas menjadi komunitas yang unggul dan berdaya.

Selain menjadi desa binaan baru, lanjutnya, Patakbanteng juga dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program Genera-Z Berbakti 2026. Program pengabdian masyarakat bagi mahasiswa tersebut akan menghadirkan tim pemenang yang tinggal dan menjalankan inovasi sosial di desa selama Juli 2026.

Desa Wisata Patakbanteng berada di kaki Gunung Prau pada ketinggian sekitar 2.565 meter di atas permukaan laut. Wilayahnya dikelilingi Gunung Pakuwaja, Dataran Tinggi Dieng, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing dengan suhu udara berkisar 15 hingga 25 derajat Celsius.

Pemandangan matahari terbit yang memukau serta akses pendakian yang relatif mudah menjadikan Patakbanteng sebagai jalur favorit pendaki Gunung Prau. Saat musim liburan panjang, jumlah kunjungan wisatawan dapat mencapai lebih dari 25 ribu orang.

Sepanjang tahun 2025, desa tersebut mencatat lebih dari 122 ribu kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Angka itu menjadikan Patakbanteng sebagai salah satu desa wisata terpadat di kawasan Dieng.

Untuk menunjang kebutuhan wisatawan, masyarakat menyediakan berbagai fasilitas mulai dari penginapan, cabin, penyewaan perlengkapan outdoor, warung makan hingga pusat oleh-oleh. Saat ini terdapat sekitar 13 homestay dan cabin yang dikelola warga dengan tarif antara Rp250 ribu hingga Rp1 juta per malam.

Wisatawan yang berkunjung juga dapat menikmati berbagai paket wisata unggulan. Di antaranya Banteng Jeep Adventure yang menawarkan pengalaman menjelajahi perbukitan Dieng menggunakan kendaraan off-road serta Wisata Edukasi Carica yang mengenalkan budidaya dan pengolahan buah khas dataran tinggi Dieng.

Selain itu, masyarakat rutin menggelar Festival Gunung Prau setiap Agustus. Festival tersebut menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus promosi pariwisata yang menampilkan berbagai kesenian tradisional dan potensi lokal.

Tak hanya kaya akan panorama alam, Patakbanteng juga dikenal sebagai desa yang masih menjaga tradisi leluhur. Salah satu tradisi yang terus dilestarikan adalah Baritan Terang Bulan yang digelar setiap bulan Suro pada malam ke-10 penanggalan Jawa.

Tradisi tersebut menjadi bentuk ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat desa. Kegiatan itu masih mendapat partisipasi aktif dari warga lintas generasi.

Patakbanteng juga memiliki Tari Patak Lengger yang menjadi identitas budaya masyarakat setempat. Tarian tersebut rutin ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat maupun festival budaya sebagai simbol kegembiraan, kebersamaan, dan rasa syukur.

Potensi ekonomi desa turut ditopang oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengolah komoditas khas Dieng. Produk manisan carica menjadi salah satu oleh-oleh paling diminati wisatawan karena memanfaatkan buah endemik yang hanya tumbuh di dataran tinggi.

Selain carica, warga juga mengembangkan minuman herbal berbahan purwoceng atau yang dikenal sebagai “Ginseng Jawa”. Produk tersebut banyak dicari wisatawan karena dipercaya mampu menghangatkan tubuh, meningkatkan vitalitas, dan membantu melancarkan peredaran darah.

Komoditas unggulan lainnya adalah kentang khas Dieng yang memiliki tekstur pulen dan kadar air rendah. Kentang tersebut diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti keripik kentang, kentang mustofa, hingga aneka camilan yang menjadi sumber pendapatan masyarakat.

Melalui pembinaan Bakti BCA, potensi wisata, budaya, dan UMKM di Patakbanteng diharapkan semakin berkembang. Kehadiran program tersebut sekaligus membuka peluang bagi desa untuk menjadi destinasi wisata berkelas yang mampu memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat setempat. (eff)

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.