Metro Semarang
Kabar Semarang Terbaru Hari Ini

Hadapi Ancaman El Nino dan Kekeringan, BI Jateng Perkuat Strategi Jaga Inflasi Pangan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho/metrosemarang

METROSEMARANG.COM, Semarang– Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi El Nino dan kekeringan yang dapat mengganggu produksi serta pasokan pangan dan berujung pada kenaikan inflasi.

Antisipasi tersebut menjadi bagian dari strategi BI bersama pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga, khususnya komoditas pangan strategis yang rentan terdampak perubahan cuaca.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho mengatakan, risiko gangguan produksi pangan akibat perubahan cuaca perlu diantisipasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi tekanan inflasi.

“Berbagai risiko tetap perlu dicermati, termasuk antisipasi dampak El Nino terhadap inflasi pangan,” kata Mohamad Noor Nugroho dalam Media Briefing Kantor Perwakilan BI se-Jawa Tengah, di Hotel Amandaru Pekalongan, Kamis 13 Agustus 2026.

Menurut dia, ketahanan pasokan menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas harga ketika terjadi gangguan produksi akibat kekeringan.

BI bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun 35 kabupaten/kota terus memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut.

Upaya menghadapi risiko El Nino juga dilakukan melalui kajian dan asesmen ekonomi. BI Jateng melakukan riset dan quick survey untuk memperdalam isu terkini, termasuk antisipasi dampak El Nino terhadap inflasi pangan.

Hasil kajian tersebut menjadi salah satu bahan dalam memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah daerah.

Pendekatan berbasis data tersebut diharapkan membuat langkah pengendalian inflasi lebih terukur, terutama untuk komoditas pangan yang sensitif terhadap perubahan cuaca.

BI juga terus mendorong peningkatan produktivitas pangan sebagai bagian dari penguatan ketahanan pasokan dalam jangka panjang.

“Menghadapi risiko El Nino dan kekeringan tidak cukup hanya dengan melakukan operasi pasar ketika harga sudah naik,” jelasnya.

Pengendalian inflasi perlu dilakukan secara end-to-end, mulai dari produksi, ketersediaan pasokan, distribusi hingga komunikasi kepada masyarakat.

Karena itu, sinergi BI, pemerintah daerah, TPID, pelaku usaha, BUMD, petani dan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting.

Ke depan, BI Jateng akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketahanan pangan di tengah potensi perubahan pola cuaca.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat Jawa Tengah.

Dengan ancaman El Nino dan kekeringan yang berpotensi menekan produksi pangan, penguatan pasokan, KAD, distribusi dan sistem peringatan dini menjadi benteng BI Jateng dalam menjaga inflasi pangan tetap terkendali.

Strategi 4K Jadi Kunci

Mohamad Noor menjelaskan, pengendalian inflasi dilakukan melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.

Strategi tersebut tidak hanya digunakan ketika harga pangan sudah mengalami kenaikan, tetapi diarahkan untuk memperkuat struktur pasokan dan distribusi sejak awal.

Dalam menghadapi potensi El Nino dan kekeringan, aspek ketersediaan pasokan menjadi perhatian penting.

Upaya dilakukan melalui peningkatan produktivitas komoditas pangan strategis, penguatan kerja sama antardaerah serta memastikan distribusi pangan dari wilayah surplus menuju wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.

BI juga mendorong penguatan outlet pangan dan BUMD sebagai offtaker, sehingga hasil produksi petani dapat terserap sekaligus membantu menjaga kesinambungan pasokan.

Perkuat Kerja Sama Antar Daerah

Salah satu strategi yang terus diperkuat adalah Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antara wilayah yang memiliki surplus pangan dengan daerah yang mengalami defisit.

Skema tersebut menjadi penting ketika produksi di suatu wilayah terganggu akibat faktor cuaca, termasuk kekeringan.

Dengan konektivitas pasokan antardaerah, kebutuhan masyarakat di wilayah yang mengalami kekurangan dapat dipenuhi dari daerah lain yang masih memiliki ketersediaan komoditas.

Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan harga ketika produksi pangan lokal mengalami penurunan.

Selain menjaga pasokan secara langsung, BI Jateng juga memperkuat pemanfaatan data untuk mengantisipasi gejolak harga.

Digitalisasi data diarahkan untuk membangun early warning system, sehingga potensi gangguan pasokan dan kenaikan harga dapat diketahui lebih cepat.

“Penguatan dan digitalisasi data untuk early warning system menjadi bagian dari upaya pengendalian inflasi,” jelas Mohamad Noor.

Sistem peringatan dini tersebut menjadi semakin penting di tengah risiko perubahan iklim yang dapat memengaruhi produksi sejumlah komoditas pangan strategis.

Dengan informasi yang lebih cepat, pemerintah daerah dan TPID dapat menentukan langkah intervensi sebelum gangguan pasokan berdampak lebih besar terhadap harga di tingkat konsumen.

Inflasi Jateng Masih Terkendali

Upaya tersebut turut menopang stabilitas harga di Jawa Tengah. Pada Juli 2026, inflasi Jateng tercatat 2,60 persen (yoy).

Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,88 persen.

Meski demikian, BI tidak ingin lengah karena tekanan inflasi pangan dapat meningkat apabila terjadi gangguan produksi dan distribusi.

“Pengendalian inflasi tidak hanya untuk merespons gejolak harga dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur pasokan dan distribusi,” ujar Mohamad Noor.***

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.