BYD M6 DM-i Jadi Jembatan Transisi Menuju Era Kendaraan Listrik Penuh

METROSEMARANG.COM, Semarang – BYD memperluas pilihan kendaraan elektrifikasi di Indonesia melalui teknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Salah satu model yang membawa teknologi tersebut adalah BYD M6 DM-i.
Teknologi DM-i ditawarkan sebagai salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin beralih menuju kendaraan listrik penuh atau battery electric vehicle (BEV), tetapi masih menghadapi keterbatasan infrastruktur pengisian daya.
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan BEV tetap menjadi visi utama BYD dalam pengembangan kendaraan elektrifikasi.
Namun, menurutnya, proses menuju elektrifikasi penuh membutuhkan tahapan karena kesiapan infrastruktur pengisian daya dan tingkat adopsi kendaraan listrik belum merata.
“Kalau kita tetap pada visi kita bahwa sebenarnya kendaraan elektrifikasi full itu adalah kendaraan BEV,” kata Luther saat menjelaskan teknologi elektrifikasi BYD di GIIAS Semarang 2026, Rabu (30/9/2026).
Luther menjelaskan, tantangan transisi kendaraan listrik salah satunya berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur pengecasan, terutama di luar kota-kota besar.
“Kita mengerti dalam proses transisinya beberapa hal memang masih perlu proses, khususnya di infrastruktur pengecasan. Kemudian adopsi kendaraan listrik juga tidak mudah, khususnya di luar kota-kota besar,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan BYD menghadirkan teknologi DM-i yang mengombinasikan sistem penggerak listrik dengan mesin bensin.
Teknologi tersebut memungkinkan kendaraan tetap mengandalkan baterai dan motor listrik, sementara mesin bensin memberikan fleksibilitas ketika pengisian daya tidak mudah dilakukan.
“Untuk itu kita memperkenalkan di sini DM-i. Dia mengombinasikan antara kendaraan listrik dengan kendaraan bensin,” tuturnya.
Luther mengatakan sistem tersebut dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan tenaga listrik. Keberadaan mesin bensin sekaligus memberikan fleksibilitas bagi pengguna ketika melakukan perjalanan jauh.
“Untuk menjawab infrastruktur pengecasan yang belum komplet, kita buat dia bisa mengecas sendiri melalui pengisian bahan bakar,” katanya.
Menurut Luther, karakter DM-i berbeda dengan sistem hybrid konvensional. Kapasitas baterai dan torsi yang besar membuat pengalaman berkendara diklaim lebih mendekati kendaraan listrik.
“Dia memang mempunyai baterai yang besar, torsinya besar, sehingga pengalaman berkendaranya juga berbeda dengan hybrid yang biasa,” ujarnya.
M6 DM-i Sasar Kendaraan Keluarga
BYD M6 DM-i menjadi salah satu produk yang membawa teknologi tersebut ke segmen kendaraan keluarga.
Model ini menawarkan alternatif bagi konsumen yang membutuhkan kendaraan berkapasitas besar sekaligus ingin mulai menggunakan teknologi elektrifikasi tanpa sepenuhnya bergantung pada stasiun pengisian kendaraan listrik.
M6 DM-i juga diarahkan untuk kebutuhan perjalanan dalam kota maupun antarkota. Kondisi infrastruktur pengisian daya yang belum merata menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan teknologi PHEV tersebut.
“Ini adalah solusi dengan harga yang menurut saya merupakan kendaraan paling murah yang pernah ada di Indonesia dan bisa digunakan sekarang,” kata Luther.
Selain sistem penggerak, BYD juga membekali kendaraan dengan berbagai fitur keselamatan dan bantuan pengemudi atau Advanced Driver Assistance System (ADAS).
Luther menyebut fitur tersebut menjadi bagian dari perubahan kebutuhan konsumen kendaraan keluarga yang kini tidak hanya mempertimbangkan kapasitas penumpang.
“Ekspektasinya ini menyamai fitur-fitur kendaraan premium, dan dengan adanya sistem ini kita bisa menjawab fitur-fitur esensial plus dari kendaraan, bukan hanya sekadar MPV biasa,” ungkapnya.
Produksi BYD di Indonesia Capai 150 Ribu Unit per Tahun
Luther mengatakan BYD M6 DM-i saat ini telah memasuki proses produksi dengan tiga varian.
Kehadiran model tersebut menjadi bagian dari strategi BYD memperluas pilihan kendaraan elektrifikasi di Indonesia, mulai dari BEV hingga PHEV.
Teknologi tersebut juga diperkenalkan kepada konsumen Jawa Tengah melalui GIIAS Semarang 2026 yang berlangsung pada 30 September-4 Oktober 2026 di Muladi Dome Universitas Diponegoro.
Pameran tersebut diikuti 19 merek kendaraan, terdiri atas 18 merek mobil dan satu merek sepeda motor. Sebanyak 12 merek mobil di antaranya membawa kendaraan listrik.
Menurut Luther, Jawa Tengah memiliki potensi dalam perkembangan kendaraan elektrifikasi karena kebutuhan mobilitas masyarakat tidak hanya berada di kawasan perkotaan.
“Juga tidak mudah khususnya di luar kota-kota besar. Nah untuk itu kita memperkenalkan di sini DM-i,” katanya.
Di sisi produksi, BYD juga terus meningkatkan kapasitas manufaktur kendaraan di Indonesia. Fasilitas produksi BYD di dalam negeri disebut memiliki kapasitas hingga sekitar 150.000 unit kendaraan per tahun atau sekitar 12.000 unit per bulan.
“Jadi kapasitas kita bisa sampai 150 ribu setahun, kurang lebih 12 ribu sebulan,” tutur Luther.
Produksi lokal tersebut juga diikuti peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Sejumlah komponen produk BYD yang diproduksi di Indonesia disebut telah memiliki kandungan lokal lebih dari 40 persen, bahkan ada produk yang mencapai 47 persen.
“Sudah memang benar-benar buatan lokal. Ada yang sampai 47 persen,” tegasnya.
Luther menambahkan, penguatan produksi lokal menjadi bagian dari komitmen BYD terhadap perkembangan industri kendaraan elektrifikasi di Indonesia.
“Kita komitmen dengan harga yang sudah kita bawa ke Indonesia. Tidak ada perbedaan produksi di sini dan kondisi impor,” pungkasnya.***